Balitopik.com, BALI – Ratusan pohon mangrove jenis Sonneratia Alba (prapat), Rhizophora Apiculata (bakau), Avicennia Marina (api api) mati mendadak dan tidak wajar di areal atau kawasan Pelindo Benoa, persis di pinggir barat jalan pintu masuk Tol Bali Mandara, Benoa, Denpasar Selatan.
Pemandangan tak mengenakan itu tentu mengganggu mata kita semua, termasuk Anggota Komisi III DPR RI Dapil Bali I Nyoman Parta yang selama ini aktif menanam mangrove di berbagai lokasi di Bali. Saat pulang dari Jakarta dan melewati jalan Tol Bali Mandara ia merasa gunda atas apa yang dilihatnya itu.
Nyoman Parta menepikan mobil lalu mencari nelayan untuk ditinjaunya langsung dari dalam laut. Ia ditemani oleh Komunitas pecinta Mangrove yang sangat memahami persoalan mangrove yaitu Mangrove Ranger dan kelompok nelayan Simbar Segara.
Setelah melakukan pendalam sementara, Nyoman Parta menduga ratusan pohon mangrove itu mati karena adanya pipa BBM milik pertamina yang bocor. Dugaan ini diperkuat karena pada sekitar November 2025 ada pemeliharaan atau perbaikan pipa BBM di jalur distribusi dari Pelabuhan Benoa ke Pangkalan Pertamina Pesanggaran.
Pun atas pengakuan para pecinta mangrove bahwa pohon-pohon mangrove tersebut mulai layu di bulan itu. Diduga kuat pada saat itulah ada kebocoran pipa BBM sehingga terjadinya rembesan minyak penyebab matinya mangrove.
“Saya curiga ini matinya tidak faktor alami. Memang perlu dibuktikan tapi berdasarkan informasi awal ada kebocoran pipa milik pertamina atau perusahaan yang ada di sini,” kata Nyoman Parta kepada Bali Topik di tengah laut, Jumat (20/2/2026).
Mangrove yang mati di areal tersebut diperkirakan mencapai 200-300 pohon. Berdasarkan tekstur kekeringan pada ranting mangrove menunjukan matinya sudah cukup lama karena sudah sangat kering.
Nyoman Parta meminta pihak Tahura, Pelindo, Jasa Marga, Pertamina dan Indonesia Power untuk bertanggung jawab. “Ini tak boleh dibiarkan,” katanya.
Ia juga meminta pihak penegakan hukum untuk mengusut tuntas siapa dalang dan harus bertanggung jawab atas matinya ratusan pohon mangrove tersebut.
“Saya mohon kepada pihak Polda Bali, Kejati Bali untuk mengusut siapa yang bertanggung jawab atas kejadian ini. Ini pohon mangrove di pinggir jalan yang bisa dilihat oleh semua orang, masa dibuat mati tanpa pertanggungjawaban,” tegasnya. (*)















