Pagi di Bali selalu terasa sama—matahari pelan-pelan naik, aroma dupa dari pelinggih rumah warga, dan suara kehidupan yang nggak pernah benar-benar berhenti.
Tapi di balik semua ketenangan itu, ada satu tahun perjalanan yang nggak sesederhana kelihatannya.
Ini bukan cuma soal angka, program, atau laporan. Ini cerita tentang arah Bali ke depan—tentang bagaimana sebuah pulau yang sudah dikenal dunia, berusaha tetap jadi dirinya sendiri.
Semua dimulai dari satu gagasan besar: Nangun Sat Kerthi Loka Bali. Kedengarannya berat, ya? Tapi kalau diterjemahkan sederhana—ini tentang menjaga Bali tetap “Bali”, sambil tetap maju.
Bukan hal mudah.
Di satu sisi, dunia makin cepat. Digital, investasi, pariwisata global. Di sisi lain, Bali punya akar yang dalam—adat, budaya, desa adat, hingga filosofi hidup yang nggak bisa digantikan teknologi.
Dan di tahun pertama kepemimpinan ini, dua dunia itu seperti dipaksa jalan bareng.
Bayangkan ini.
Di satu kantor pemerintahan, pegawai mulai pakai aksara Bali. Di sisi lain, anak muda Bali lagi bangun startup digital. Di desa, tradisi Tumpek makin diperluas. Tapi di kota, kendaraan listrik mulai jadi hal biasa.
Kontras? Iya.
Tapi justru di situlah ceritanya.
Salah satu yang paling terasa adalah bagaimana pemerintah mulai “bermain” di level aturan. Bukan sekadar program, tapi fondasi.
Dalam setahun, lahir banyak regulasi strategis—dari perlindungan pantai, pengendalian alih fungsi lahan, sampai perlindungan disabilitas. Bahkan urusan wisatawan asing pun diatur lebih ketat, termasuk kontribusi mereka terhadap budaya dan lingkungan Bali.
Kenapa?
Karena Bali sadar—kalau nggak dijaga sekarang, nanti bisa terlambat.
Lalu kita masuk ke hal yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari: kesehatan dan pendidikan.
Cakupan kesehatan hampir menyentuh semua masyarakat. Rumah sakit baru dibangun. Layanan kesehatan tradisional juga mulai diangkat lagi—sesuatu yang dulu dianggap “alternatif”, sekarang justru jadi identitas.
Di pendidikan, ada program yang cukup “nendang”: 1 Keluarga 1 Sarjana. Sederhana, tapi dampaknya bisa panjang.
Bayangin satu keluarga yang sebelumnya nggak punya akses pendidikan tinggi, tiba-tiba punya satu lulusan sarjana. Itu bukan cuma soal gelar—itu soal perubahan nasib.
Di sisi ekonomi, ceritanya lebih kompleks.
Bali nggak mau lagi terlalu bergantung pada pariwisata. Makanya muncul konsep Ekonomi Kerthi Bali—menghidupkan kembali kekuatan lokal: pertanian, perikanan, UMKM, sampai arak Bali.
Ya, arak Bali.
Dulu sering dipandang sebelah mata. Sekarang? Mulai masuk pasar global, bahkan tersedia di duty free bandara.
Ini bukan cuma soal minuman. Ini soal kebanggaan.
Tapi tentu, nggak semua berjalan mulus.
Persoalan klasik seperti sampah masih jadi “PR besar”. Bahkan ada timeline yang cukup tegas—TPA Suwung akan ditutup total. Artinya, Bali dipaksa berubah dari cara lama ke sistem baru: pengelolaan sampah berbasis sumber.
Di sinilah tantangannya.
Karena perubahan sistem itu bukan cuma soal kebijakan, tapi soal kebiasaan masyarakat.
Di sisi lain, Bali juga mulai “naik level” dalam urusan energi.
Targetnya jelas: mandiri energi, dan sebisa mungkin bersih. Panel surya mulai didorong, kendaraan listrik diperbanyak, bahkan ada rencana besar pembangkit listrik ke depan.
Kalau berhasil, ini bukan cuma soal listrik. Tapi soal citra Bali di mata dunia.
Pulau wisata, tapi juga pulau yang peduli lingkungan.
Lalu, ada satu hal yang sering luput dibahas: keamanan dan digitalisasi.
Di balik layar, sistem keamanan berbasis desa adat diperkuat. Peran pecalang makin penting. Negara dan masyarakat mulai jalan bareng dalam menjaga Bali.
Sementara itu, Bali juga pelan-pelan masuk ke era digital penuh—dengan proyek seperti Turyapada Tower yang bukan cuma soal teknologi, tapi juga simbol: Bali siap bersaing di masa depan.
Jadi, apa sebenarnya cerita dari satu tahun ini?
Ini bukan cerita tentang kesempurnaan.
Ini cerita tentang keseimbangan.
Tentang bagaimana Bali mencoba tetap spiritual di tengah modernitas. Tetap tradisional di tengah globalisasi. Tetap kuat, meski tekanan datang dari mana-mana—ekonomi, lingkungan, hingga sosial.
Dan yang paling penting—ini baru tahun pertama.
Perjalanan masih panjang.
Tapi kalau satu tahun ini bisa jadi gambaran, satu hal yang jelas: Bali tidak sedang diam.
Bali sedang bergerak. (*)
CATATAN REDAKSI: Tulisan ini diambil langsung dari laporan satu tahun kepemimpinan Gubernur Bali Wayan Koster dan Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta melalui sidang paripurna dengan agenda pidato refleksi satu tahun, Wayan Koster dan Giri Prasta di Ruang Sidang Utama DPRD Bali, Rabu (25/3/2026).









