BALITOPIK.COM, NTT — Bantuan bagi warga terdampak gempa Flores masih dibutuhkan meski masa tanggap darurat mulai mendekati tahap akhir. Yayasan Sungai Kasih dari Jakarta turun langsung ke sejumlah wilayah terdampak dengan menyalurkan 10 ton beras dan 1.000 paket bantuan kepada 1.000 kepala keluarga.
Tim Misi Kemanusiaan Yayasan Sungai Kasih berada di Flores selama dua pekan, sejak 25 Agustus hingga 8 September 2026. Sebelum menyalurkan bantuan, tim melakukan survei, pendataan dan pengumpulan kebutuhan warga.
Bantuan disalurkan ke sembilan titik di tiga kabupaten dalam kawasan Manggarai Raya. Selain beras, paket bantuan berisi minyak, mi instan, biskuit, susu, vitamin, selimut dan terpal untuk kebutuhan tempat tinggal sementara.
Ketua Yayasan Sungai Kasih Priskila Linda mengatakan kehadiran tim tidak hanya untuk menyerahkan bantuan logistik. Pendampingan juga dilakukan dengan membangun kebersamaan bersama warga terdampak.
“Bukan hanya membawa bantuan berupa logistik, tetapi menguatkan saudara-saudara kita dengan berdoa dan bernyanyi bersama. Kita tidak membiarkan mereka berjalan sendirian. Kita ikut hadir dan merasakan, serta menjadi perpanjangan tangan Tuhan bagi mereka yang membutuhkan,” kata Priskila.
Penyaluran bantuan berlangsung pada 4-6 September 2026.
Pada Jumat (4/9), bantuan disalurkan di empat titik di Kabupaten Manggarai Barat, yakni Dusun Nara dan Dusun Ledang di Desa Pong Majok, Kecamatan Lembor, tiga dusun di Desa Robo, Kecamatan Welak, serta Desa Poco Rutang, Kecamatan Lembor.
Sehari berikutnya, tim bergerak ke Kabupaten Manggarai Timur. Bantuan diberikan kepada warga RT 15 hingga RT 19 serta RT 20 dan RT 21 di Kelurahan Mando Sawu, Kecamatan Poco Ranaka.
Pada Minggu (6/9), penyaluran berlanjut di Kabupaten Manggarai, masing-masing di Dusun Ruis dan Dusun Copu, Desa Ruis, Kecamatan Reok, serta Desa Bere, Kecamatan Cibal Barat.
Misi tersebut berlangsung di tengah kondisi pascagempa yang masih membutuhkan perhatian. Gempa Flores berkekuatan M7,7 pada 15 Agustus 2026 berdampak pada sejumlah wilayah, sementara tiga kabupaten masih menjalani masa tanggap darurat hingga 27 September 2026.
Setelah masa tanggap darurat berakhir, penanganan akan berlanjut pada tahap pemulihan dan pembangunan kembali. Kebutuhan warga karena itu tidak hanya berkaitan dengan bantuan darurat, tetapi juga pendampingan dalam proses pemulihan.
Tim Yayasan Sungai Kasih menyebut medan menuju sejumlah lokasi bantuan menjadi salah satu tantangan selama misi kemanusiaan di Manggarai Barat, Manggarai dan Manggarai Timur. (*)









