BALITOPIK.COM, DENPASAR — DPD Asosiasi Travel Agent Indonesia (ASITA) Bali akan menggelar Musyawarah Daerah (MUSDA) XV ASITA Bali 2026 pada 16 Oktober 2026 di InterContinental Bali Resort, Jimbaran.
Mengusung tema “Repositioning the Future of Tourism”, MUSDA XV ASITA Bali akan membahas sejumlah persoalan yang berkaitan dengan masa depan pariwisata Bali, mulai dari pemerataan destinasi, penegakan aturan usaha pariwisata hingga penguatan pengusaha lokal.
Ketua Panitia MUSDA XV ASITA Bali, IG Ayu Kade Purnamawati, mengatakan kegiatan tersebut ditargetkan diikuti sekitar 250 biro perjalanan wisata (BPW) dari total 371 anggota ASITA Bali.
“Hari ini yang sudah register sebanyak 223 peserta anggota aktif ASITA Bali, baik full member maupun associate member,” ujarnya saat konferensi pers di Kantor Bali Tourism Board (BTB), Renon, Denpasar, Kamis (8/10/2026).
Selain anggota ASITA Bali, MUSDA XV juga akan dihadiri Ketua Umum DPP ASITA, Gubernur Bali, jajaran pemerintah daerah, Bali Tourism Board, serta sejumlah stakeholder dan mitra industri pariwisata.
Dalam MUSDA kali ini, I Putu Winastra juga kembali maju sebagai calon Ketua ASITA Bali. Ketua Panitia Pengarah (Steering Committee) MUSDA XV ASITA Bali, I Ketut Ardana, mengatakan proses penjaringan calon ketua telah dilakukan sesuai ketentuan organisasi.
Penjaringan disampaikan kepada anggota pada 24 September 2026 dan dibuka hingga 2 Oktober 2026 pukul 18.00 WITA.
“Hingga batas waktu yang telah ditetapkan, Panitia Pengarah telah menerima dan mencatat satu nama calon, yaitu I Putu Winastra, S.AB., M.A.P., yang sebelumnya juga menjabat sebagai Ketua ASITA Bali,” kata Ardana.
Winastra mengatakan tema “Repositioning the Future of Tourism” diarahkan pada dua hal, yakni pembenahan kelembagaan dan penataan destinasi.
Dari sisi kelembagaan, ASITA ingin memperkuat posisinya sebagai wadah pelaku usaha perjalanan wisata yang legal dan profesional. Organisasi, menurutnya, tidak cukup hanya memperjuangkan kepentingan anggota, tetapi juga perlu memberikan masukan terhadap kebijakan pariwisata Bali.
“ASITA harus semakin solid sebagai organisasi yang mewadahi pelaku usaha perjalanan wisata yang legal dan profesional,” ujar Winastra.
Sementara dari sisi destinasi, ASITA mendorong agar aktivitas wisata tidak terus terkonsentrasi di Bali Selatan. Bali Utara, Bali Timur dan Bali Barat dinilai memiliki potensi yang dapat dikembangkan untuk menciptakan pilihan destinasi baru.
“Ini bukan hanya persoalan memindahkan wisatawan. Ini adalah upaya mengurangi tekanan di satu wilayah sekaligus membuka peluang ekonomi di wilayah lainnya,” katanya.
Menurut Winastra, pengembangan destinasi di luar Bali Selatan juga akan membuka peluang ekonomi bagi masyarakat lokal, UMKM, transportasi, akomodasi, restoran, pemandu wisata hingga sektor ekonomi kreatif.
Selain pemerataan destinasi, ASITA Bali menyoroti penegakan aturan terhadap pelaku usaha pariwisata yang belum memiliki legalitas atau tidak memenuhi ketentuan.
Winastra menilai persoalan tersebut tidak semestinya hanya dilihat sebagai persaingan antara usaha online dan offline. Yang lebih penting, kata dia, adalah bagaimana aturan diterapkan secara konsisten kepada seluruh pelaku usaha.
“Yang legal harus mendapatkan kepastian. Yang belum memenuhi ketentuan harus dibina atau ditindak sesuai aturan,” tegasnya.
ASITA juga mendorong penguatan pengusaha lokal di tengah perkembangan investasi pariwisata Bali. Winastra menegaskan pihaknya tidak menolak investasi, namun berharap investasi dapat menciptakan kemitraan dengan pelaku usaha lokal.
“Kami mendorong adanya kemitraan yang sehat antara investor dengan pengusaha lokal, termasuk BPW yang legal dan profesional,” ujarnya.
Ia berharap masyarakat Bali tidak hanya menjadi penerima dampak dari pertumbuhan pariwisata, tetapi ikut memperoleh manfaat ekonomi.
“Masyarakat Bali harus menjadi bagian dari pertumbuhan pariwisata, bukan hanya menjadi penonton,” tegas Winastra.
Menurutnya, masa depan pariwisata Bali juga tidak cukup hanya diukur dari jumlah wisatawan. Pengelolaan destinasi, pemerataan manfaat ekonomi, kepastian usaha dan keberlanjutan menjadi bagian yang tidak kalah penting.
“Bukan hanya bagaimana Bali menerima wisatawan, tetapi bagaimana Bali mengelola masa depan pariwisatanya,” pungkasnya.









