Oleh: Halimatus Sakdiah, S.ARS – Pelaku Usaha
OPINI – Ketidakpastian kini menjadi wajah baru perekonomian dunia. Konflik geopolitik, inflasi global, krisis energi, gangguan rantai pasok, hingga ancaman perubahan iklim datang silih berganti tanpa pola yang mudah diprediksi. Dunia bergerak dalam situasi yang penuh tekanan, dan dampaknya dirasakan hampir seluruh negara, termasuk Indonesia.
Di tengah kondisi tersebut, muncul satu pertanyaan penting: dari mana sebenarnya kekuatan ekonomi Indonesia bertahan?
Jawabannya ternyata tidak selalu datang dari investasi besar, angka pertumbuhan ekonomi, atau statistik makro yang setiap hari menjadi perhatian pasar. Kekuatan itu justru tumbuh dari ruang-ruang sederhana yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Dari desa, pasar tradisional, warung kecil, koperasi, kelompok usaha bersama, hingga budaya saling membantu yang hidup dalam keseharian masyarakat Indonesia.
Di sanalah ekonomi gotong royong bekerja.
Selama ini gotong royong lebih sering dipahami sebagai nilai budaya atau tradisi sosial. Padahal, di dalamnya tersimpan kekuatan ekonomi yang luar biasa besar. Gotong royong bukan hanya tentang bekerja bersama, tetapi juga tentang membangun sistem ekonomi yang bertumpu pada kepercayaan, kolaborasi, dan pemerataan manfaat.
Ekonomi gotong royong bergerak dengan semangat kebersamaan. Ketika seseorang kesulitan modal, komunitas hadir memberi dukungan. Saat pasar lesu, jejaring sosial menjadi ruang bertahan. Ketika lapangan kerja formal terbatas, masyarakat menciptakan usaha mandiri yang melibatkan keluarga dan lingkungan sekitar.
Sistem seperti ini bekerja bukan semata karena transaksi ekonomi, tetapi karena adanya hubungan sosial yang saling menguatkan.
Menariknya, model ekonomi seperti inilah yang justru terbukti paling tahan menghadapi krisis.
Indonesia pernah mengalaminya berulang kali. Saat krisis moneter 1998 mengguncang perekonomian nasional, sektor usaha kecil tetap mampu bertahan ketika banyak perusahaan besar runtuh. Hal serupa terjadi saat pandemi COVID-19 melanda dunia. Ketika aktivitas ekonomi lumpuh, UMKM, pasar lokal, dan ekonomi berbasis komunitas justru menjadi penyangga kehidupan masyarakat.
Bahkan beberapa tahun terakhir, ketika harga pangan dan energi meningkat akibat tekanan global, masyarakat kembali menunjukkan kemampuan bertahan melalui solidaritas sosial dan penguatan ekonomi lokal.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa ketahanan ekonomi nasional tidak hanya ditopang sektor formal, tetapi juga oleh kekuatan ekonomi rakyat yang tumbuh dari akar rumput.
Indonesia sebenarnya memiliki modal sosial yang sangat kuat untuk membangun ekonomi gotong royong. Jumlah UMKM yang mendominasi struktur usaha nasional, perkembangan koperasi, keberadaan BUMDes, kelompok tani, komunitas usaha perempuan, hingga praktik filantropi seperti zakat, infak, sedekah, dan wakaf produktif menjadi bukti bahwa semangat ekonomi kolektif masih hidup dan berkembang.
Yang menarik, ekonomi gotong royong hari ini juga mengalami transformasi mengikuti perkembangan zaman.
Di era digital, semangat gotong royong hadir dalam bentuk baru. Mulai dari koperasi berbasis teknologi, penggalangan dana sosial melalui platform digital, gerakan membeli produk lokal lewat marketplace, hingga kolaborasi usaha berbasis komunitas di media sosial.
Nilai dasarnya tetap sama: tumbuh bersama dan saling menguatkan.
Inilah yang menjadi keunggulan Indonesia di tengah ekonomi global yang semakin kompetitif dan individualistik.
Namun kekuatan ekonomi gotong royong tidak bisa dibiarkan berjalan sendiri tanpa dukungan kebijakan negara. Pemerintah perlu menjadikannya bagian penting dari strategi pembangunan nasional melalui akses permodalan yang inklusif, transformasi digital UMKM, penguatan koperasi modern, peningkatan kualitas sumber daya manusia, hingga kebijakan yang berpihak pada ekonomi rakyat.
Ekonomi gotong royong juga tidak boleh dipandang sebagai konsep lama yang romantis semata. Justru di tengah dunia yang terus dilanda krisis, model ekonomi berbasis solidaritas, keberlanjutan, dan kemandirian lokal menjadi semakin relevan.
Indonesia memiliki keuntungan yang tidak dimiliki banyak negara lain, yakni budaya kolektif yang tumbuh kuat di tengah masyarakat. Nilai tersebut bukan sekadar identitas bangsa, tetapi juga modal ekonomi yang sangat strategis.
Ketidakpastian global mungkin akan terus menjadi bagian dari realitas dunia. Krisis bisa datang dalam berbagai bentuk dan pada waktu yang tidak terduga. Namun bangsa yang memiliki solidaritas sosial dan kemampuan bergerak bersama akan selalu memiliki peluang lebih besar untuk bertahan.
Karena itu, ekonomi gotong royong perlu diteguhkan kembali. Bukan hanya sebagai narasi budaya, melainkan sebagai fondasi ekonomi nasional.
Sebab ketika dunia bergerak semakin cepat dan penuh ketidakpastian, Indonesia membutuhkan kekuatan yang tidak mudah goyah. Dan kekuatan itu sesungguhnya telah lama hidup di tengah masyarakat: semangat gotong royong.
Dari sanalah ketahanan dibangun. Dari sanalah ekonomi rakyat bergerak. Dan dari sanalah masa depan ekonomi Indonesia dapat tumbuh lebih adil, inklusif, dan berkelanjutan. (*)









