Balitopik.com, DENPASAR – Pengacara top asal NTT berdomisili Bali, Yulius Benyamin Seran menanggapi sejumlah perilaku onar perantau asal NTT di Bali selama ini.
Ia menekankan pentingnya menjaga marwah dan martabat daerah asal dengan cara menghormati adat istiadat serta kearifan lokal masyarakat Bali.
Pernyataan ini disampaikan Benyamin Seran menanggapi serangkaian insiden keributan yang melibatkan oknum perantau asal NTT di beberapa wilayah Bali belakangan ini.
Kejadian-kejadian tersebut dinilai telah memicu stigma negatif dan keresahan, yang imbasnya turut dirasakan oleh mayoritas warga NTT yang selama ini hidup berdampingan secara damai dengan warga lokal.
“Bali adalah rumah kedua kita. Tanah ini telah memberikan kita kehidupan, pekerjaan, dan tempat bernaung. Maka, sudah sewajarnya kita mencintai tanah Bali layaknya kita mencintai tanah kelahiran kita di NTT,” tegas Benyamin Seran ditemui di Denpasar, Kamis (11/12/2025).
Memulihkan Citra Diaspora NTT di Bali
Benyamin menyayangkan ulah segelintir oknum yang kerap membuat onar, seperti mabuk-mabukan di tempat umum hingga memicu perkelahian, ugal-ugalan di jalan dan lain sebagainya. Menurutnya, tindakan tidak terpuji tersebut telah memberi dampak psikis luar biasa terhadap diaspora NTT di Bali secara keseluruhan.
“Jangan karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Kasihan saudara-saudara kita yang bekerja jujur, para mahasiswa yang sedang menuntut ilmu, dan mereka yang sudah dianggap keluarga oleh orang Bali, akhirnya terkena getah akibat ulah segelintir orang yang tidak bisa menahan diri. Padahal banyak juga warga NTT yang menjadi atlet yang mengharumkan nama Bali,” ujarnya dengan dengan nada prihatin.
Pegang Teguh Pepatah “Di Mana Bumi Dipijak Di Situ Langit Dijunjung”
Benyamin mengingatkan kembali falsafah Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Tokoh muda asal NTT ini berharap seluruh elemen diaspora NTT di Bali, untuk beradaptasi dan menghormati dresta (aturan) serta budaya Bali.
Ia juga mengajak para ketua paguyuban, simpul-simpul komunitas dan sesepuh untuk terus sama-sama melakukan pembinaan ke dalam sebagaimana telah dilakukan selama ini. Bahwa Pendekatan persuasif perlu dilakukan untuk meredam kebencian publik dan stigma negatif serta mencegah perilaku-perilaku yang melanggar hukum.
“Mari kita tunjukkan bahwa orang NTT itu santun, pekerja keras, dan bisa menjadi saudara (nyama) yang baik bagi masyarakat Bali. Jika kita menjaga Bali, maka Bali akan menjaga kita,” pungkas Benyamin. (*)

















