BALITOPIK.COM, DENPASAR — Herman Umbu Billy, kreator asal Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, membawa isu etika kecerdasan buatan (AI) ke ruang diskusi publik Indonesia melalui proyek storytelling transmedia NUSANTARA.EXE.
Proyek bergenre fiksi ilmiah ini tidak sekadar menawarkan cerita tentang masa depan. Herman menggunakannya sebagai medium untuk membicarakan persoalan yang mulai muncul seiring perkembangan AI, mulai dari keselamatan teknologi, hak digital, otomatisasi hingga posisi manusia ketika mesin semakin mampu mengambil keputusan.
NUSANTARA.EXE mengambil latar Nusantara pada 2145 dengan menghadirkan dua entitas utama, yakni RAKATA, kecerdasan buatan totaliter fiktif, dan DARA-17, kesadaran mesin humanoid.
Melalui karakter dan dunia fiksi tersebut, Herman mencoba menerjemahkan perdebatan AI yang selama ini berlangsung di tingkat global ke dalam konteks yang lebih dekat dengan masyarakat Indonesia.
“Indonesia tidak boleh hanya ditempatkan sebagai pasar konsumsi atau sekadar bahan bakar data mentah bagi model kecerdasan buatan global,” kata Herman Umbu Billy, Founder NUSANTARA.EXE kepada Bali Topik, Sabtu (26/9/2026).
Menurut Herman, perkembangan AI perlu dibicarakan tidak hanya dari sisi kemampuan teknologinya, tetapi juga menyangkut hak manusia, batas etika dan kedaulatan moral.
Karena itu, NUSANTARA.EXE turut menghadirkan Arsip RAKATA, ruang publikasi tekstual yang menghubungkan narasi fiksi spekulatif dengan isu regulasi dan tata kelola teknologi.
Herman mengatakan gagasan tersebut terinspirasi dari berkembangnya diskusi mengenai AI di tingkat internasional, termasuk AI Seoul Summit dan International AI Safety Report.
“Melalui ruang refleksi di NUSANTARA.EXE, kami ingin membawa diskursus dari panggung internasional sekelas AI Seoul Summit atau International AI Safety Report langsung ke akar budaya kita,” ujarnya.
Ia menilai Indonesia perlu memiliki cara sendiri dalam membicarakan masa depan AI, sehingga perkembangan teknologi tidak membuat persoalan identitas, nilai kemanusiaan dan hak digital terabaikan.
“Kita harus memastikan perkembangan etika AI di Indonesia tetap menghormati hak digital serta kedaulatan moral manusia tanpa mencabut akar identitas bangsa,” kata Herman.
Pengembangan NUSANTARA.EXE juga terhubung dengan jaringan kreatif SumbaMedia HUB dan CIVILARC.ID. Jaringan tersebut diarahkan untuk mendukung literasi teknologi digital, khususnya bagi generasi muda.
Lewat platform tersebut, masyarakat dapat bergabung sebagai “Warga NODE” dan mengeksplorasi materi yang tersedia secara gratis.
Katanya, fiksi ilmiah menjadi cara untuk membicarakan persoalan AI tanpa menjadikannya sekadar isu teknologi.
“Melalui masa depan Nusantara yang dibangun dalam cerita, publik diajak mempertanyakan kembali batas hubungan manusia dengan mesin dan siapa yang seharusnya memegang kendali ketika teknologi semakin cerdas,” tandasnya. (*)









