Balitopik.com, BALI – Faktor penyebab matinya ratusan mangrove di Benoa mulai terungkap. Beberapa faktor yang terungkap tersebut memperkuat dugaan bahwa ratusan mangrove tersebut mati tidak secara alami, melainkan ada sebab eksternal.
Hal itu terungkap dalam rapat pembahasan temuan lapangan terkait kerusakan tanaman mangrove yang mati di Jalan Raya Pelabuhan Benoa koordinat (8043’51.89’S, 115-1243.35’E) dengan perkiraan luasan kurang lebih 6 are, Sabtu (21/2/2026).
Hadir dalam rapat diantaranya, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Bali, General Manager Pelabuhan Indonesia, Manager PT. PLN Indonesia Power, Manager PT. Pertamina Patra Niaga, KSOP Benoa, LNG, UPTD Tahura dan Komunitas Mangrove Ranger.
Adapun fakta-fakta yang dibahas dalam rapat tersebut adalah;
1. Bahwa Terdapat Pipa di area sekitar mangrove milik PT. Pertamina Patra Niaga dan PT. PLN Indonesia Power
2. Bahwa Tanaman Mangrove mulai mengalami mati pada Bulan September 2025
3. Bahwa hasil inspeksi pipa milik PT. PLN Indonesia Power pada tanggal 12 Desember 2025 tidak ditemukannya kerusakan atau kebocoran pipa milik PT. PLN Indonesia Power namun ditemukan pipa berkarat yang diduga milik PT. Pertamina Patra Niaga
4. Bahwa pada bulan September 2025 ada pekerjaan pipa dari dari PT. Pertamina Patra Niaga yang mengalami rembesan dan pada saat itu sudah dilakukan perbaikan langsung terhadap pipa yang mengalami rembesan milik PT. Pertamina Patra Niaga, namun tidak dilakukan pembersihan bekas rembesan minyak pada pipa milik PT. Pertamina Patra Niaga.
Kesimpulan rapat menyatakan;
1. Dalam temuan lapangan terkait tanaman mangrove yang mati di sekitar Jalan Raya Pelabuhan Benoa dengan luas sekitar 6 are dapat diduga bahwa kerusakan tanaman mangrove yang terjadi saat ini adalah dampak dari rembesan pipa milik PT. Pertamina Patra Niaga
2. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Bali memerintahkan segera kepada PT. Pertamina Patra Niaga untuk melakukan pemulihan tanaman Mangrove yang mati dengan luas sekitar 6 are.
3. PT. Pertamina Patra Niaga agar membuat surat kronologis pekerjaan atas perbaikan pipa yang merembes pada periode bulan september 2025 dan menyampaikan kepada Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Bali, KSOP Kelas II Benoa dan instansi lain
4. PT. Pertamina Patra Niaga agar membuat rencana aksi pemulihan atas tanaman mangrove yang ditemukan mati dan menyampaikan kepada Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Bali.
Untuk diketahui, ratusan mangrove tersebut menjadi viral usai disidak Anggota DPR RI Komisi III, I Nyoman Parta, kemarin. Nyoman Parta tegas menyatakan bahwa berdasarkan informasi yang diperoleh bahwa memang matinya ratusan mangrove itu akibat rembesan minyak BBM.
Nyoman Parta kemudian meminta pihak-pihak terkait untuk bertanggung jawab dan melakukan rehabilitasi mangrove. (*)
















