Balitopik.com, BALI – Akademisi Universitas Udayana, Dr. Efatha Filomeno Borromeu Duarte menilai menurunnya wisatawan domestik atau wisatawan nusantara (wisnus) ke Bali tidak semata karena cuaca buruk atau terkendala penerbangan. Faktor utama menurutnya adalah karena ekonomi masyarakat yang sedang lesu.
Efatha mengatakan, jika ekonomi masyarakat menengah lesu, maka dampaknya akan serius bagi daerah yang mengandalkan pariwisata, Bali salah satunya.
“Turunnya wisnus (wisatawan nusantara) adalah lampu kuning, bahkan hampir jingga,” katanya saat dihubungi Bali Topik, Jumat (2/1/2026).
Pernyataan Efatha ini menyikapi data kunjungan wisatawan ke Bali tahun 2025. Per 31 Desember 2025, data menunjukan kunjungan wisatawan asing meningkat tajam, sementara kunjungan wisatawan nusantara menurun.
Tahun 2025 jumlah kunjungan wisman mencapai 7,1 juta. Kalau dibandingkan dengan tahun 2024 yang jumlahnya 6,3 juta kunjungan wisman, maka meningkat 750 ribu orang atau 11,3 persen. Angka ini disebutkan sebagai yang tertinggi yang pernah dicapai.
Sementara kedatangan wisatawan nusantara (wisnus) pada tahun 2025 justeru mengalami penurunan. Hanya di angka 9,28 juta, sedangkan di tahun 2024 jumlahnya mencapai 10,1 juta orang ke Bali. Turun sekitar 700 ribu lebih.
Hal inilah yang disebut Efatha sebagai sinyal atau lampu kuning atau bahkan jingga. Sebab, wisnus adalah penjaga irama, wisata Bali. Tapi jika ekonomi masyarakat menengah lesu, Bali akan sangat berdampak. Menurut dia wisnus adalah buffer, penyeimbang dan stabilitator wisata Bali ketika krisis global.
“Wisnus lah yang membuat napas Bali tetap panjang saat dunia sedang “flu” atau dilanda krisis global. Kalau penurunannya sedalam ini, artinya satu: kantong kelas menengah kita sedang bolong. Dan Bali adalah sensor pertama yang merasakannya,” tandasnya. (*)

















