BALITOPIK.COM, BALI – Kemacetan panjang terjadi di jalur Denpasar–Gilimanuk, terutama menjelang pintu masuk Pelabuhan Gilimanuk. Kondisi ini bahkan dilaporkan menyebabkan sejumlah pemudik pingsan setelah terjebak berjam-jam di tengah kemacetan, suhu panas, serta polusi kendaraan.
Menanggapi situasi tersebut, Gubernur Bali Wayan Koster memetakan sejumlah penyebab kemacetan yang terjadi. Menurutnya, lonjakan kunjungan wisatawan domestik menjadi salah satu faktor utama meningkatnya kepadatan kendaraan di Bali.
Ia menyebutkan, jumlah wisatawan domestik yang datang ke Bali meningkat sekitar 19 persen, sementara wisatawan mancanegara naik sekitar 6 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025.
“Memang Bali saat ini sangat padat. Wisatawan domestik yang datang meningkat 19 persen dan wisatawan mancanegara naik 6 persen dibandingkan hari yang sama tahun lalu. Jadi Bali ini sekarang benar-benar penuh,” ujar Koster.
Selain lonjakan wisatawan, kondisi geografis jalur Denpasar–Gilimanuk juga dinilai turut memicu kemacetan. Jalan yang dipenuhi tikungan dan tanjakan membuat kendaraan berat, terutama angkutan logistik, harus melaju dengan kecepatan rendah sehingga memicu antrean panjang kendaraan di belakangnya.
“Di jalur ini banyak tikungan dan tanjakan. Angkutan logistik tentu tidak bisa melaju cepat sehingga memperlambat arus kendaraan dan memicu kemacetan,” jelasnya.
Koster mengakui bahwa kapasitas infrastruktur jalan di jalur tersebut saat ini sudah tidak lagi memadai untuk menampung volume kendaraan yang terus meningkat.
“Memang kondisi jalan kita sudah tidak memadai lagi. Karena itu, tidak ada pilihan lain selain melakukan pembenahan infrastruktur secara menyeluruh,” tegasnya.
Untuk mengurangi kemacetan, Pemerintah Provinsi Bali juga akanh menyiapkan kebijakan baru terkait pengaturan pergerakan kendaraan, khususnya antara angkutan logistik dan kendaraan pribadi di jalur Denpasar–Gilimanuk.
“Saya sudah mempertimbangkan untuk membuat kebijakan yaitu dengan surat edaran untuk mengatur pergerakan kendaraan logistik masuk Bali dan juga di dalam Bali,” kata Koster.
Ia berharap langkah tersebut dapat mengurangi kepadatan lalu lintas sekaligus memberikan kenyamanan bagi masyarakat maupun wisatawan yang melintas di jalur utama penghubung Bali Barat tersebut. (*)









