Balitopik.com, DENPASAR – Bali tengah menghadapi dinamika industri pariwisata domestik yang semakin kompetitif. Data tahun 2025 menunjukan kunjungan wisatawan nusantara menurun tajam.
Berdasarkan data awal tahun 2026, kunjungan wisatawan domestik ke Bali mencatatkan angka sekitar 9,28 juta kunjungan pada akhir 2025. Meski tetap tinggi, angka ini menunjukkan penurunan sekitar 700.000 orang dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 10,1 juta kunjungan.
Fakta ini cukup krusial. Tim Bali Topik mencoba menelusuri penyebab dan menawarkan strategi agar wisatawan nusantara kembali menentukan pilihan liburan ke Bali.
Berdasarkan hasil kajian, hipotesis menurunnya wisatawan nusantara ke Bali disebabkan oleh beberapa faktor;
- Pergeseran Tren Destinasi. Wisatawan domestik mulai beralih ke destinasi alternatif lain di Indonesia yang sedang populer, seperti Labuan Bajo dan Yogyakarta.
- Masalah Kualitas Pengalaman. Adanya kebutuhan untuk meningkatkan kembali aspek “Excellent Services” (layanan prima), terutama dalam hal keamanan di destinasi wisata, kebersihan lingkungan, serta keramahan sumber daya manusia agar wisatawan merasa mendapatkan nilai yang sepadan dengan biaya yang dikeluarkan (value for money).
- Kurangnya Inovasi Pengalaman Lokal. Wisatawan mulai mencari pengalaman yang lebih autentik di luar wisata pantai konvensional, seperti wisata kuliner tradisional di desa wisata dan eksplorasi destinasi “permata tersembunyi” (hidden gems) yang belum tergarap maksimal promosinya pada awal 2025.
- Penurunan Daya Beli dan Perlambatan Ekonomi. Memasuki tahun 2025, indikator ekonomi menunjukkan adanya perlambatan yang nyata. Melemahnya daya beli membuat masyarakat lebih selektif dalam mengalokasikan dana untuk hiburan. Wisata ke luar pulau seperti Bali yang membutuhkan biaya transportasi udara dan akomodasi cukup tinggi mulai dianggap sebagai pengeluaran yang bisa ditunda atau diganti dengan opsi yang lebih murah.
- Efisiensi Anggaran Pemerintah dan Korporasi. Penurunan ini juga diperparah oleh kebijakan efisiensi dari pemerintah pusat dan sektor swasta. Sepanjang tahun 2025, terjadi pengurangan jumlah acara nasional, rapat kerja (MICE), maupun perjalanan dinas ke Bali.
- Kenaikan Biaya Perjalanan (Tiket Pesawat). Beberapa pengamat pariwisata mencatat bahwa menurunya wisnus ke Bali disebabkan oleh minimnya frekuensi penerbangan yang menyebabkan harga tiket pesawat tetap mahal, sehingga wisatawan domestik lebih memilih destinasi yang bisa dijangkau dengan jalur darat (seperti Yogyakarta atau Malang) atau beralih ke destinasi baru yang menawarkan promo lebih kompetitif.
Lalu apa strategi yang harusnya dilakukan Pemerintah Provinsii Bali dan stakeholder pariwisata agar kunjungan wisatawan nusantara kembali meningkat?. Kami mencoba menawarkan beberapa solusi sebagai berikut;
- Transformasi Wisata Belanja dan Kuliner Lokal
Pemerintah Bali mulai menggeser daya tarik utama tidak hanya pada pantai, tetapi juga pada pengalaman gaya hidup. Pembukaan pusat perbelanjaan modern yang mengusung konsep UMKM lokal sebagai magnet baru. Strategi ini dipadukan dengan pengangkatan kuliner tradisional di destinasi wisata alam (seperti air terjun dan desa wisata) untuk menarik minat keluarga dan generasi muda yang gemar mencari pengalaman autentik.
- Digitalisasi Promosi: Memfasilitasi Content Creator
Mulai mengintensifkan promosi digital dengan menggandeng influencer dan content creator. Melalui program Fam Trip (perjalanan pengenalan), pemerintah memfasilitasi para kreator untuk memproduksi konten berkualitas tinggi di destinasi “permata tersembunyi” Bali Utara dan Timur guna menyebarkan tren liburan baru di media sosial.
- Kalender Event Budaya dan Sport Tourism 2026
Bali telah menyiapkan kalender acara yang padat sepanjang tahun 2026 untuk memberikan alasan bagi wisatawan domestik berkunjung berulang kali. Beberapa event unggulan seperti Bali Spirit Festival dan Ubud Food Festival untuk segmen wellness dan kuliner, Beachwalk Kuta Fest (Juni 2026), Semarak Pandawa (Juli 2026) untuk segmen keluarga, Tradisi unik seperti Siat Geni (September 2026) dan Mekotek (Juni 2026) sebagai daya tarik wisata budaya. Event-event tersebut perlu dipromosikan secara maksimal.
- Fokus pada “Excellent Services” dan Keamanan
Meningkatkan layanan wisata (Layanan Prima). Strategi ini mencakup peningkatan standar keselamatan di destinasi wisata, kebersihan lingkungan, hingga keramahan SDM secara khusus pada para pelaku usaha wisata agar tidak pilih kasih antara wisatawan asing dan wisatawan lokal. (*)

















