BALITOPIK.COM, NTT — Dari sebuah pondok sederhana di Desa Boleng, Kecamatan Ile Boleng, Pulau Adonara, Maria Tuto Demon perlahan membawa tenun ikat khas daerahnya ke ruang yang lebih luas. Perempuan muda yang akrab disapa Ria itu bahkan pernah diundang dalam pertemuan perempuan penenun se-ASEAN di Luang Prabang, Laos.
Ria merupakan lulusan Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang tahun 2018. Alih-alih mengejar pekerjaan di instansi pemerintah atau perkantoran setelah menyandang gelar sarjana, ia memilih menekuni tenun ikat dan membangun Rumah Tenun Milenial pada 2022.
Bagi Ria, pilihan tersebut bukan sekadar soal berwirausaha. Ia ingin tenun yang diwariskan leluhur masyarakat Adonara tetap dikenal generasi muda sekaligus bisa menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat di kampung.
“Bagi saya, menjadi PNS atau bekerja di instansi pemerintah adalah pilihan yang baik. Tetapi saya percaya, setiap orang punya jalan pengabdian yang berbeda. Saya ingin menciptakan ruang bagi orang lain untuk bekerja dan berkembang, terutama anak-anak muda dan perempuan di kampung,” tutur Ria.
Ide untuk membangun ruang tenun sebenarnya sudah muncul sejak 2018. Saat itu, Ria pernah mengusulkan pembangunan pondok tenun ikat khas Kecamatan Ile Boleng melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Namun, rencana tersebut tidak kunjung terealisasi.
Ria kemudian memutuskan untuk memulainya sendiri.
Persoalan pertama yang dihadapi adalah modal. Setelah menyelesaikan kuliah, Ria belum memiliki cukup uang untuk membangun usaha. Pada saat yang sama, ia harus merawat ayahnya yang sedang sakit setelah menjalani operasi.
“Saya mulai dari apa yang saya bisa, dengan mulai menenun sendiri. Hasil tenun saya jual kepada senior-senior dan juga dosen-dosen saya waktu kuliah di Kupang. Dari hasil itulah saya kumpulkan sedikit demi sedikit untuk membeli benang dan kebutuhan produksi lainnya,” katanya.
Dari hasil penjualan itu, modal dikumpulkan sedikit demi sedikit hingga Ria mampu membangun pondok sederhana sebagai tempat menenun kain khas Adonara.
Pilihan tersebut juga berangkat dari kegelisahannya melihat semakin banyak anak muda di daerah terpencil yang memilih merantau karena terbatasnya lapangan pekerjaan. Di sisi lain, Ria khawatir perkembangan zaman membuat generasi muda semakin jauh dari budaya tenun.
“Saya melihat tenun Adonara memiliki nilai yang sangat besar. Di balik selembar kain ada sejarah, filosofi, keterampilan, dan identitas orang Adonara. Tetapi kalau generasi muda tidak lagi tertarik belajar menenun, perlahan-lahan budaya itu bisa hilang,” ujarnya.
Karena itu, Rumah Tenun Milenial tidak hanya menjadi tempat produksi kain. Ria ingin tempat tersebut menjadi ruang belajar sekaligus membuka peluang bagi perempuan dan anak muda untuk mendapatkan penghasilan tanpa harus meninggalkan kampung.
“Saya ingin membuktikan bahwa kita tidak harus meninggalkan kampung untuk menjadi sukses. Kita juga bisa membangun sesuatu dari kampung sendiri, mengangkat budaya kita, dan hidup dari kekayaan yang kita miliki,” ungkapnya.
Upaya memperkenalkan tenun Adonara kemudian dilakukan Ria dengan membawa produknya ke berbagai forum dan kegiatan. Ia tidak hanya menjual kain, tetapi juga memperkenalkan cerita dan nilai budaya yang ada di balik tenun tersebut.
Salah satu pengalaman yang cukup penting adalah ketika Ria mendapat dukungan Yayasan Samdhana Institute untuk memperkenalkan tenun Adonara dalam pertemuan perempuan penenun se-ASEAN di Luang Prabang, Laos.
Kesempatan tersebut membuat tenun Adonara tidak hanya dikenal di lingkup lokal. Ria juga mengikuti berbagai kegiatan lain, seperti Lestari Bumi Cau di Labuan Bajo, fashion show di Bali, serta sejumlah festival yang diselenggarakan pemerintah di Jakarta dan Nusa Tenggara Timur.
Pada 2025, Ria juga menjadi delegasi pengusaha muda Indonesia dalam FutureAction Summit di Kuala Lumpur, Malaysia.
Bagi Ria, memperkenalkan tenun kepada anak muda membutuhkan cara yang lebih dekat dengan perkembangan zaman. Selama ini, kain tenun terkadang dianggap sebagai sesuatu yang kuno atau hanya digunakan untuk acara adat.
Karena itu, ia mulai mengembangkan tenun menjadi berbagai produk, seperti pakaian, tas, kalung, gelang hingga anting.
“Saya mencoba mengolah tenun menjadi pakaian, tas, kalung, gelang, anting, dan berbagai produk yang mengikuti tren anak muda,” katanya.
Ria berharap tenun Adonara tetap memiliki akar budaya yang kuat, tetapi bisa mengikuti perkembangan zaman dan semakin dikenal di luar daerah.
“Harapan saya, tenun Adonara tetap berakar di budaya kita, tetapi bisa mengikuti zaman, diterima anak muda, dikenal di seluruh Indonesia, bahkan sampai ke luar negeri,” pungkasnya. (*)









