Balitopik.com, BALI – Sampah ada karena konsekuensi logis dari aktivitas komunitas manusia, artinya ketika komunitas manusia melaksanakan aktivitas, dimanapun mereka berada, pastilah meninggalkan dan melahirkan kumpulan benda yang disebut sampah.
Dan hakekat manusia, pastilah selalu dibekali akal dan budi, untuk menangani konsekuensi setiap aktivitas dengan segala dampaknya.
Pertanyaannya, kenapa sampah yang ada di Bali, seolah-olah belum bisa ditangani secara baik dan tuntas, bagaimana dengan daerah lain seperti provinsi lainnya di Indonesia ini?.
Kegagalan menangani fenomena sampah di Bali, mengandung konsekuensi logis yang lebih luas, karena daerah Bali dikenal luas sebagai daerah pariwisata, yang sangat alergi dengan fenomena sampah, begitu juga sebagai kelompok masyarakat yang dikenal sangat meyakini Tri Hita Karana sebagai filosofi masyarakat Bali, tentu secara psikologis, sosial dan ekonomi berpengaruh besar terhadap masa depan Bali.
Permasalahannya, apakah fenomena sampah ini bisa atau tidak diatasi?
Jawabannya adalah sangat bisa, dengan cara tangani secara komprehensif di hulu sampai dengan di hilir, dengan target seminimal mungkin ke tempat pembuangan akhir, dan output dari penanganan tersebut dalam bentuk sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat dengan mudah dan murah.
Untuk mewujudkan hal tersebut, pemerintah dari kabupaten/kota, provinsi dan pusat harus hadir. Bagaimana strategi dan manajemen penanganannya, kami siap mendiskusikannya, yang jelas paling tidak dalam waktu paling lambat tiga tahun fenomena sampah di Bali tertangani secara komprehensif, dengan catatan semua pihak serius dan sungguh-sungguh ikut menanganinya.
Sugawa Korry ingin mengajak stakeholder pemerintah, swasta dan masyarakat bahwa untuk mewujudkan penanganan sampah yang komprehensif, saya siap untuk memberikan masukan melalui diskusi- diskusi. (*)