• Latest
  • Trending
  • All
  • Pariwisata
  • Uncategorized
  • Nasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Bali
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Travel
  • Hukum
  • Olahraga
  • Peristiwa
  • Kesehatan
  • Edukasi
dr. Putu Nindya Ayu Ningrum Subadra, S.Ked.

Mengenal Konstipasi dari Dokter Putu Nindya Ayu Ningrum Subadra

3 tahun ago
Ilustrasi

BBM Langka di Bali, IWO Desak Dirut Pertamina Dicopot

12 jam ago
Gubernur Bali Wayan Koster saat memantau operasional di salah satu SPBU. -BALITOPIK.COM

Cek Depo Pertamina, Koster Minta Distribusi Dipacu

14 jam ago
Ketua DPC GMNI Denpasar, Wayan Hendra. -IST

BBM Langka di Bali, GMNI Denpasar Desak Pemerintah Buka Data dan Benahi Tata Kelola

16 jam ago
Pengurus PMKRI Cabang Denpasar. -BALITOPIK.COM

Masuk Hari Keempat Warga Ngantri Bensin Sampai Pingsan, PMKRI Denpasar Minta Pertamina Segera Lakukan 4 Hal

1 hari ago
Piagam penghargaan untuk BPD Bali kategori kinerja pembayaran pensiunan. -IST

Bank BPD Bali Raih Penghargaan Terbaik II Kinerja Pembayaran Pensiun dari TASPEN

2 hari ago
Antrean di salah satu pertamina di Singaraja. -BALITOPIK.COM

Bali WFH 3 Hari Akibat BBM Langka, Sekolah dan Kampus Belajar Daring

2 hari ago
Direktur YLPK Bali I Putu Armaya

Antrean BBM di Bali Berlarut, YLPK Usulkan Sistem Ganjil-Genap Jika Kondisi Darurat Berlanjut

2 hari ago
Antrean di salah satu pertamina di Singaraja. -BALITOPIK.COM

KMHDI Buleleng Desak Pemerintah Bertindak Tegas Atasi Gangguan Pasokan BBM di Bali

2 hari ago
  • Home
  • Bali
    • Peristiwa
    • Travel
  • Nasional
    • Politik
    • Pendidikan
    • Hukum
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Opini
  • Teknologi
  • Lifestyle
    • Entertainment
  • World
No Result
View All Result
  • Login
Login Sign Up
No Result
View All Result
No Result
View All Result

Mengenal Konstipasi dari Dokter Putu Nindya Ayu Ningrum Subadra

Reporter balitopik.com
30 Oktober 2023 - 3:05 pm
dr. Putu Nindya Ayu Ningrum Subadra, S.Ked.

dr. Putu Nindya Ayu Ningrum Subadra, S.Ked.

BALITOPIK.COM – Pernah mengalami gangguan buang air besar (BAB) kurang dari 3 kali dalam seminggu? Itu namanya konstipasi. Selain membuat anda tak nyaman, hati-hati jika tidak diatasi segera, karena gangguan ini dapat membahayakan saluran cerna Anda.

Apa itu konstipasi?

Konstipasi atau smebelit adalah suatu kondisi dimana terjadi penurunan frekuensi BAB kurang dari 3 kali dalam 1 minggu, mengalami kesulitan saat defekasi ataupun keduanya. Beberapa orang menganggap bahwa mereka mengalami konstipasi apabila tidak melakukan defekasi atau BAB setiap hari, tetapi frekuensi BAB 3 kali atau lebih dalam seminggu masih dikatagorikan dalam batas normal. Setiap orang pasti pernah mengalami episode konstipasi setidaknya sekali dalam hidupnya.

Konstipasi merupakan salah satu penyakit saluran pencernaan yang paling sering ditemui. Setiap orang, dengan berbagai usia, jenis kelamin, dan ras dapat mengalami konstipasi. Berdasarkan data epidemiologi, konstipasi lebih banyak terjadi pada wanita, wanita hamil, orang tua, dan pasien yang mengalami imobilisasi yang lama.

Secara umum konstipasi dapat dibagi menjadi dua klasifikasi yaitu konstipasi yang bersifat akut dimana keluhan konstipasi berlangsung kurang dari 3 bulan, biasanya disebabkan oleh suatu kondisi perubahan diet, imobilisasi dalam waktu lama, efek samping obat, dan pengasuh psikologis. Sedangkan konstipasi kronis adalah suatu kondisi konstipasi yang berlangsung lebih dari 3 bulan, dapat bersifat fungsional yaitu tidak ditemukan adanya kelainan anatomis pada saluran pencernaan, ataupun sekunder akibat suatu kondisi medis lain.

Konstipasi sering juga disebut IBS ( irritable bowel syndrome- sindroem iritasi usus besar), padahal sebenarnya keduanya berbeda. IBS adalah penyakit dalam saluran cerna yang ditandai nyeri perut dan gangguan pola BAB. IBS dapat memiliki indikasi konstipasi, namun dapat pula menunjukkan gejala diare.

Penyebab Konstipasi

Konstipasi disebabkan oleh lamanya waktu transit kotoran di dalam saluran pencernaan, sehingga penyerapan air berlangsung lebih lama yang menyebabkan kotoran menjadi lebih keras, Kotoran yang keras akan mempersulit proses defekasi. Penurunan motilitas usus menyebabkan lamanya waktu transit kotoran dalam saluran cerna. Penurunan motilitas pada usus dapat disebabkan oleh berbagai macam faktor seperti gangguan sistem saraf, kelainan metabolik seperti gangguan elektrolit, penurunan aktivitas fisik dan suatu kondisi imobilisasi yang lama.

Selain itu kondisi metabolik seperti pasien diabetes melitus kerap mengalami konstipasi, hal ini diduga adanya pengaruh pada sistem saraf dan menurunkan peristaltik usus. Kondisi lain yang menyebabkan terjadinya konstipasi seperti kurangnya asupan serat, perubahan pola diet ketika sedang traveling, pengaruh obat-obatan, sering menahan keinginan untuk defekasi juga menjadi salah satu penyebab.

Kelainan anatomi pada saluran cerna seperti adanya suatu masa tumor, penyempitan pada saluran cerna akibat suatu proses inflamasi juga dapat menimbulkan konstipasi. Pada wanita pengaruh hormon progesteron juga memiliki peran dalam penurunan motilitas usus, terutama pada wanita hamil, selain pengaruh hormon, penekanan usus besar oleh uterus juga mempengaruhi pola defekasi dan dapat menimbulkan kondisi konstipasi.

Bagaimana Mendiagnosis Konstipasi?

Untuk menegakan diagnosis konstipasi, memerlukan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang untuk mengetahui penyebabnya.

Pasien yang mengalami keluhan konstipasi yang berlangsung lama hingga lebih dari 3 bulan dengan disertai adanya tanda bahaya seperti adanya darah saat defekasi, adanya penurunan berat badan yang tidak diketahui penyebabnya, adanya tanda dan gejala anemia seperti lemas, letih, lesu, dan pucat, adanya kecurigaan masa atau pembesaran pada perut, adanya riwayat kanker dalam keluarga, usia di atas 50 tahun yang sebelumnya belum pernah menjalani skrining untuk kanker colorectal perlu untuk melakukan pemeriksaan ke dokter segera dan direncanakan untuk pemeriksaan lebih lanjut oleh spesialis gastroenterologist.

Suatu keganasan yaitu kanker kolorektal perlu dipikirkan pada pasien usia tua diatas 50 tahun dengan penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, adanya episode BAB disertai dengan darah.

Pemeriksaan fisik diperlukan untuk menyingkirkan kemungkinan penyebab sekunder terjadinya konstipasi. Pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan darah lengkap, pemeriksaan elektrolit atau metabolit darah, dan kadar hormon tidak rutin dilakukan, kecuali terdapat kecurigaan terhadap suatu kondisi tertentu. Prosedur kolonoskopi hanya diperlukan apabila ditemukan adanya tanda bahaya.

Kapan Kita Perlu Memeriksakan Diri Ke Dokter?

Sebagian besar orang mengabaikan konstipasi, karena menganggap konstipasi adalah suatu hal yang wajar dan tidak berbahaya. Akan terapi konstipasi dapat merupakan suatu gejala dari penyakit tertetu yang memerlukan terapi khusus.

Berikut adalah beberapa tanda dan gejala, yang perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut oleh dokter :

  1. Konstipasi yang berlangsung tiba-tiba, dimana biasanya seseorang memiliki pola defekasi dan pola diet yang baik mengalami suatu episode konstipasi yang terjadi secara mendadak.
  2. Konstipasi yang berlangsung kronis lebih dari 3 bulan, telah melakukan modifikasi diet tinggi serat dan cairan tetapi tidak mengalami perbaikan.
  3. Adanya darah saat defekasi, darah berwarna merah segar menandakan suatu kondisi inflamasi, adanya hemoroid, atau suatu keganasan (kanker).
  4. Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas dan disertai dengan episode konstipasi, adalah kemungkinan suatu keganasan berupa kanker kolorektal.
  5. Nyeri perut yang hebat, konstipasi disertai dengan nyeri perut yang hebat menandakan kemungkinan adanya suatu obstruksi pada saluran cerna atau peradangan pada saluran cerna.
  6. Muntah disertai dengan konstipasi, dapat menandakan suatu kondisi sumbatan dalam saluran cerna.
  7. Rasa perut kembung, begah dan penurunan frekuensi flatus dapat menunjukan adanya kondisi gangguan pada sistem saraf, menurunnya pasase usus.

Pengobatan Konstipasi:

Pengobatan konstipasi tergantung dari penyebabnya. Sebagai terapi lini pertama konstipasi adalah modifikasi gaya hidup dan perubahan pola diet. Mengkonsumsi makanan tinggi serat, dengan asupan serat sebanyak 20-35 gr/hari dan cairan yang cukup yaitu 2 liter/hari. Mengurangi konsumsi makanan cepat saji atau makanan yang diawetkan karena kandungan serat di dalamnya telah hilang.

Rata-rata orang hanya mengkonsumsi 15 gr serat setiap harinya. Beberapa makanan tinggi serat seperti gandum, sayuran seperti brokoli, serta buah buahan yang masih mengandung kulitnya seperti memakan apel dengan kulitnya memiliki kandungan serat yang lebih tinggi dibandingkan mengkonsumsi buah apel tanpa kulitnya. Selain itu disarankan untuk meningkatkan aktivitas fisik sehari hari untuk mengurangi kejadian konstipasi.

Apabila keluhan tidak membaik meskipun telah dilakukan modifikasi gaya hidup dan diet, maka dapat diberikan pengobatan dengan agen laksatif, seperti laktulosa. Selain itu konsumsi makanan atau minuman yang mengandung probiotik juga dapat membantu mengatasi konstipasi.

Karya tulis oleh dr. Putu Nindya Ayu Ningrum Subadra, S.Ked.
(Dokter magang bagian penyakit dalam RSD Wangaya Denpasar)

Tags: Dokter Putu Nindya Ayu NingrumKonstipasi
SendShareShareSend

Media Social

Facebook Instagram TikTok YouTube Chat WhatsApp

TOPIK MEDIA GROUP

  • Blog
  • Box Redaksi
  • Elementor #10692
  • Home
  • kebijakan privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Syarat dan ketentuan

Recent Posts

  • BBM Langka di Bali, IWO Desak Dirut Pertamina Dicopot
  • Cek Depo Pertamina, Koster Minta Distribusi Dipacu
  • BBM Langka di Bali, GMNI Denpasar Desak Pemerintah Buka Data dan Benahi Tata Kelola
No Result
View All Result
  • Home
  • Politik
  • Hukum
  • Bali
  • Opini
  • Lifestyle
  • Nasional
  • Internasional

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist