• Latest
  • Trending
  • All
  • Pariwisata
  • Uncategorized
  • Nasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Bali
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Travel
  • Hukum
  • Olahraga
  • Peristiwa
  • Kesehatan
  • Edukasi
Yoh. Sandriano N. Hitang

Era AI: Terlalu Banyak Jawaban, Terlalu Sedikit Mimpi

5 bulan ago
Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat KMHDI, I Nengah Candra Irawana

KMHDI ingatkan lahan bekas karhutla jangan jadi perkebunan sawit oligarki

9 jam ago
PP KMHDI

Karhutla Tak Cukup Dipadamkan, PP KMHDI Bentuk Satgas Restorasi

12 jam ago
Gubernur Bali, Wayan Koster meninjau langsung jalannya psikotes pejabat eselon II di lingkungan Pemprov Bali, di Ruang Sidang FK Unud kampus Sudirman, Denpasar, Selasa (20/10). -BALITOPIK.COM

Tak sesuai ekspektasi, Koster psikotes seluruh pejabat eselon II Bali, sinyal mutasi?

16 jam ago
Prambanan Shiva Festival (PSF) 2027 diluncurkan dalam rangkaian Wonderful Indonesia Tourism Fair (WITF) 2026 di Jakarta International Expo (JIExpo), Kemayoran, Jakarta, Sabtu (17/10/2026). -IST

Prambanan Shiva Festival 2027 Diluncurkan

1 hari ago
Prof. Dr. Ida Bagus Raka Suardana, SE.,MM.

Pemimpin yang Tak Pernah Tinggalkan Rakyat

1 hari ago
Gubernur Bali Wayan Koster (kiri) bersama Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dan Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri. -BALITOPIK.COM

Koster Ingatkan Menteri ESDM dan Pertamina soal BBM: Apa yang Terjadi di Bali Akan Langsung Mendunia

2 hari ago
Dirut Pertamina Simon Aloysius Mantiri (kanan), Menteri ESDM dan Gubernur Bali. -BALITOPIK.COM

Dirut Pertamina Minta Maaf untuk Masyarakat Bali, Janji Tak Akan Ulangi Lagi

2 hari ago
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia didampingi Gubernur Bali dan Dirut Pertamina. -BALITOPIK.COM

Menteri ESDM Ungkap Alasan BBM Langka di Bali: “Kesalahan Teknis Pertamina”

2 hari ago
  • Home
  • Bali
    • Peristiwa
    • Travel
  • Nasional
    • Politik
    • Pendidikan
    • Hukum
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Opini
  • Teknologi
  • Lifestyle
    • Entertainment
  • World
No Result
View All Result
  • Login
Login Sign Up
No Result
View All Result
No Result
View All Result

Era AI: Terlalu Banyak Jawaban, Terlalu Sedikit Mimpi

Reporter balitopik.com
3 Juni 2026 - 11:24 am
Yoh. Sandriano N. Hitang

Yoh. Sandriano N. Hitang

BALITOPIK.COM, OPINI – Ada sesuatu yang menarik dari cara kita membicarakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) hari ini. Sebagian besar percakapan publik berputar pada pertanyaan yang hampir sama: pekerjaan apa yang akan hilang, profesi mana yang akan bertahan, dan seberapa jauh mesin dapat menggantikan manusia.

Perdebatan itu penting. Namun mungkin kita sedang mengabaikan persoalan yang lebih mendasar.

Bagaimana jika masalah terbesar era AI bukan terletak pada kecerdasan mesin, melainkan pada perubahan cara manusia berhubungan dengan pengetahuan?

Sepanjang sejarah, manusia memperoleh pengetahuan melalui proses yang sering kali panjang dan melelahkan. Untuk memahami suatu gagasan, seseorang harus membaca buku, membandingkan argumen, bergulat dengan keraguan, bahkan tersesat di tengah jalan sebelum menemukan pemahaman yang lebih utuh.

Pengetahuan bukan hanya hasil. Pengetahuan itu perjalanan. Tapi, kini situasinya berubah dengan sangat cepat.

Dalam hitungan detik, AI dapat merangkum ratusan halaman, menyusun analisis, menjawab pertanyaan, bahkan membantu merumuskan strategi. Apa yang sebelumnya membutuhkan waktu berhari-hari kini dapat diperoleh hanya dalam beberapa menit.

Tentu saja ini kemajuan yang luar biasa. Tetapi setiap kemajuan selalu membawa konsekuensinya sendiri

Ketika jawaban menjadi semakin mudah diperoleh, ada risiko bahwa kita semakin jarang mengalami proses yang melahirkan jawaban itu.

Kita menerima sintesis tanpa mengalami pergulatan. Kita menikmati kesimpulan tanpa menempuh perjalanan. Kita memperoleh hasil tanpa selalu memahami bagaimana hasil tersebut dibentuk. Di sinilah persoalan yang jarang dibicarakan.

Selama ini banyak orang mengira bahwa imajinasi lahir dari banyaknya informasi. Padahal sejarah menunjukkan hal yang berbeda. Imajinasi sering kali lahir dari pergulatan manusia dengan kenyataan, dari ketidakpuasan terhadap keadaan yang ada, dan dari keberanian mempertanyakan sesuatu yang dianggap normal.

Dengan kata lain, imajinasi tidak tumbuh dari jawaban. Imajinasi tumbuh dari pertanyaan.

Perubahan besar dalam sejarah tidak pernah dimulai dari orang yang memiliki semua jawaban. Perubahan besar lahir dari orang-orang yang berani mengajukan pertanyaan yang belum pernah diajukan sebelumnya.

Bagaimana jika sebuah bangsa merdeka?

Bagaimana jika pendidikan dapat diakses semua orang?

Bagaimana jika pelayanan kesehatan bukan hak istimewa, melainkan hak warga negara?

Pada masanya, pertanyaan-pertanyaan tersebut terdengar tidak realistis. Namun justru karena ada orang yang berani membayangkannya, dunia berubah.

Karena itu, ancaman terbesar zaman ini mungkin bukan dominasi mesin atas manusia. Ancaman yang lebih halus adalah ketika manusia perlahan kehilangan kebiasaan untuk bertanya secara mendalam tentang masa depan.

Kita hidup dalam kebudayaan yang sangat menghargai kecepatan. Segala sesuatu diukur berdasarkan efisiensi, produktivitas, dan performa. Kita didorong untuk bekerja lebih cepat, belajar lebih cepat, merespons lebih cepat, bahkan berpikir lebih cepat.

AI datang sebagai puncak dari logika tersebut.

AI membuat proses menjadi lebih singkat, pekerjaan menjadi lebih cepat, dan keputusan menjadi lebih efisien.

Namun ada satu hal yang tidak dapat dipercepat tanpa risiko kehilangan makna: proses membayangkan masa depan.

Membayangkan masa depan membutuhkan waktu. Ia membutuhkan keraguan, percakapan, refleksi, bahkan kesediaan untuk berhadapan dengan ketidakpastian. Semua hal yang justru semakin langka dalam budaya yang terobsesi pada kecepatan.

Akibatnya, kehidupan publik perlahan mengalami paradoks.

Kita memiliki lebih banyak informasi dibanding generasi mana pun sebelumnya, tetapi tidak selalu memiliki arah yang lebih jelas.

Kita memiliki lebih banyak data, tetapi tidak otomatis memiliki lebih banyak kebijaksanaan.

Kita memiliki lebih banyak jawaban, tetapi tidak selalu memiliki pertanyaan yang lebih baik.

Politik semakin sibuk mengelola keadaan yang ada. Pendidikan semakin fokus menghasilkan keterampilan yang dibutuhkan pasar. Ruang digital dipenuhi reaksi yang datang silih berganti tanpa sempat menjadi refleksi.

Perhatian kita tersita oleh apa yang sedang terjadi hari ini, sehingga semakin sedikit energi yang tersisa untuk membicarakan apa yang seharusnya terjadi esok hari.

Pada titik inilah persoalan AI sesungguhnya menjadi persoalan peradaban.

Bukan karena mesin menjadi terlalu pintar. Melainkan karena manusia berisiko menyerahkan terlalu banyak proses berpikir kepada sistem yang memang dirancang untuk menghasilkan jawaban.

Padahal tidak semua persoalan manusia membutuhkan jawaban. Sebagian persoalan justru membutuhkan imajinasi.

AI dapat membantu kita menjawab bagaimana sesuatu dilakukan. Tetapi AI tidak dapat menjawab mengapa sesuatu perlu diperjuangkan.

AI dapat membantu merancang masa depan. Tetapi AI tidak dapat menentukan masa depan seperti apa yang layak diwujudkan.

Pertanyaan terakhir selalu merupakan pertanyaan manusia.

Karena itu, di tengah ledakan informasi dan kemajuan teknologi yang belum pernah terjadi sebelumnya, mungkin kita perlu kembali mengingat sesuatu yang sederhana: pengetahuan, imajinasi, dan masa depan bukanlah tiga hal yang terpisah.

Pengetahuan membantu kita memahami dunia sebagaimana adanya. Imajinasi memungkinkan kita membayangkan dunia sebagaimana seharusnya. Sedangkan masa depan lahir dari perjumpaan antara keduanya.

Tanpa pengetahuan, imajinasi mudah berubah menjadi utopia yang kehilangan pijakan pada kenyataan. Tetapi tanpa imajinasi, pengetahuan hanya akan membuat kita semakin mahir menjelaskan dunia tanpa pernah mampu mengubahnya.

Sejarah menunjukkan bahwa kemajuan tidak pernah lahir semata-mata dari akumulasi pengetahuan. Kemajuan lahir ketika pengetahuan bertemu dengan keberanian. Keberanian untuk terus membayangkan kemungkinan-kemungkinan baru. Semua perubahan besar dalam kehidupan manusia, mulai dari kemerdekaan, demokrasi, pendidikan, hak-hak sosial, hingga berbagai lompatan peradaban lainnya, selalu bermula dari kemampuan melihat dunia bukan hanya sebagaimana adanya, tetapi juga sebagaimana mungkin diwujudkan.

Maka pertanyaan yang patut kita renungkan di era AI bukanlah apakah mesin akan menjadi lebih cerdas daripada manusia. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah manusia masih cukup berani menggunakan pengetahuannya untuk membayangkan masa depan yang berbeda?

Pertanyaan itu penting, karena di tengah dunia yang semakin penuh jawaban, tugas paling mendesak bukanlah mencari jawaban yang lebih cepat, melainkan menjaga keberanian untuk terus mengajukan pertanyaan tentang dunia seperti apa yang ingin kita bangun, nilai-nilai apa yang ingin kita pertahankan, dan masa depan seperti apa yang ingin kita wariskan kepada generasi yang akan datang.

Sebab pada akhirnya, masa depan tidak dibentuk oleh kelimpahan jawaban yang kita miliki, tapi oleh keberanian untuk terus mencari titik temu: antara pengetahuan dengan harapan, kenyataan dengan kemungkinan, serta apa yang ada hari ini dengan apa yang seharusnya diwujudkan esok hari.

TENTANG PENULIS

Yoh. Sandriano N. Hitang – Mahasiswa Pascasarjana Fisip, Universitas Padjadjaran, Bandung – Penggagas Forum Intelektual Peduli Demokrasi Dan Kebijakan Publik (Formasi-Kp)

Tags: AIArtificial IntelligenceEra AIFilsafat TeknologiHumanismeImajinasiInovasiKecerdasan Buatanliterasi digitalMasa Depan ManusiaMasa Depan PeradabanOpiniPemikiran KritisPendidikanPengetahuanPeradaban DigitalRefleksi SosialRevolusi TeknologiTeknologiTransformasi digital
SendShareShareSend

Media Social

Facebook Instagram TikTok YouTube Chat WhatsApp

TOPIK MEDIA GROUP

  • Blog
  • Box Redaksi
  • Elementor #10692
  • Home
  • kebijakan privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Syarat dan ketentuan

Recent Posts

  • KMHDI ingatkan lahan bekas karhutla jangan jadi perkebunan sawit oligarki
  • Karhutla Tak Cukup Dipadamkan, PP KMHDI Bentuk Satgas Restorasi
  • Tak sesuai ekspektasi, Koster psikotes seluruh pejabat eselon II Bali, sinyal mutasi?
No Result
View All Result
  • Home
  • Politik
  • Hukum
  • Bali
  • Opini
  • Lifestyle
  • Nasional
  • Internasional

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist