BALITOPIK.COM – Di tengah dinamika kontestasi menuju Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), banyak nama hadir dengan gagasan besar, pengalaman organisasi, dan jaringan yang luas. Namun bagi Alexandro Rolandi, kepemimpinan tidak hanya dibuktikan melalui pidato dan forum diskusi, melainkan melalui pengabdian nyata di tengah masyarakat.
Pria yang akrab disapa Rolan ini menempuh proses kaderisasi panjang di PMKRI Cabang Denpasar. Ia pernah mengemban berbagai tanggung jawab, mulai dari Biro Diskusi dan Penalaran, Presidium Gerakan Kemasyarakatan, hingga dipercaya menjadi Ketua Presidium Cabang.
Namun perjalanan yang paling membentuk dirinya justru dimulai ketika ia memutuskan kembali ke tanah kelahirannya di Papua Barat Daya.
Di saat banyak orang memilih bertahan di pusat-pusat aktivitas dan peluang karier, Rolan memilih pulang untuk mengabdi. Ia mengambil peran sebagai guru sekolah dasar, mendampingi anak-anak di wilayah yang jauh dari hiruk-pikuk pusat kekuasaan.
Tidak ada panggung besar, sorotan kamera, ataupun tepuk tangan meriah. Yang ada hanyalah ruang kelas sederhana, papan tulis, dan anak-anak yang setiap hari datang membawa mimpi tentang masa depan yang lebih baik.
Bagi Rolan, pendidikan bukan sekadar proses transfer ilmu pengetahuan. Pendidikan adalah cara membangun harapan.
Ia mengajar bukan hanya agar murid-muridnya mampu membaca dan menulis, tetapi agar mereka percaya bahwa kesempatan untuk berhasil tidak hanya dimiliki anak-anak yang lahir di kota besar. Setiap anak, di mana pun mereka berada, berhak memiliki masa depan yang sama cerahnya.
Ketika banyak orang berbicara tentang perubahan, Rolan memilih menjadi bagian dari perubahan itu sendiri.
Langkah tersebut sejalan dengan semangat dasar PMKRI yang sejak awal berdiri tidak hanya mencetak kader intelektual, tetapi juga melahirkan pribadi-pribadi yang hadir untuk memperjuangkan kemanusiaan, keadilan sosial, dan persaudaraan sejati.
Pengalaman hidup bersama masyarakat menjadi modal berharga yang membentuk cara pandangnya tentang kepemimpinan. Ia memahami bahwa persoalan bangsa tidak selalu terlihat dari ruang rapat atau forum akademik, tetapi sering kali ditemukan di ruang-ruang sederhana tempat masyarakat berjuang menjalani kehidupan sehari-hari.
Karena itu, ketika kini namanya masuk dalam bursa calon Ketua Pengurus Pusat PMKRI, yang ia bawa bukan hanya rekam jejak organisasi. Ia membawa pengalaman berjumpa langsung dengan masyarakat, mendengar harapan mereka, serta merasakan tantangan yang dihadapi daerah-daerah yang jauh dari pusat perhatian.
Baginya, kepemimpinan bukan soal posisi tertinggi yang dapat diraih seseorang, melainkan kemampuan menghadirkan manfaat bagi sebanyak mungkin orang.
Dari ujung timur Indonesia, tempat matahari pertama kali menyapa Nusantara, Rolan belajar bahwa seorang pemimpin sejati adalah mereka yang mampu mengangkat orang lain untuk tumbuh bersama.
Pengalaman sebagai guru telah mengajarkannya tentang kesabaran, keteladanan, dan keberanian untuk melayani tanpa mengharapkan sorotan.
Seorang guru membangun masa depan murid-muridnya. Seorang pemimpin membangun masa depan organisasinya.
Dalam perjalanan hidupnya, Alexandro Rolandi memilih menjalankan keduanya. (*)









