balitopik.com, BADUNG — Program Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan) di Kabupaten Badung tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan konsumsi ikan dan memenuhi kebutuhan gizi masyarakat. Program ini sekaligus membuka pasar bagi pembudidaya dan pengolah ikan lokal.
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Badung, I Nyoman Suardana, S.Sos., M.M., mengatakan bahan baku paket olahan ikan dalam program Gemarikan berasal dari pembudidaya dan pengolah lokal di Badung. Salah satunya Kelompok Ikan Tunjung Putih yang berkolaborasi dengan kelompok pembudidaya lainnya untuk memenuhi kebutuhan bahan baku.
“Sehingga program ini juga turut mendukung sektor perikanan lokal,” kata Suardana, Kamis (20/8/2026).
Paket Gemarikan berisi sejumlah produk olahan dan hasil perikanan, mulai dari ikan nila, ikan lele, hingga abon tuna yang siap dikonsumsi. Produk tersebut kemudian disalurkan kepada masyarakat sebagai bagian dari program pemenuhan gizi sekaligus upaya pencegahan stunting.
Pada 2026, Pemerintah Kabupaten Badung menargetkan penyaluran 2.000 paket olahan ikan khusus untuk mendukung program pencegahan stunting.
Paket tersebut akan disalurkan dalam 10 tahap kepada 10 desa sasaran. Masing-masing desa mendapatkan 200 paket.
“Secara khusus paket ini diberikan kepada ibu hamil, ibu menyusui, dan balita,” ujar Suardana.
Selain program tersebut, Dinas Perikanan Badung juga rutin menyalurkan 350 paket olahan ikan setiap bulan. Paket ini menyasar balita yang membutuhkan peningkatan status gizi maupun yang berpotensi mengalami stunting.
Jika digabungkan dengan berbagai kegiatan distribusi lainnya sepanjang 2026, total paket olahan ikan yang akan disalurkan kepada masyarakat Badung mencapai 6.200 paket.
Skema tersebut membuat program Gemarikan memiliki dampak ganda. Di satu sisi, masyarakat memperoleh sumber pangan bergizi, terutama kelompok yang membutuhkan perhatian dalam pemenuhan gizi. Di sisi lain, hasil budidaya dan produk olahan ikan masyarakat lokal mendapatkan kepastian pasar melalui program pemerintah.
Dengan demikian, Gemarikan tidak hanya menjadi program peningkatan konsumsi ikan dan pencegahan stunting, tetapi juga ikut menggerakkan sektor perikanan lokal. Pembudidaya dan pengolah ikan di Badung mendapat kesempatan memperluas pasar sekaligus meningkatkan nilai ekonomi dari hasil produksi mereka. (*)









