Balitopik.com, BALI – Pengrajin yang mengolah sampah anorganik menjadi bernilai ekonomi sekaligus Ketua Yayasan Budaya Bali Punggul Hijau, I Gusti Nyoman Jelantik mengatakan persoalan sampah di Bali hanya dapat diselesaikan dengan “DOA”.
DOA yang dimaksud adalah akronim dari Dana, Orang dan Alat. Jika tanpa 3 hal tersebut ambisi membasmi sampah di Bali hanyalah omon-omon. Hal ini disampaikan saat dirinya diundang ambil bagian dalam malam anugerah 25 tahun Tri Hita Karana Awards di Discovery Kartika Plaza Hotel, Badung Bali, Jumat (9/1/2026), malam.
Inisiator dan desainer TPS 3R ini menegaskan, memang Pemerintah Provinsi Bali telah mengeluarkan sederet kebijakan agar sampah dapat diselesaikan di sumber. Namun ia menilai belum ada DOA yang menunjang.
“Memang dari pihak gubernur sudah menyampaikan bagaimana sampah diselesaikan berbasis sumber, namun tidak ada DOA. Karena dalam pengolahan sampah itu harus ada DOA: ada dana, ada orang dan ada alat,” kata Jelantik.
Bahwa isu soal sampah di Bali sekarang ini hanya ramai dibicarakan tapi sunyi dalam penyelesaian.
Dia setuju dengan kebijakan penyelesaian sampah berbasis sumber yang mana menurutnya sesuai dengan spirit Tri Hita Karana. Tapi harus didukung dengan DOA: dana, orang (SDM) dan alat.
Pihaknya telah belajar mengolah sampah sejak tahun 2016 hingga saat ini telah berhasil mengubah sampah anorganik menjadi bernilai ekonomi. Karena itu bagi Jelantik sampah bukanlah masalah, yang masalah justru karena hanya omon-omon.
“Karena kaitannya dengan Tri Hita Karana memang betul sampah itu harus diselesaikan di sumber. Sampah rumah tangga diselesaikan di rumah tangga, sampah hotel diselesaikan di hotel dan seterusnya,” tandasnya.

















