BALITOPIK.COM, DENPASAR – Minggu petang, 31 Mei 2026, aroma kopi hitam memenuhi ruangan Margasiswa PMKRI Cabang Denpasar di Jalan Thamrin I Nomor 8. Suasananya terasa berbeda. Tidak ada meja pingpong seperti biasanya, tetapi meja kecil yang rapi tertata.
“Kami kemarin baru selesai gelar Rakercab, Abang. Meja pingpong nanti akan kembali dipasang setelah acara ini,” ujar Maria Melania, sosok Sekjen yang kalem itu.
Percakapan mengalir sembari menunggu hadirnya Agustinus Nahak yang masih di perjalanan.
Valerian Libert Wangge menjadi salah satu yang lebih dulu tiba, disambut Ketua PMKRI Cabang Denpasar Stanley Francisco Gurion, Sekjen Maria Melania, jajaran pengurus seperti Rangga, hingga mantan Ketua PMKRI Denpasar Bram.
Tak berapa lama, Agus menelepon dan memberi kabar bahwa dirinya sudah tiba di area parkir.
Tidak ada seremoni panjang, tidak ada pengalungan bunga. Setelah tiba, Agus langsung bergumam bahwa bangunan ini memiliki nilai sejarah yang tinggi.
“Saya sepuluh tahun lalu beberapa kali hadir di sini, bertemu dan bertatap muka dengan adik-adik yang mungkin sekarang sudah tidak ada di sini lagi,” kenang Agus.
Agus lalu menatap sekeliling ruangan. Baginya, Margasiswa bukan sekadar bangunan. Ada banyak wajah, cerita, dan percakapan yang pernah tumbuh di tempat itu.
Sebagian sudah menjadi profesional, sebagian sedang merintis jalan hidup, dan sebagian lainnya kini hanya tinggal kenangan, sembari menyebut Alfred, sahabat di HAMI satu generasi dengannya yang kini telah tiada.
“Dulu kami sama-sama di sini waktu PMKRI menggelar diskusi bekerja sama dengan FBN dengan topik bertajuk Bahaya Narkoba.”
Di atas meja tersaji kopi hitam dalam gelas kaca dengan aroma harum yang khas. Di sampingnya air mineral dan aneka jajan pasar dari Pasar Kumbasari yang jaraknya tak seberapa jauh dari Margasiswa.
Sore itu suasana terasa sederhana, tetapi hangat. Tawa, cerita kehidupan, dan percakapan tentang masa depan mengisi sore itu.
PMKRI menggelar AsetAkses Edisi Pertama, sebuah ruang ngobrol santai bertajuk “Cerita, Jejaring, dan Jalan Panjang Menjadi Profesional.”
Menjelang Hari Lahir Pancasila, ruang sederhana ini menjadi tempat bertemunya pengalaman, jejaring, profesionalisme, dan refleksi kebangsaan lintas generasi.
Hadir tamu spesial Agustinus Nahak, SH., MH., advokat yang kini berkiprah di Jakarta, Kepala Humas Gerakan Bela Negara Membangun Indonesia (GBN-MI), serta CEO NPLO Media Group, bersama Valerian Libert Wangge, alumni PMKRI yang dikenal sebagai lawyer dan transformative coach.
Sekitar 30 orang hadir malam itu. Mayoritas merupakan pengurus dan anggota PMKRI. Mereka duduk melingkari meja tanpa saling membelakangi. Formasi sederhana ini membuat percakapan terasa lebih setara, elegan, dan partisipatif.
Kegiatan dibuka dengan ngopi bersama dan berlangsung cair hampir tanpa sekat. Peserta tidak hanya mendengar cerita, tetapi ikut menimpali untuk menggali pengalaman hidup, karier, jejaring, hingga tantangan dunia profesional hari ini.
Agustinus Nahak lalu membagikan kisah hidupnya yang dimulai dari bawah. Sebelum dikenal sebagai advokat yang kerap menangani berbagai perkara publik dan tampil di sejumlah televisi swasta nasional, ia pernah bekerja sebagai seorang security.
“Banyak orang melihat hasil akhirnya. Jarang yang melihat proses panjangnya,” ujarnya.
Agus mengingatkan agar tidak melupakan akar kehidupan mereka.
“Kita ini orang kampung. Lahir dan bertumbuh di kampung. Tapi ketika merantau jangan kampungan,” katanya, disambut senyum dan tawa peserta.
Menurutnya, perjalanan hidup tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan atau gelar akademik. Yang jauh lebih penting adalah keberanian untuk berubah, menjaga hati tetap baik, serta membangun lingkungan pergaulan yang sehat.
“Zaman sudah berubah. Kapasitas diri memang penting. Tapi faktor yang sangat menentukan justru lingkungan sosial dan jejaring yang kita bangun,” jelasnya.
Bagi Agus, jejaring bukan sekadar soal mengenal banyak orang. Jejaring adalah kemampuan membangun kepercayaan, menjaga reputasi, dan merawat relasi dalam jangka panjang.
Dengan gaya khasnya sebagai motivator, Agus tidak hanya bercerita. Ia menyelipkan humor-humor kecil yang membuat peserta beberapa kali tertawa.
Ia lalu mengangkat tokoh-tokoh dalam serial televisi legendaris Si Unyil sebagai ilustrasi karakter yang kerap ditemukan dalam organisasi.
Ada karakter “Pak Raden”, sosok yang suka marah-marah, patronase, dan terus membandingkan keadaan hari ini dengan kejayaan zamannya.
“Padahal setiap era ada orangnya, dan setiap orang ada eranya,” ujarnya.
Ada pula karakter “Si Unyil”, yang baik tetapi tidak pernah naik kelas karena terlalu nyaman di zona yang sama.
Lalu “Pak Ogah”, yang gemar mengeluh, mengkritik, dan membuat kegaduhan, tetapi kontribusinya lebih sedikit daripada manfaat yang diberikan.
Ruangan kembali dipenuhi tawa.
Agus juga berbagi pengalaman menangani berbagai perkara hukum, mulai dari isu intoleransi, diskriminasi terhadap perempuan, hingga berbagai kasus yang menyita perhatian publik nasional.
Meski tidak pernah bergabung sebagai anggota PMKRI ketika masih muda, ia mengaku memiliki kedekatan tersendiri dengan organisasi tersebut.
“Sebagai awam Katolik, saya bangga dengan PMKRI. Dulu saya tidak sempat bergabung karena berbagai aktivitas dan kesibukan. Tapi saya selalu mendorong adik-adik saya untuk masuk PMKRI. Hari ini saya melihat banyak dari mereka mulai menapaki karier profesional. Saya kira itu tidak lepas dari rumah mereka sebelumnya, yaitu PMKRI,” ungkapnya.
Agustinus juga mengingatkan perihal rasa nasionalisme dan kebangsaan, dalam kapasitasnya sebagai Humas Gerakan Bela Negara Membangun Indonesia.
Menjelang Hari Lahir Pancasila, Agus mengajak peserta melihat bahwa bela negara tidak selalu diwujudkan dalam bentuk yang besar. Menghormati perbedaan, menjaga persatuan, menaati hukum, serta memberi manfaat bagi lingkungan sekitar juga merupakan bagian dari pengamalan nilai-nilai kebangsaan.
Sementara itu, Valerian Libert Wangge mengajak peserta melihat pentingnya keseimbangan antara kemampuan intelektual dan kemampuan membaca realitas kehidupan.
Menurutnya, kultur organisasi kader seperti PMKRI selama ini relatif kuat pada pengembangan kapasitas intelektual.
Namun, di saat yang sama, kader juga perlu belajar memahami dunia yang lebih luas, termasuk dunia profesi, jejaring sosial, komunikasi publik, dan kemampuan membangun kolaborasi.
Menurutnya, tradisi intelektual PMKRI adalah kekuatan yang harus dijaga. Namun kekuatan itu akan lebih bermakna apabila diikuti kemampuan beradaptasi, membangun relasi, membaca perubahan, dan bekerja sama dengan berbagai pihak.
“Sering kali kita kuat di ruang diskusi, tetapi kurang terbiasa membaca realitas lapangan. Padahal kehidupan profesional membutuhkan keseimbangan antara kemampuan berpikir, kemampuan berjejaring, kemampuan beradaptasi, dan kemampuan memahami manusia,” ujarnya.
Valerian menambahkan bahwa keberhasilan seseorang tidak hanya ditentukan oleh apa yang diketahui, tetapi juga oleh siapa yang dikenalnya, bagaimana reputasinya dibangun, dan sejauh mana ia mampu menjaga kepercayaan dalam relasi sosial.
Menariknya, sebagian besar memilih menyimak sambil sesekali tertawa mengikuti cerita yang mengalir.
Pertanyaan yang muncul umumnya berkisar pada bagaimana beradaptasi di lingkungan sosial yang keras dan kompleks seperti Jakarta.
Agus menjawab dengan sederhana, “Pandai bawa diri dan tahu diri.”
Menurutnya, dalam pergaulan jangan menjadi pribadi yang eksklusif atau rasis. Tetap setia pada keyakinan agama masing-masing, menghormati keyakinan orang lain, memahami kearifan sosial di tempat berpijak, dan membangun relasi dengan saling menghargai.
Diskusi berlangsung hangat hingga malam hari. Tidak sedikit kader yang memanfaatkan kesempatan tersebut untuk bertanya secara langsung mengenai karier, dunia hukum, jejaring profesional, hingga tantangan membangun masa depan di tengah perubahan zaman yang berlangsung sangat cepat.
Di ujung acara, waktu menunjukkan pukul 21.00 WITA. Tak terasa, Agustinus memimpin doa syukur sekaligus harapan, ditutup dengan makan malam dan foto bersama tanpa sekat. Sederhana, hangat, dan penuh cerita.
Gelas-gelas kopi mulai kosong. Di atasnya mengalir cerita, pengalaman, jejaring, dan pelajaran hidup dari mereka yang telah lebih dahulu menempuh jalan panjang kehidupan.
Karena pada akhirnya, banyak pelajaran hidup tidak selalu lahir dari ruang seminar. Kadang ia tumbuh dari secangkir kopi, percakapan yang jujur, dan pertemuan antar generasi yang saling berbagi pengalaman, jejaring, profesionalisme, dan nilai-nilai kebangsaan.
Menjelang Hari Lahir Pancasila, forum sederhana ini mengingatkan bahwa nasionalisme tidak selalu tumbuh melalui pidato dan seremoni. Ia juga tumbuh melalui perjumpaan, percakapan, dan kesediaan untuk saling belajar, saling membuka jalan, dan saling menguatkan.
Barangkali itulah salah satu esensi AsetAkses. (VW)









