BALITOPIK.COM, INSPIRASI– Kadang, kebaikan sederhana bisa meninggalkan kesan yang bertahan bertahun-tahun. Itulah yang dialami Nyoman Parta. Enam tahun lebih ia menyimpan rasa penasaran terhadap seseorang yang menemukan tasnya di Rumah Sakit Indra Mata, Denpasar, lalu mengembalikannya tanpa mengambil satu pun barang di dalamnya.
Orang itu bernama Wayan Suarta, berusia 60 tahun. Setelah sekian lama tidak mengetahui siapa sosok yang telah berbuat baik kepadanya, Parta akhirnya bertemu langsung dengan Wayan dalam sebuah pertemuan yang sama sekali tidak direncanakan.
Pertemuan itu terjadi di Pura Pasek Gelgel Aan Manikaji, Desa Peninjoan, Kecamatan Tembuku, Bangli.
Untuk memahami mengapa pertemuan tersebut begitu berarti, ceritanya perlu kembali ke 4 Maret 2020.
Pagi itu, Parta mengantar ibunya berobat ke Rumah Sakit Indra Mata. Seperti pasien lainnya, ia harus menunggu giliran pemeriksaan. Setelah mendapatkan nomor antrean 25, ia duduk bersama pasien dan keluarga yang juga menunggu panggilan.
Ketika gilirannya tiba, ibunya menjalani pemeriksaan melalui beberapa tahapan. Semuanya berjalan lancar. Namun, setelah urusan di rumah sakit selesai, Parta baru menyadari ada sesuatu yang tertinggal.
Tas tangannya tidak ada.
Ia pun kembali memeriksa tempat duduk yang sebelumnya ditempati. Sayangnya, tas itu sudah tidak ditemukan. Padahal, isinya bukan barang sepele. Ada telepon genggam, uang, kartu anggota DPR RI, serta PIN paspor yang sedang diurusnya.
Bisa dibayangkan bagaimana perasaannya saat itu. Barang-barang penting tersebut mendadak tidak diketahui keberadaannya.
Namun, tas itu ternyata tidak hilang begitu saja. Seorang pasien yang juga sedang mengantar ibunya berobat menemukannya di deretan tempat duduk. Alih-alih mengambil barang-barang di dalamnya, orang tersebut justru menitipkan tas itu kepada petugas informasi rumah sakit.
Seluruh isinya masih utuh.
Orang yang menemukan tas tersebut adalah Wayan Suarta. Saat itu, Parta dan Wayan tidak sempat bertemu, tidak juga kenal. Wayan juga tidak meninggalkan identitas sehingga Parta tidak mengetahui siapa orang yang telah membantunya.
Pada hari yang sama, 4 Maret 2020, Parta menuliskan kejadian itu di Facebook. Ia menyampaikan terima kasih kepada orang yang telah menjaga tasnya. Ia juga mendoakan agar orang tersebut segera sembuh karena saat itu sedang mengantar ibunya berobat.
Sejak saat itu, ada satu hal yang masih membuat Parta penasaran, siapa sebenarnya orang yang menemukan tasnya dan memilih mengembalikannya dalam keadaan utuh?
Waktu berjalan. Enam tahun lebih berlalu, hingga akhirnya jawaban itu datang dari tempat yang tidak pernah ia duga.
Saat berada di Pura Pasek Gelgel Aan Manikaji, Desa Peninjoan, Tembuku, Minggu (18/10/2026) seorang penglingsir warga Pasek bernama Guru Muyawan memberi tahu Parta bahwa orang yang menemukan tasnya di Rumah Sakit Indra Mata adalah Wayan Suarta.
Mendengar kabar tersebut, Parta seperti tidak percaya. Orang yang selama bertahun-tahun hanya ia kenal melalui sebuah peristiwa akhirnya berada di hadapannya.
Ia langsung meminta Wayan duduk di sampingnya. Kesempatan itu tidak ingin dilewatkannya begitu saja. Setelah sekian lama bertanya-tanya, kini ia bisa mendengar sendiri cerita dari orang yang telah menjaga barang-barangnya.
Wayan kemudian menceritakan bahwa pada hari itu ia memang sedang mengantar ibunya yang sakit katarak ke rumah sakit tersebut.
Parta lalu menanyakan satu hal yang sejak dulu mungkin ingin ia ketahui. Mengapa Wayan tidak mengambil uang yang ada di dalam tas, padahal jumlahnya cukup banyak dan Wayan sendiri sedang membutuhkan uang?
Jawaban Wayan sederhana, tetapi justru itulah yang membuat Parta terharu.
“Bukan hak ty,” jawab Wayan, sebagaimana diceritakan kembali oleh Parta dalam unggahannya.
Tidak ada penjelasan panjang. Wayan hanya menegaskan bahwa uang itu bukan miliknya.
Bagi Parta, jawaban tersebut menjadi pelajaran yang sangat berharga. Di tengah kesulitan yang mungkin sedang dihadapi seseorang, kejujuran tetap menjadi pilihan. Wayan bisa saja mengambil uang itu tanpa diketahui pemiliknya, tetapi ia memilih menjaga barang tersebut dan menyerahkannya kepada petugas rumah sakit.
Enam tahun lalu, Wayan mungkin menganggap apa yang dilakukannya sebagai hal biasa. Ia menemukan barang milik orang lain, lalu mengembalikannya. Tidak ada yang perlu dibesar-besarkan.
Namun, bagi Parta, tindakan sederhana itu meninggalkan kesan yang panjang. Bahkan setelah bertahun-tahun, ia masih mengingat kejadian tersebut dan berharap suatu hari bisa bertemu dengan orang yang telah berbuat baik kepadanya.
Kini, rasa penasaran itu akhirnya terjawab. Keduanya bertemu bukan karena membuat janji, bukan pula karena sengaja mencari satu sama lain, melainkan melalui pertemuan yang tidak direncanakan di sebuah pura.
Parta pun menyampaikan terima kasih kepada Wayan Suarta dan mendoakan agar ia bersama keluarganya selalu sehat.
Kisah ini mungkin bermula dari sebuah tas yang tertinggal di rumah sakit. Namun, yang membuatnya bertahan hingga enam tahun kemudian bukanlah soal tas atau uang di dalamnya.
Melainkan kejujuran seseorang yang memilih tidak mengambil sesuatu yang bukan haknya.
Kadang, kebaikan tidak membutuhkan banyak kata. Cukup dilakukan dengan tulus, lalu dibiarkan menjadi pelajaran bagi orang lain. (*)









