BALITOPIK.COM, BADUNG — Pramuka Peduli Kwartir Daerah (Kwarda) Bali ikut memperkuat upaya pengurangan risiko bencana dengan menanam mangrove di kawasan Pulau Pudut, Tanjung Benoa, Kuta Selatan, Badung.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Peringatan Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) Provinsi Bali 2026 melalui Gerakan Bali Menanam.
Sebelum turun melakukan penanaman, Pramuka Peduli Kwarda Bali juga mengikuti Sarasehan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Bali. Forum tersebut membahas kesiapsiagaan masyarakat, penguatan kelembagaan, kebijakan, penganggaran hingga peran relawan dalam menghadapi risiko bencana.
Kepala Pelaksana BPBD Bali I Gede Agung Teja Bhusana Yadnya dan Ketua FPRB Bali Putu Suta Wijaya turut hadir dalam sarasehan tersebut.
Ketua Pramuka Peduli Kwarda Bali sekaligus Sekretaris II FPRB Bali, Gede Wirawan, mengatakan pengurangan risiko bencana tidak cukup hanya dilakukan saat bencana terjadi. Kesiapsiagaan dan kepedulian terhadap lingkungan juga perlu dibangun sejak awal.
“Pramuka Peduli Kwarda Bali secara aktif melakukan aksi nyata penanaman pohon, termasuk mangrove di berbagai wilayah pesisir. Ini merupakan bagian dari upaya mitigasi bencana sekaligus pelestarian lingkungan,” kata Gede Wirawan.
Menurutnya, penanaman mangrove juga sejalan dengan Dasa Darma Pramuka, khususnya semangat cinta alam dan kasih sayang sesama manusia.
“Cinta alam tidak cukup hanya menjadi slogan. Cinta alam harus diwujudkan melalui tindakan nyata. Ketika kita menanam dan menjaga lingkungan, sesungguhnya kita juga sedang menjaga kehidupan dan mengurangi risiko bagi masyarakat,” ujarnya.
Gede mengatakan Pramuka memiliki jaringan hingga tingkat gugus depan sehingga berpotensi menjadi bagian dari gerakan masyarakat dalam menghadapi persoalan lingkungan dan kebencanaan.
“Dari edukasi, kemudian bergerak bersama dan melakukan aksi. Inilah semangat Pramuka Peduli. Kita ingin anggota Pramuka tidak hanya memahami risiko bencana, tetapi juga mampu mengambil peran dalam menguranginya,” katanya.
Penanaman mangrove di Pulau Pudut menjadi salah satu bentuk aksi langsung tersebut. Selain menjaga ekosistem pesisir, keberadaan mangrove dinilai penting sebagai bagian dari upaya membangun kawasan pesisir yang lebih tangguh menghadapi risiko lingkungan dan perubahan iklim.
Melalui kegiatan tersebut, Pramuka Peduli Kwarda Bali mendorong kolaborasi antara pemerintah, relawan, komunitas dan masyarakat agar pengurangan risiko bencana tidak berhenti pada forum, tetapi dilanjutkan dengan aksi nyata. (*)









