Oleh: Risaldus Pan
OPINI – Dalam berbagai ulasan kritisnya, jurnalis dan penulis opini Risaldus Pan secara konsisten menyoroti fenomena nepotisme dan kronisme sebagai ancaman eksistensial bagi demokrasi Indonesia. Menurutnya, praktik ini bukan sekadar masalah etika personal, melainkan sebuah “kanker” yang perlahan mematikan sumsum keadilan sosial dan profesionalisme di tubuh birokrasi.
Bakat yang Terbuang
Risaldus Pan menekankan bahwa dampak paling nyata dari nepotisme adalah matinya meritokrasi. Ketika jabatan publik atau posisi strategis diberikan atas dasar hubungan darah ketimbang kompetensi, negara sebenarnya sedang menghukum individu-individu berbakat yang tidak memiliki jalur orang dalam.
”Nepotisme adalah cara sistematis untuk membunuh harapan anak bangsa yang hanya punya otak dan integritas, tapi tidak punya nama belakang yang berpengaruh,” tulis Risal dalam salah satu esainya.
Ia berpendapat bahwa kondisi ini menciptakan apatisme publik, di mana masyarakat mulai percaya bahwa kerja keras tidak lagi cukup untuk meraih kesuksesan di ruang publik.
Kronisme lingkaran Setan Kebijakan
Selain hubungan darah, Risal juga menguliti praktik kronisme pemberian keistimewaan kepada rekan bisnis atau sekutu politik. Dalam pandangan jurnalistiknya, kronisme menciptakan ekonomi yang tidak sehat karena keputusan negara seringkali terdistorsi oleh kepentingan kelompok kecil (inner circle).
Jurnalisme sebagai Watchdog
Sebagai seorang jurnalis, Risal memandang peran pers sangat krusial dalam membedah jaringan-jaringan gelap ini. Ia mendorong rekan sejawatnya untuk tidak hanya menjadi perekam pernyataan pejabat, tetapi menjadi penyelidik yang mampu menghubungkan titik-titik (connecting the dots) antara pembuat kebijakan dan penerima manfaat.
”Tugas jurnalis adalah menyalakan lampu di ruangan gelap di mana kesepakatan-kesepakatan di bawah meja dibuat. Tanpa transparansi yang dipaksakan oleh pers, nepotisme akan dianggap sebagai budaya, padahal itu adalah kejahatan terhadap hak publik,” tegasnya
Mengembalikan Martabat Publik
Bagi Risal, perjuangan melawan nepotisme dan kronisme adalah perjuangan mengembalikan martabat institusi negara. Demokrasi hanya akan sehat jika pintu-pintu kekuasaan terbuka bagi mereka yang paling mampu, bukan mereka yang paling terkoneksi. (*)















