BALITOPIK.COM, KARANGASEM – Kepedulian terhadap persoalan sampah di Bali terus digaungkan kalangan mahasiswa. BEM Universitas Warmadewa menunjukkan aksi nyata melalui kegiatan sosial berupa talkshow pengelolaan sampah berkelanjutan hingga implementasi pembuatan biopori di Karangasem.
Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, 11–12 April 2026, dengan pusat kegiatan di Desa Bebandem. Program ini menggabungkan edukasi dan aksi langsung sebagai solusi konkret terhadap persoalan sampah, khususnya sampah organik.
Kegiatan dibuka oleh Sekretaris Daerah Karangasem, I Ketut Sedana Merta, yang hadir bersama Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama Universitas Warmadewa, I Nyoman Sujana.
Dalam sambutannya, Sedana Merta mengapresiasi langkah mahasiswa yang dinilai mampu membangun sinergi antara dunia pendidikan dan masyarakat.
“Ini merupakan bentuk sinergi yang baik antara dunia pendidikan dan masyarakat dalam upaya meningkatkan kesejahteraan sosial,” ujarnya.
Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan talkshow bertema “Membangun Kesadaran dan Aksi Nyata Mahasiswa dan Masyarakat dalam Pengelolaan Sampah yang Berkelanjutan.”
Talkshow menghadirkan berbagai narasumber dari kalangan akademisi, LSM Merah Putih Hijau, hingga Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Bali.
Peserta yang hadir berasal dari berbagai elemen, mulai dari tokoh masyarakat Desa Bebandem hingga pelajar dari sekolah sekitar, seperti SMKN 1 Bebandem, SMPN 1 Bebandem, SMPN 2 Bebandem, dan SDN 1 Bebandem.
Presiden BEM Warmadewa, Putu Gde Raka Trisna Arisastra, menegaskan pentingnya membangun kesadaran kolektif.
“Kegiatan ini bertujuan memperkuat kesadaran masyarakat, pelajar, dan mahasiswa tentang pentingnya pengelolaan sampah yang ramah lingkungan,” jelasnya.
Tak berhenti pada diskusi, kegiatan dilanjutkan dengan aksi nyata berupa pembuatan biopori di dua lokasi, yakni Kantor Desa Bebandem dan SD Negeri 1 Bebandem.
Biopori menjadi solusi sederhana namun efektif dalam mengatasi sampah organik. Sampah yang dimasukkan ke dalam lubang biopori akan terurai secara alami dan menghasilkan kompos yang bermanfaat bagi tanah.
“Biopori ini solusi sederhana untuk mengatasi sampah organik sekaligus meningkatkan kesuburan tanah,” ungkap Raka.
Ia juga menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk implementasi tridharma perguruan tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat.
“Ini bukti bahwa mahasiswa hadir dan peduli terhadap persoalan nyata yang dihadapi masyarakat, terutama masalah sampah di Bali,” pungkasnya. (*)









