• Latest
  • Trending
  • All
  • Pariwisata
  • Uncategorized
  • Nasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Bali
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Travel
  • Hukum
  • Olahraga
  • Peristiwa
  • Kesehatan
  • Edukasi
Putri Wartini

Pancasila Jadi Benteng Degradasi Karakter Anak di Era Gadget

4 bulan ago
ILUSTRASI. -BALITOPIK.COM

Soal Upah 2027, Buruh Minta Semua Dewan Vocal Bicara

11 detik ago
Ketua Federasi Serikat Pekerja Mandiri (FSPM) Regional Bali, Ida Idewa Made Rai Budi Darsana saat memimpin aksi buruh beberapa waktu lalu. IST

Buruh Bali Harap Koster Berani Naikkan UMP Bali 2027 Rp5,2 Juta

2 jam ago
Solidaritas Jurnalis Bali saat menggelar doa bersama di Monumen Bajra Shandi. -PFI Denpasar

Jurnalis Bali Gelar Doa untuk 8 Rekan yang Hilang di Laut menuju Krakatau

19 jam ago
Penyidik Polresta Denpasar mengamankan para pelaku pengeroyokan di mes proyek pembangunan PT Tunas Jaya, Banjar Sawangan, Kelurahan Benoa, Kecamatan Kuta Selatan, Badung. -IST

Pengeroyokan di Mes Proyek Benoa, 6 Orang Jadi Tersangka

20 jam ago
TIM SAR saat lakukan evakuasi jenazah korban. -IST

Terpeleset Saat Mancing, Pemuda Jember Tewas di Sungai Imam Bonjol

2 hari ago
Proses evakuasi jenazah WNA Australia yang jatuh dari tebing Kelingking Beach. -IST

WNA Australia Tewas Jatuh dari Tebing Kelingking Beach

2 hari ago
Gubernur Bali Wayan Koster saat membongkar villa liar di kawasan Hutan Desa Pejarakan. -BALITOPIK.COM

Tak Masuk RKPS, Koster Bongkar Vila di Hutan Desa Pejarakan

2 hari ago
PUPR Badung saat merapikan kabel utilitas di sepanjang ruas Simpang Mengwi–Simpang Abiansemal. -IST

PUPR Badung Pangkas Kabel Tak Terpakai di Jalur Mengwi-Abiansemal

3 hari ago
  • Home
  • Bali
    • Peristiwa
    • Travel
  • Nasional
    • Politik
    • Pendidikan
    • Hukum
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Opini
  • Teknologi
  • Lifestyle
    • Entertainment
  • World
No Result
View All Result
  • Login
Login Sign Up
No Result
View All Result
No Result
View All Result

Pancasila Jadi Benteng Degradasi Karakter Anak di Era Gadget

Reporter balitopik.com
26 Mei 2026 - 4:37 am
Putri Wartini

Putri Wartini

Oleh: Putri Wartini, Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar – Undiksha

Di tengah derasnya perkembangan teknologi digital, tantangan pendidikan anak tidak lagi sekadar soal kemampuan membaca, menulis, dan berhitung. Sekolah dan keluarga kini menghadapi persoalan yang lebih besar, yakni bagaimana membentuk karakter generasi muda agar tetap memiliki empati, sopan santun, serta rasa kebersamaan di tengah budaya individualisme yang semakin kuat.

Fenomena anak-anak yang lebih akrab dengan layar gawai dibanding lingkungan sekitarnya menjadi pemandangan yang sulit dihindari. Banyak siswa usia sekolah dasar menghabiskan waktu berjam-jam bermain gim, menonton video, atau berselancar di media sosial. Akibatnya, interaksi sosial perlahan berkurang.

Anak menjadi lebih mudah marah, kurang peduli terhadap teman, bahkan mulai kehilangan kebiasaan sederhana seperti menyapa, menghormati orang tua, atau bekerja sama dengan sesama.

Dalam situasi seperti ini, nilai-nilai Pancasila justru menjadi semakin relevan. Pancasila bukan sekadar hafalan lima sila yang diucapkan saat upacara bendera, melainkan fondasi moral yang harus hidup dalam perilaku sehari-hari anak-anak Indonesia. Penanaman nilai Pancasila sejak sekolah dasar menjadi langkah penting untuk membangun generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga matang secara karakter.

Usia sekolah dasar, khususnya kelas IV, merupakan fase penting pembentukan sikap dan kebiasaan. Pada tahap ini, anak mulai belajar memahami hubungan sosial, tanggung jawab, hingga cara menghargai perbedaan. Karena itu, pendidikan karakter tidak boleh dianggap sebagai pelengkap, melainkan bagian utama dari proses pendidikan.

Nilai-nilai Pancasila sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan siswa. Sila pertama dapat diwujudkan melalui kebiasaan berdoa sebelum belajar dan menghormati teman yang berbeda agama. Sila kedua tercermin dari sikap saling membantu dan tidak merundung teman. Sementara sila ketiga mengajarkan pentingnya kerja sama dan gotong royong, baik saat membersihkan kelas maupun menyelesaikan tugas kelompok.

Di sisi lain, sila keempat melatih anak untuk belajar bermusyawarah dan menghargai pendapat orang lain, misalnya saat memilih ketua kelas. Sedangkan sila kelima mengajarkan keadilan, seperti memperlakukan semua teman dengan baik tanpa membeda-bedakan latar belakang mereka.

Sayangnya, tantangan menanamkan nilai-nilai tersebut semakin besar di era media sosial. Anak-anak kini tumbuh dalam arus informasi yang sangat cepat, termasuk paparan budaya luar yang tidak selalu sesuai dengan nilai kehidupan bangsa Indonesia. Tidak sedikit anak yang lebih nyaman bermain telepon genggam daripada berbincang dengan keluarga atau bermain bersama teman di lingkungan rumah.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah. Guru memang memiliki peran penting sebagai teladan bagi siswa, tetapi keluarga tetap menjadi lingkungan pertama dan utama dalam pembentukan karakter anak. Anak-anak cenderung meniru perilaku yang mereka lihat setiap hari.

Ketika guru dan orang tua mampu menunjukkan sikap disiplin, jujur, santun, dan peduli, maka nilai-nilai tersebut akan lebih mudah tertanam dalam diri anak.

Selain keluarga dan sekolah, lingkungan pertemanan juga memegang pengaruh besar. Anak yang tumbuh dalam lingkungan positif akan lebih mudah terbiasa bekerja sama, menghargai orang lain, dan memiliki rasa tanggung jawab sosial. Sebaliknya, lingkungan yang kurang sehat dapat mendorong anak meniru perilaku negatif.

Karena itu, pendekatan pembelajaran tentang Pancasila juga perlu disesuaikan dengan perkembangan zaman. Anak-anak tidak cukup hanya diberikan ceramah atau hafalan. Mereka perlu diajak memahami nilai Pancasila melalui pengalaman nyata dan kegiatan yang menyenangkan. Pembelajaran bisa dilakukan melalui video edukatif, permainan kelompok, diskusi sederhana, hingga kegiatan sosial yang melibatkan siswa secara langsung.

Hal-hal sederhana di sekolah sebenarnya memiliki dampak besar dalam membentuk karakter anak. Kegiatan piket kelas, upacara bendera, kerja bakti, berbagi makanan dengan teman, hingga menghormati guru merupakan latihan nyata tentang tanggung jawab, disiplin, kerja sama, dan kepedulian sosial.

Di tengah tantangan modernisasi dan perubahan sosial yang begitu cepat, pendidikan karakter berbasis Pancasila menjadi kebutuhan mendesak. Indonesia membutuhkan generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki hati nurani, toleransi, dan semangat kebersamaan.

Jika nilai-nilai Pancasila ditanamkan sejak dini secara konsisten, maka anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang menghargai perbedaan, mampu hidup rukun, bertanggung jawab, dan memiliki kepedulian terhadap bangsa. Dari ruang kelas sekolah dasar itulah masa depan karakter Indonesia sebenarnya sedang dibentuk. (*)

 

Tags: budaya gotong royongera digitalguru dan Pancasilakarakter anak Indonesianilai PancasilaPendidikan Karakterpendidikan moral anakpendidikan SDpengaruh gadget pada anaksiswa sekolah dasar
SendShareShareSend

Media Social

Facebook Instagram TikTok YouTube Chat WhatsApp

TOPIK MEDIA GROUP

  • Blog
  • Box Redaksi
  • Elementor #10692
  • Home
  • kebijakan privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Syarat dan ketentuan

Recent Posts

  • Soal Upah 2027, Buruh Minta Semua Dewan Vocal Bicara
  • Buruh Bali Harap Koster Berani Naikkan UMP Bali 2027 Rp5,2 Juta
  • Jurnalis Bali Gelar Doa untuk 8 Rekan yang Hilang di Laut menuju Krakatau
No Result
View All Result
  • Home
  • Politik
  • Hukum
  • Bali
  • Opini
  • Lifestyle
  • Nasional
  • Internasional

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?