BALITOPIK.COM, GIANYAR — Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan pembangunan Bali harus berjalan dengan menjaga keseimbangan alam, manusia, dan kebudayaan. Ia mengingatkan nilai kearifan lokal Sad Kerthi bukan sekadar warisan leluhur, tetapi menjadi pedoman untuk menjaga keberlanjutan kehidupan masyarakat Bali.
Pesan tersebut disampaikan Koster saat persembahyangan Rahina Suci Tumpek Wayang di Pura Dang Khayangan Er Jeruk, Kabupaten Gianyar, Sabtu (10/10/2026).
Menurut Koster, Sad Kerthi mengajarkan enam upaya pemuliaan, yakni Atma Kerthi, Segara Kerthi, Danu Kerthi, Wana Kerthi, Jana Kerthi, dan Jagat Kerthi. Keenam nilai itu mencakup pemuliaan jiwa, laut dan pantai, sumber air, tumbuh-tumbuhan, manusia, serta alam semesta.
“Nilai-nilai kearifan lokal Sad Kerthi merupakan suatu ajaran luar biasa. Ajaran ini membumi untuk menjalankan kehidupan kita agar survive secara berkelanjutan, dengan harus memelihara seluruh aspek yang ada di alam,” ujar Koster.
Ia mencontohkan, kehidupan manusia bergantung pada tumbuh-tumbuhan, laut, dan sumber air. Karena itu, menjaga alam bukan sekadar pilihan, melainkan bagian penting untuk memastikan sumber kehidupan tetap tersedia bagi generasi mendatang.
Koster mengatakan nilai Sad Kerthi menjadi dasar visi pembangunan Bali, Nangun Sat Kerthi Loka Bali. Menurutnya, visi tersebut harus dijalankan secara tertib dan konsisten oleh pemerintah kabupaten/kota bersama masyarakat.
“Bukan hanya sekadar hidup, tapi hidup dengan tatanan. Tatanan bukan sekadar tatanan, tapi tatanan untuk membangun suatu peradaban kehidupan, sehingga alam, manusia dan budayanya hidup survive, berkualitas, berkelanjutan untuk diwariskan kepada generasi muda demi masa depan Bali,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Koster juga menekankan pentingnya melestarikan perayaan Rahina Tumpek dan nilai Sad Kerthi melalui pendidikan di sekolah. Upaya tersebut, menurutnya, menjadi bagian dari pembentukan generasi muda sesuai Haluan Pembangunan Bali Masa Depan 100 Tahun Bali Era Baru 2025–2125.
Pesan menjaga keseimbangan alam itu juga dikaitkan dengan sejumlah kebijakan lingkungan, mulai dari pengelolaan sampah berbasis sumber, pembatasan plastik sekali pakai, penggunaan energi bersih, transportasi ramah lingkungan, hingga pertanian organik.
Koster menyebut pemerintah provinsi bersama pemerintah kabupaten/kota telah menyepakati penetapan enam kawasan rendah emisi di Bali. Kawasan tersebut meliputi Ubud di Gianyar, Kepulauan Nusa Penida di Klungkung, Nusa Dua dan Kuta di Badung, serta Sanur dan Kawasan Cagar Budaya Gajah Mada di Denpasar.
Menurut Koster, kawasan-kawasan itu perlu ditata agar aktivitas pariwisata tetap selaras dengan alam dan tidak merusak ekosistem kehidupan.
Persembahyangan Tumpek Wayang tersebut turut dihadiri Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa, Bupati Klungkung I Made Satria, Wakil Bupati Gianyar Anak Agung Gde Mayun, perwakilan Pemerintah Kota Denpasar, serta sejumlah kepala organisasi perangkat daerah Pemerintah Provinsi Bali. (*)









