OPINI – Di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan literasi tidak lagi sekadar soal membaca dan menulis. Literasi kini menjadi kemampuan memahami, menganalisis, dan menyaring informasi secara kritis. Sayangnya, tantangan yang dihadapi dunia pendidikan masih cukup besar.
Minat membaca sebagian siswa belum tumbuh optimal, kemampuan memahami bacaan secara mendalam masih terbatas, dan keterampilan berpikir kritis sering kali belum berkembang sebagaimana yang diharapkan.
Kondisi inilah yang mendorong lahirnya berbagai inisiatif pendidikan, salah satunya melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang diselenggarakan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Mahasaraswati Denpasar di MTs Generasi Emas.
Kegiatan bertajuk Pengembangan Media dan Aktivitas Literasi Berbasis Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) bagi Guru MTs Generasi Emas menjadi contoh nyata bagaimana perguruan tinggi dapat hadir menjawab kebutuhan sekolah.
Hal yang menarik dari kegiatan ini bukan hanya pelatihannya, melainkan pendekatan yang ditawarkan. Guru tidak sekadar diberi teori, tetapi juga didampingi untuk merancang media dan aktivitas literasi yang mendorong siswa berpikir lebih dalam.
Pendekatan deep learning menempatkan siswa sebagai subjek aktif pembelajaran. Mereka diajak menganalisis, berdiskusi, merefleksikan, hingga membangun argumen berdasarkan informasi yang diperoleh.
Pembelajaran seperti ini sangat relevan dengan kebutuhan generasi masa kini. Di era banjir informasi, siswa perlu dibekali kemampuan untuk mempertanyakan, memverifikasi, dan menarik kesimpulan secara logis. Tanpa kemampuan tersebut, mereka akan mudah terpengaruh oleh informasi yang belum tentu benar.
Pelatihan penggunaan pertanyaan HOTS, diskusi berbasis argumen, hingga pemanfaatan media digital interaktif menunjukkan bahwa literasi dapat dikembangkan dengan cara yang lebih menarik dan kontekstual. Guru bukan lagi sekadar penyampai materi, melainkan fasilitator yang membantu siswa menemukan makna dari apa yang mereka pelajari.
Yang tidak kalah penting, kegiatan ini menegaskan bahwa peningkatan kualitas pendidikan tidak bisa dibebankan kepada sekolah semata. Perguruan tinggi, masyarakat, dan berbagai pihak perlu berkolaborasi untuk menciptakan ekosistem literasi yang kuat.
Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan bukan hanya diukur dari nilai ujian, tetapi dari kemampuan peserta didik untuk berpikir kritis, kreatif, dan bijak dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Karena itu, upaya membangun budaya literasi harus terus dilakukan dan tidak boleh berhenti di ruang kelas saja. (*)
Oleh: Dewa Gede Bambang Erawan – Dosen Prodi Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan & Ilmu Pendidikan Universitas Mahasaraswati Denpasar









