• Latest
  • Trending
  • All
  • Pariwisata
  • Uncategorized
  • Nasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Bali
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Travel
  • Hukum
  • Olahraga
  • Peristiwa
  • Kesehatan
  • Edukasi
Inosius Pati Wedu,S.IP

Kerja Keras Tetap Hidup Susah, Membongkar Mitos Hustle Culture di Bali

4 menit ago
Nyoman Parta saat bersalaman dengan Suyudi Ario Seto. -BALITOPIK.COM

Nyoman Parta Titip Empat Harapan kepada Kapolri Baru Suyudi Ario Seto

15 jam ago
Kepala Rudenim Denpasar, Teguh Mentalyad. -BALITOPIK.COM

Jumlah Deteni Rudenim Denpasar Naik 76,92 Persen, Deportasi Terus Dipercepat

18 jam ago
Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri), Komjen Pol. Suyudi Ario Seto. -IST

Kapolri Baru, Profil dan Jejak Karier Suyudi Ario Seto

19 jam ago
Kepala BNN Kota Denpasar, Dr. Leo Dedy Defretes. -BALITOPIK.COM

BNN Denpasar Ungkap 4 Kasus Etomidate di Bali, Modus Liquid Vape Jadi Perhatian

19 jam ago
Wakil Bupati Badung Bagus Alit Sucipta saat memimpin Rapat Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan 2026 di Ruang Kriya Gosana, Puspem Badung. -IST

Kemiskinan Badung 1,9 Persen, Pemkab Bidik Turun hingga 1,05 Persen pada 2030

2 hari ago
Pemkab Badung memanen 26 ton bawang merah varietas Super Philip di lahan seluas 2 hektar wilayah Subak Delod Sema, Kelurahan Sading, Kecamatan Mengwi. -IST

Panen 26 Ton Bawang Merah di Sading, Badung Siapkan Pasar untuk Petani

2 hari ago
Ketua Dekranasda Kabupaten Badung, Nyonya Rasniathi Adi Arnawa. -IST

Produk Kerajinan Badung Tembus Rp32 Juta dalam Tiga Hari di Kriyanusa 2026

2 hari ago
Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Denpasar, Dr. Leo Dedy Defretes, S.H., S.I.K., M.H. -BALITOPIK.COM

Desa Pemogan dan Pemecutan Kelod Masuk Zona Merah Peredaran Narkoba

2 hari ago
  • Home
  • Bali
    • Peristiwa
    • Travel
  • Nasional
    • Politik
    • Pendidikan
    • Hukum
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Opini
  • Teknologi
  • Lifestyle
    • Entertainment
  • World
No Result
View All Result
  • Login
Login Sign Up
No Result
View All Result
No Result
View All Result

Kerja Keras Tetap Hidup Susah, Membongkar Mitos Hustle Culture di Bali

Aktivis sosial,buruh dan penggiat literasi: Inosius Pati Wedu,S.IP

Reporter balitopik.com
2 Oktober 2026 - 2:52 am
Inosius Pati Wedu,S.IP

Inosius Pati Wedu,S.IP

BALITOPIK.COM, OPINI – Kawan-kawan, saya bekerja delapan jam sehari di tempat yang jauh dari rumah. Libur saya seminggu sekali, dan hampir setiap bulan ada saja yang membuat saya nyaris tidak sempat beristirahat. Dari pengalaman itu saya mulai bertanya,sebenarnya kita sedang kejar apa, dan siapa yang diuntungkan?

Belakangan makin sering terdengar nasihat bahwa untuk sukses kita harus bekerja lebih keras. Jangan mengeluh, jangan malas, manfaatkan waktu sebaik mungkin. Kalau pekerjaan utama tidak cukup, cari sampingan. Kalau masih belum berhasil, mungkin kita belum cukup keras bekerja. Saya merasa ada yang keliru dari cara berpikir ini.

Bukan karena saya menolak kerja keras. Saya percaya kerja keras adalah bagian penting hidup. Yang saya keberatan adalah ketika kerja keras dijadikan jawaban atas semua persoalan ekonomi, seakan kemiskinan, upah rendah, dan sulitnya memenuhi kebutuhan hidup semata-mata karena seseorang kurang berusaha. Inilah yang perlu kita pertanyakan dari budaya hustle.

Budaya hustle menjadikan kesibukan sebagai kebanggaan. Bekerja dari pagi sampai malam disebut produktif, punya dua atau tiga pekerjaan dianggap punya semangat juang, dan tidur sedikit dianggap pengorbanan demi masa depan. Beristirahat pun kadang membuat orang merasa bersalah. Seolah hidup harus selalu menghasilkan sesuatu, dan kita lupa bahwa manusia bukan mesin.

Bali sering dibayangkan penuh peluang berkat pariwisatanya, hotel berdiri, restoran tumbuh, tempat wisata ramai. Namun di balik itu ada pekerja yang setiap bulan harus menghitung ulang penghasilannya, memastikan cukup atau tidak sampai akhir bulan.

Pada 2026, UMP Bali sekitar Rp3,2 juta, UMK Denpasar sekitar Rp3,5 juta, dan UMK Badung sekitar Rp3,79 juta. Pemerintah daerah pernah menyebut standar hidup layak di Bali berada di kisaran Rp5 juta. Jika pendapatan seseorang sekitar upah minimum sementara kebutuhannya jauh lebih besar, apakah jawaban paling masuk akal adalah menyuruhnya bekerja lebih keras? Dan jika ia mengambil pekerjaan sampingan karena penghasilan utamanya tidak cukup, pantaskah kita hanya memujinya sebagai pekerja keras?

Saya kira tidak sesederhana itu. Ada perbedaan besar antara bekerja keras karena punya cita-cita dan bekerja keras karena tidak punya pilihan. Orang yang bekerja lebih lama untuk membangun usaha mungkin sedang mengejar impian. Orang yang bekerja sepanjang hari karena takut tidak mampu membayar sewa, makan, atau kebutuhan keluarga berada dalam situasi yang berbeda. Keduanya tidak bisa terus kita bungkus dengan kalimat motivasi yang sama.

Yang lebih mengkhawatirkan, budaya hustle mengubah persoalan struktural menjadi persoalan pribadi. Upah rendah disebut ,kurang skill. Biaya hidup tinggi disebut kurang pintar mengatur keuangan. Sulit mendapat pekerjaan layak disebut kurang networking. Kelelahan disebut kurang disiplin. Akhirnya orang yang gagal bertahan menyalahkan dirinya sendiri,merasa tidak cukup pintar, tidak cukup rajin, tidak cukup produktif. Padahal persoalannya mungkin bukan semata-mata pada dirinya.

Kita perlu berhenti memandang pekerja hanya sebagai angka produktivitas. Di balik setiap pekerjaan ada manusia yang butuh waktu untuk hidup, istirahat, keluarga, kesehatan, pendidikan, dan ruang menikmati hidupnya sendiri. Apa gunanya pertumbuhan ekonomi jika orang-orang yang menggerakkannya tidak punya cukup waktu untuk menikmati hidup?

Bali tidak hanya dibangun oleh investasi, hotel, restoran, dan wisatawan, tetapi juga oleh mereka yang membersihkan kamar, memasak di dapur, mengantar makanan, berdiri berjam-jam melayani pelanggan, dan bekerja ketika sebagian orang sedang berlibur. Karena itu, ketika membicarakan ekonomi Bali, suara pekerja harus menjadi bagian dari pembicaraan.

Saya tidak mengatakan pekerja tidak perlu meningkatkan kemampuan. Pendidikan dan keterampilan tetap penting. Saya juga tidak mengatakan perusahaan tidak boleh mengejar produktivitas. Tetapi produktivitas tidak boleh jadi alasan untuk melupakan manusia. Kita harus berani membedakan etos kerja dari budaya kerja berlebihan. Kerja keras seharusnya jalan menuju hidup yang lebih baik, bukan lingkaran tanpa akhir di mana orang bekerja makin banyak tetapi tetap tidak mampu hidup layak.

Mungkin sudah saatnya kita berhenti bertanya kepada pekerja, Mengapa kamu belum sukses? Mulailah bertanya, apakah seseorang yang bekerja penuh waktu sudah bisa hidup layak dari pekerjaannya? Jika belum, persoalannya tidak bisa diselesaikan hanya dengan berkata, Kerja lebih keras.

Manusia memang harus bekerja, tetapi manusia juga berhak hidup. Masyarakat perlu berhati-hati ketika kerja sampai kelelahan dianggap keberhasilan, sementara punya waktu untuk hidup dianggap kemewahan. Jangan sampai kita sibuk mengajarkan orang bekerja lebih keras, sampai lupa bertanya mengapa mereka harus bekerja sekeras itu hanya untuk hidup layak. (*)

Tags: Biaya Hidup Baliburuh Baliekonomi Balihustle cultureinosiuspatiwedukehidupan pekerjakerja kerasKesejahteraan PekerjaKetenagakerjaanopini BaliPekerja BaliUpah Baliupah minimum
SendShareShareSend

Media Social

Facebook Instagram TikTok YouTube Chat WhatsApp

TOPIK MEDIA GROUP

  • Blog
  • Box Redaksi
  • Elementor #10692
  • Home
  • kebijakan privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Syarat dan ketentuan

Recent Posts

  • Kerja Keras Tetap Hidup Susah, Membongkar Mitos Hustle Culture di Bali
  • Nyoman Parta Titip Empat Harapan kepada Kapolri Baru Suyudi Ario Seto
  • Jumlah Deteni Rudenim Denpasar Naik 76,92 Persen, Deportasi Terus Dipercepat
No Result
View All Result
  • Home
  • Politik
  • Hukum
  • Bali
  • Opini
  • Lifestyle
  • Nasional
  • Internasional

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist