BALITOPIK.COM, DENPASAR – Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Bali menilai program Sekolah Rakyat dapat menjadi solusi strategis dalam memutus rantai kemiskinan di Bali melalui perluasan akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem.
Organisasi tersebut mendorong pemerintah memperbanyak pembangunan Sekolah Rakyat di berbagai kabupaten dan kota karena kapasitas yang tersedia saat ini dinilai belum mampu menjangkau seluruh anak yang membutuhkan.
Ketua Eksekutif Wilayah (EW) LMND Bali, I Made Dirgayusa, menilai kemiskinan tidak hanya berkaitan dengan rendahnya pendapatan, tetapi juga terbatasnya akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan pemenuhan gizi yang layak.
Kondisi tersebut membuat banyak anak kehilangan kesempatan mengembangkan potensinya sehingga kemiskinan terus berulang dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Menurut Dirgayusa, meski angka kemiskinan di Bali terus menunjukkan tren menurun pascapandemi Covid-19, masih terdapat kesenjangan yang cukup lebar antara masyarakat perkotaan dan pedesaan maupun antara kawasan pariwisata dan wilayah yang belum berkembang.
Ia menilai pendidikan merupakan instrumen utama untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus membuka jalan keluar dari kemiskinan. Namun, realitas di lapangan menunjukkan masih banyak anak yang belum dapat menikmati pendidikan karena terkendala kondisi ekonomi keluarga.
“Sekolah Rakyat hadir sebagai solusi untuk memutus paradoks tersebut. Pendidikan adalah jalan utama membebaskan masyarakat dari kemiskinan, sehingga negara harus memastikan anak-anak dari keluarga miskin memperoleh akses pendidikan yang layak tanpa dibebani persoalan biaya,” ujar Dirgayusa, Kamis (16/7/2026).
Ia menjelaskan, program Sekolah Rakyat tidak hanya menggratiskan biaya pendidikan, tetapi juga menyediakan berbagai fasilitas penunjang seperti asrama, buku, seragam, layanan kesehatan, hingga kebutuhan dasar peserta didik yang ditanggung negara.
Model pendidikan tersebut dinilai mampu mengatasi hambatan ekonomi sekaligus menciptakan lingkungan belajar yang lebih kondusif bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Meski demikian, LMND Bali menilai keberadaan Sekolah Rakyat di Bali masih jauh dari cukup. Saat ini, Bali baru memiliki satu Sekolah Rakyat permanen yang berlokasi di Desa Tulamben, Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem, dengan kapasitas sekitar 276 peserta didik untuk jenjang SD, SMP, dan SMA.
Ia menyebut, saat ini masih terdapat sekitar 27.791 anak di Bali yang belum bersekolah, putus sekolah, maupun tidak melanjutkan pendidikan. Jumlah tersebut dinilai jauh melampaui daya tampung Sekolah Rakyat yang tersedia saat ini.
Karena itu, LMND Bali mendorong pemerintah pusat maupun Pemerintah Provinsi Bali memperluas pembangunan Sekolah Rakyat di berbagai daerah agar semakin banyak anak memperoleh kesempatan mengenyam pendidikan.
“Satu Sekolah Rakyat saja tidak cukup untuk Bali. Kami berharap pemerintah membangun lebih banyak Sekolah Rakyat di kabupaten dan kota lainnya agar semakin banyak anak dari keluarga miskin memiliki kesempatan mengubah masa depan melalui pendidikan. Sekolah Rakyat adalah jembatan emas menuju Bali yang bebas dari kemiskinan,” tegas Dirgayusa.
Menurutnya, investasi di bidang pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang akan melahirkan sumber daya manusia berkualitas sekaligus memperkuat pembangunan daerah. Dengan semakin luasnya akses pendidikan bagi kelompok rentan, peluang memutus rantai kemiskinan antargenerasi pun diyakini akan semakin besar. (*)









