BALITOPIK.COM, DENPASAR — Kemampuan memeriksa sumber, memahami konteks, dan mempertanyakan informasi dinilai semakin penting di tengah derasnya arus informasi digital dan perkembangan kecerdasan buatan (AI).
Pesan itu mengemuka dalam Kuliah Umum yang digelar Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) FKIP Universitas Mahasaraswati (Unmas) Denpasar, Jumat (18/9/2026).
Mengangkat tema “Berdaulat melalui Bahasa Indonesia: Membangun Nalar Kritis dan Budaya Multiliterasi Generasi Muda”, kegiatan yang berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting tersebut diikuti 260 peserta dari kalangan dosen, mahasiswa, dan peserta lainnya.
Salah satu pembahasan utama disampaikan Dekan IKIP Siliwangi, Dr. Teti Sobari, M.Pd. Ia menyoroti kebiasaan menerima informasi secara mentah di era digital.
Peserta diajak tidak langsung menganggap sebuah informasi sebagai kebenaran. Sumber perlu diperiksa, fakta dilihat, konteks dipahami, kemudian informasi dipertimbangkan kembali sebelum dipercaya atau disebarkan.
Pembahasan tersebut juga dikaitkan dengan semakin dekatnya teknologi AI dengan kehidupan sehari-hari. AI dapat membantu mencari informasi, menemukan ide, hingga mendukung proses belajar. Namun, informasi yang dihasilkan AI tetap perlu diperiksa dan dipahami kembali.
“AI sebaiknya menjadi alat yang membantu proses berpikir, bukan menggantikan proses berpikir itu sendiri,” demikian pokok pembahasan dalam sesi tersebut.
Sementara itu, Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Daerah Universitas PGRI Mahadewa Indonesia, Gede Sidi Artajaya, S.Pd., M.Pd., membahas kemampuan literasi yang dikaitkan dengan Tes Kemampuan Akademik (TKA).
Menurut materi yang disampaikan, kemampuan memahami bacaan, menganalisis informasi, dan menarik kesimpulan tidak hanya dibutuhkan ketika mengerjakan soal. Kemampuan tersebut juga diperlukan untuk memahami persoalan dan menentukan sikap terhadap informasi yang diterima.
Ketua panitia, Ni Nyoman Sri Wahyuni, mengatakan kegiatan tersebut diharapkan dapat menambah wawasan mahasiswa sekaligus mendorong mereka lebih kritis menghadapi informasi.
“Kami berharap mahasiswa dapat memanfaatkan teknologi dan AI secara bijak, tetapi tetap mengandalkan kemampuan berpikir kritis dan mandiri,” ujarnya.
Ketua Program Studi PBSI FKIP Unmas Denpasar, Dr. Ida Ayu Made Wedasuwari, S.Pd., M.Pd., menilai tema tersebut relevan dengan kebutuhan mahasiswa saat ini.
Ia berharap mahasiswa tetap bangga menggunakan bahasa Indonesia, mengembangkan kemampuan literasi, serta mampu memanfaatkan teknologi secara kritis dan bertanggung jawab.
Melalui kegiatan tersebut, peserta didorong untuk tidak hanya menerima informasi, tetapi juga menyaring, memahami, mempertanyakan, dan menggunakannya secara bijak di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat. (*)









