BALITOPIK.COM, DENPASAR — Tekanan ekonomi yang dirasakan keluarga akibat gempa bumi di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), turut berdampak kepada mahasiswa asal Flores yang sedang menempuh pendidikan di Bali. Kondisi tersebut mendorong Aliansi Bali Peduli Bencana Flores menyalurkan bantuan logistik pangan kepada 100 mahasiswa terdampak, Jumat (28/8/2026).
Penyaluran bantuan berlangsung di Margasiswa PMKRI Cabang Denpasar Sanctus Paulus. Bantuan diberikan setelah Aliansi Bali Peduli Bencana Flores melakukan pendataan terhadap mahasiswa asal Flores di sejumlah perguruan tinggi di Bali.
Koordinator Aliansi Bali Peduli Bencana Flores, Sisko, mengatakan dampak gempa tidak hanya dirasakan masyarakat yang berada di Flores. Kondisi keluarga yang terdampak secara ekonomi juga ikut dirasakan mahasiswa yang sedang berada di Bali.
“Penyaluran bantuan kepada mahasiswa kali ini kami lakukan karena melihat dampak gempa ini tidak hanya dirasakan oleh masyarakat atau keluarga di Flores, tetapi berdampak juga pada teman-teman mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di Bali,” ujar Sisko.
Menurut Sisko, bantuan tersebut secara khusus diarahkan kepada mahasiswa yang keluarganya terdampak gempa. Pendataan dilakukan terlebih dahulu untuk memastikan bantuan diberikan kepada mereka yang membutuhkan.
“Bantuan akan difokuskan kepada 100 orang mahasiswa Flores di Bali yang memang benar-benar terdampak gempa. Kami melakukan pendataan terlebih dahulu terhadap mahasiswa dari beberapa universitas di Bali,” katanya.
Sebanyak 100 mahasiswa tersebut berasal dari berbagai perguruan tinggi di Bali. Di antaranya Universitas Warmadewa, Universitas Mahasaraswati Denpasar, Universitas Dhyana Pura, Institut Bisnis dan Teknologi Indonesia (INSTIKI), Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Universitas Dwijendra, Universitas Mahendradata, Politeknik Pariwisata Bali, Universitas PGRI Mahadewa, Poltekkes Kemenkes Denpasar, serta Akpar Denpasar.
Bantuan logistik ini menjadi respons terhadap dampak lanjutan bencana yang tidak selalu terlihat dari wilayah yang mengalami kerusakan secara langsung. Bagi mahasiswa yang sedang berada di Bali, persoalan di daerah asal tetap dapat memengaruhi kemampuan keluarga dalam menopang kebutuhan pendidikan dan kehidupan sehari-hari.
Aliansi Bali Peduli Bencana Flores menilai kondisi tersebut perlu mendapat perhatian dari perguruan tinggi. Selain bantuan pangan, mereka mendorong kampus memberikan kebijakan khusus bagi mahasiswa yang keluarganya terdampak gempa.
Keringanan biaya pendidikan maupun bentuk dukungan lain dinilai dapat membantu mahasiswa tetap melanjutkan pendidikan ketika kondisi ekonomi keluarga belum kembali pulih.
Sisko mengatakan data hasil pendataan mahasiswa terdampak dapat menjadi bahan pertimbangan bagi masing-masing perguruan tinggi dalam menentukan kebijakan.
“Data yang kami miliki dapat menjadi dasar bagi setiap universitas dalam mengambil kebijakan strategis kampus,” ucapnya.
Menurutnya, keberlanjutan pendidikan mahasiswa perlu menjadi bagian dari perhatian dalam penanganan dampak bencana. Sebab, ketika kondisi ekonomi keluarga terganggu, mahasiswa yang berada jauh dari kampung halaman juga dapat menghadapi tekanan untuk memenuhi kebutuhan selama tinggal dan kuliah di Bali.
Karena itu, penanganan dampak gempa Flores dinilai tidak cukup hanya berfokus pada kebutuhan masyarakat di wilayah terdampak. Kelompok yang berada di luar daerah bencana tetapi memiliki keterkaitan langsung dengan keluarga terdampak juga membutuhkan dukungan.
Dorongan kepada perguruan tinggi membuka ruang kebijakan bagi mahasiswa terdampak menjadi langkah lanjutan agar bencana tidak berujung pada terganggunya keberlanjutan pendidikan.
“Kami berharap kolaborasi antara mahasiswa, perguruan tinggi, masyarakat, dan berbagai pihak dapat terus diperkuat selama proses pemulihan berlangsungm,” tandasnya. (*)








