BALITOPIK.COM, BADUNG — Petani di Subak Delod Sema, Kelurahan Sading, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, memanen 26 ton bawang merah varietas Super Philip dari lahan seluas 2 hektare.
Hasil panen ini menjadi salah satu upaya Badung memperkuat pasokan pangan lokal sekaligus menjaga harga komoditas yang berpengaruh terhadap inflasi.
Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setda Badung, I Made Agus Aryawan, mengatakan hasil panen tersebut menunjukkan bawang merah cukup potensial dikembangkan di Badung.
“Hari ini petani membuktikan bahwa Kabupaten Badung sangat potensial untuk budidaya bawang merah sesuai arahan teknis Dinas Pertanian. Dari total 12 hektare pengembangan di Badung, wilayah Sading mendapat jatah 2 hektare yang hasilnya sangat baik,” kata Agus, Selasa (29/9/2026).
Menurut Agus, kualitas hasil panen di Subak Delod Sema juga tergolong baik. Setiap rumpun disebut mampu menghasilkan delapan hingga sembilan butir bawang, bahkan lebih.
Bawang merah bukan sekadar komoditas pertanian tambahan. Pergerakan harga bawang merah ikut memengaruhi inflasi sehingga ketersediaan pasokan dari petani lokal diharapkan dapat membantu menjaga stabilitas harga di pasar.
“Bawang merah ini komoditas strategis yang tidak hanya untuk konsumsi, tetapi juga berpengaruh pada pengendalian inflasi daerah. Kami bersyukur ketersediaan bawang di Badung terjaga baik dari hasil petani lokal maupun pasokan luar sehingga harga tidak melonjak,” ujarnya.
Pemkab Badung juga mendorong petani melakukan rotasi tanaman dengan menanam bawang merah di sela-sela musim tanam padi. Pola tersebut dinilai dapat membantu menjaga kondisi lahan sekaligus membuka sumber pendapatan tambahan bagi petani.
Agus mengatakan petani di Subak Delod Sema mendapat pendampingan teknis dari Dinas Pertanian dan Pangan Badung agar budidaya bawang merah dapat terus dilakukan.
“Kami mendorong petani khususnya di Subak Delod Sema agar terus menanam bawang merah di sela-sela budidaya padi. Hasilnya bagus dan metode pengerjaannya berjalan baik berkat pendampingan rutin dari dinas,” katanya.
Tantangan berikutnya adalah memastikan hasil panen terserap pasar dengan harga yang tetap menguntungkan petani. Pemkab Badung menyiapkan Perumda Pasar dan Pangan Badung sebagai salah satu pihak yang diharapkan dapat menyerap hasil produksi petani.
Agus mengatakan pemerintah ingin membangun rantai pasok dari petani hingga konsumen, termasuk membuka peluang pemasaran produk pertanian ke sektor pariwisata.
“Kendalanya tentu kita harus punya ekosistem terintegrasi antara produsen, konsumen, dan Perumda Pasar sebagai offtaker. Pemkab Badung mendorong optimalisasi Perumda Pasar untuk menyerap produk tani dan membuka akses hingga ke sektor pariwisata,” ujarnya.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Badung, Anak Agung Raka Sukadana, mengatakan diversifikasi tanaman juga penting untuk menjaga kesuburan lahan pertanian.
Menurutnya, lahan yang terus digunakan untuk menanam padi perlu diselingi dengan tanaman palawija atau hortikultura. Pola tersebut diharapkan mencegah penurunan produktivitas akibat kondisi tanah.
“Selain padi, petani wajib mengatur pola tanam palawija. Dalam hal ini hortikultura harus kita galakkan, karena ini juga akan berdampak terhadap kesuburan tanah,” kata Raka.
Untuk menjaga keberlanjutan produksi, petani di Subak Delod Sema juga didorong membentuk kelompok tani khusus hortikultura, terutama untuk budidaya bawang merah.
Program diversifikasi tersebut diproyeksikan berlanjut hingga 2027. Selain Mengwi, pengembangan bawang merah juga akan diperluas ke sejumlah wilayah lain di Badung, termasuk Kecamatan Petang dan Abiansemal. (*)









