BALITOPIK.COM, DENPASAR – Gubernur Bali, Wayan Koster, secara resmi membuka Bali Digital Innovation Festival (Baligivation) 2026 di Denpasar, Selasa (28/4/2026). Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam mendorong transformasi ekonomi Bali menuju arah yang lebih kuat dan berkelanjutan berbasis digital.
Pembukaan festival turut dihadiri Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Erwin Soeriadimadja, Deputi Bidang Pelaporan dan Pengawasan PPATK Dr. Fhitriodi, serta Kapolda Bali Irjen Pol. Daniel Adityajaya.
Dalam sambutannya, Koster menegaskan bahwa digitalisasi ekonomi merupakan sektor strategis baru bagi Bali, yang selama ini masih sangat bergantung pada pariwisata.
“Sekitar 66 persen perekonomian Bali masih ditopang sektor pariwisata. Karena itu, penguatan sektor lain seperti ekonomi digital dan kreatif menjadi sangat penting,” ujarnya.
Data tahun 2025 menunjukkan Bali mencatat lebih dari 16 juta kunjungan wisatawan, terdiri dari 7 juta wisatawan mancanegara, 150 ribu wisatawan kapal pesiar, dan 9,3 juta wisatawan domestik. Kontribusi devisa pariwisata Bali mencapai sekitar Rp176 triliun atau 55 persen dari total devisa pariwisata nasional.
Namun, di balik capaian tersebut, Bali juga menghadapi tantangan serius seperti persoalan sampah dan kemacetan. Pemerintah Provinsi Bali kini tengah menggenjot berbagai solusi, termasuk pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik berkapasitas 1.200 ton per hari yang ditargetkan beroperasi akhir 2026.
Selain itu, sejumlah proyek infrastruktur strategis juga dipercepat, mulai dari pembangunan jalan bypass, jembatan di Nusa Ceningan, jaringan air bersih di Karangasem, hingga shortcut Singaraja–Mengwi yang ditargetkan rampung pada 2027–2028.
Koster menegaskan, pemerataan pembangunan menjadi kunci untuk menciptakan pusat ekonomi baru di wilayah utara, timur, dan barat Bali.
“Ke depan, Bali tidak hanya dikenal sebagai destinasi wisata dunia, tetapi juga sebagai pusat pertumbuhan ekonomi digital yang kuat dan berkelanjutan,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Perwakilan BI Bali, Erwin Haryono, menyebut Baligivation sebagai salah satu festival digital terbesar di Bali yang menjadi wadah kolaborasi antara pemerintah, otoritas, dan pelaku industri.
Ia menjelaskan, berbagai program digitalisasi terus diperkuat, mulai dari pengembangan UMKM, digitalisasi pasar rakyat, hingga inovasi berbasis komunitas seperti Banjar Pintar dan Pasar Rakyat Go Digital.
Di sisi lain, PPATK mengingatkan bahwa percepatan digitalisasi juga harus dibarengi pengawasan ketat terhadap potensi kejahatan keuangan, khususnya pada sektor KUPVA BB (money changer).
Deputi PPATK, Dr. Fhitriodi, menyoroti maraknya praktik money changer ilegal yang berpotensi menimbulkan tindak pidana seperti pencucian uang dan pendanaan terorisme.
“Kami menemukan berbagai modus, mulai dari penggunaan identitas palsu hingga pencampuran dana legal dan ilegal. Ini harus diwaspadai,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya sinergi antar lembaga, peningkatan kualitas SDM, serta budaya kepatuhan untuk menjaga ekosistem keuangan tetap sehat dan aman.
Senada dengan itu, Kapolda Bali Irjen Pol. Daniel Adityajaya menyatakan bahwa digitalisasi adalah keniscayaan di era saat ini. Namun, ia mengingatkan adanya potensi ancaman di ruang digital yang harus diantisipasi secara serius.
“Kolaborasi lintas sektor sangat penting untuk menjaga keamanan dan kepercayaan dalam ekosistem digital,” tegasnya.
Baligivation 2026 diharapkan menjadi katalisator bagi Bali untuk bertransformasi menjadi pulau digital yang adaptif, tanpa meninggalkan nilai budaya dan kearifan lokal sebagai identitas utamanya.









