Balitopik.com, DENPASAR – Ketua Gabungan Usaha Peternakan Babi Indonesia (GUPBI) Nasional, I Ketut Hary Suyasa, mengatakan saat ini Bali masih menjadi pemasok terbesar daging babi. Sekitar 75 persen menguasai pasar daging babi secara nasional.
Ia menjelaskan, populasi babi di Bali diperkirakan mencapai sekitar 2 juta ekor dengan produksi yang siap panen sekitar 11 sampai 12 ribu per hari. Sementara kebutuhan konsumsi di Bali sendiri diperkirakan hanya sekitar 5.000 ekor per hari. Jadi ada kelebihan produksi sekitar 7 ribu.
“Nah kelebihan produksi itu selama ini diserap oleh daerah lain terutama Sulawesi, Kalimantan dan Jawa. Kadang-kadang ke Sumatera,” kata Hary Suyasa saat dihubungi media, Kamis (5/3/2026).
Bahwa kata dia, ada dua jenis pengiriman daging babi ke luar daerah yaitu frozen mix (daging babi beku) dan life pig (babi hidup). Untuk babi hidup yang disasar adalah Surabaya dan Jakarta termasuk Kalimantan.
Sadar bahwa Bali sebagai tulang punggung pasokan daging babi di Indonesia, GUPBI nasional mengusulkan ke pemerintah agar dibebaskan dari zona kuning. Harus jadi zona hijau PMK.
Dia mengaku berdasarkan hasil komunikasi GUPBI nasional dengan pemerintah pusat, tahun 2026 ini Bali akan menjadi zona hijau.
“Kenapa ini penting karena ada beberapa wilayah yang tidak mungkin menerima produk babi dari Bali karena masih terhalang oleh regulasi. Sesuai dengan janji dari kementerian (Perdagangan) 2026 ini Bali akan dibebaskan menjadi zona hijau,” kata dia pula.
Kebijakan Bali menjadi zona hijau disebut akan mempermuda lalu lintas pengiriman baik daging maupun babi hidup ke luar Bali.
“Ini nanti kedepannya mempermudah kita untuk melalulintaskan ternak antar pulau. Jadi regulasinya bisa ada relaksasi, jadi tidak ketat sekali,” ungkapnya.
Senada dengan itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali memastikan distribusi masih dalam kondisi terkendali dan tidak mengganggu ketersediaan ternak di daerah. Distribusi ternak babi dari Bali ke luar daerah sendiri tercatat masih terus berlangsung.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, I Wayan Sunada, memaparkan pada 2025 populasi babi di Bali tercatat mencapai 406.102 ekor dengan produksi sebesar 69.703,60 ton. Sepanjang tahun tersebut distribusi keluar daerah tercatat sebanyak 52.551 ekor.
Memasuki 2026, populasi babi diproyeksikan meningkat menjadi 446.712 ekor dengan estimasi produksi mencapai 70.669,0 ton. Hingga Februari 2026, distribusi ternak babi keluar Bali tercatat sebanyak 16.314 ekor.
Berdasarkan rekap pengiriman antarprovinsi pada periode tersebut, Jakarta menjadi tujuan pengiriman terbesar dengan jumlah 13.186 ekor. Disusul Kalimantan Barat sebanyak 2.568 ekor, Sulawesi Selatan sebanyak 560 ekor, serta Nusa Tenggara Timur sebanyak 10 ekor.
Sementara pengiriman ke sejumlah provinsi lain seperti Sumatera Utara, Kalimantan Tengah, Sulawesi Utara, Kalimantan Utara, Bangka Belitung, Jawa Barat, Lampung, Jawa Timur, dan Kalimantan Timur tercatat nihil hingga Februari 2026.
Sunada menjelaskan permintaan pengiriman tersebut berasal dari pelaku usaha di daerah tujuan. “Itu berdasarkan permohonan dari pelaku usaha di Jakarta,” ujarnya.
Ia menegaskan jika dibandingkan dengan total populasi ternak, distribusi keluar Bali masih berada dalam batas aman, baik dari sisi ketersediaan ternak maupun stabilitas harga di tingkat peternak. “Distribusi keluar Bali jika dibandingkan dengan populasi masih terkendali, baik dari segi populasi maupun harga. Namun bila permintaan sedikit dari luar Bali akan berpengaruh terhadap harga,” jelasnya.
Sebagai informasi, saat ini harga ternak babi di tingkat peternak per 4 Maret 2026 tercatat sekitar Rp47.000 per kilogram berat hidup. Harga tersebut masih berada di atas Harga Pokok Produksi (HPP), sehingga dinilai masih memberikan ruang keuntungan bagi peternak. (*)









