BALITOPIK.COM, DENPASAR — Anggota DPD RI asal Bali Arya Wedakarna (AWK) ikut merespons ramainya seruan “Boikot Bali” yang muncul di media sosial setelah polemik pengalaman sejumlah artis saat berlibur di Bali.
Menurut AWK, masyarakat Bali sebenarnya memiliki cara tersendiri dalam memperlakukan wisatawan, termasuk ketika yang datang merupakan artis atau figur publik. Ia mengatakan warga Bali cenderung menghargai privasi sehingga tidak selalu menunjukkan antusiasme berlebihan ketika bertemu artis.
“Kalau artis datang ke Bali, masyarakat Bali itu sebenarnya menghargai privasi. Jadi kadang-kadang kelihatannya tidak terlalu antusias, bukan berarti tidak menghargai,” kata AWK saat ditemui di Kantor DPD RI Bali, Selasa (6/10/2026).
Menurutnya, sikap tersebut justru menjadi bagian dari karakter masyarakat Bali yang sudah terbiasa hidup berdampingan dengan wisatawan.
Karena itu, AWK meminta polemik yang berkembang di media sosial tidak kemudian digeneralisasi sebagai gambaran bahwa Bali tidak menghargai wisatawan atau artis yang datang.
Sebelumnya, polemik mengenai pengalaman artis di Bali ramai setelah Billy Syahputra menceritakan pengalaman tidak menyenangkan saat berada di kawasan Pantai Dreamland. Persoalan tersebut kemudian berkembang di media sosial dan muncul narasi “Boikot Bali”.
Menanggapi hal itu, AWK mengatakan Bali tidak perlu terpancing.
“Kalau ada yang bilang boikot Bali tentunya akan ada keuntungan untuk daerah lain, jadi ya silakan,” ujarnya.
AWK mengatakan Bali saat ini memang sedang melakukan pembenahan. Ia menyebut masih banyak persoalan yang perlu diselesaikan, termasuk dalam sektor pariwisata.
“Kebetulan Bali ini lagi mau bersih-bersih, kebetulan Bali masih banyak masalah. Jadi sebenarnya kita sedang menyeleksi turis yang berkualitas, turis yang spending moneynya banyak, turis yang punya dolarnya banyak,” katanya.
Menurut AWK, Bali tidak harus mengejar wisatawan dari sisi jumlah. Ia justru menilai wisatawan yang datang dengan pengeluaran besar lebih penting bagi perekonomian Bali.
“Kita lebih baik nerima turis nggak banyak tapi berkualitas,” tegasnya.
Meski begitu, AWK mengingatkan masyarakat Bali agar tidak ikut terpancing dengan seruan boikot. Menurutnya, persoalan yang muncul belakangan seharusnya menjadi bahan evaluasi bersama.
“Semoga semua masalah ini bisa diselesaikan, kita jadikan pelajaran, kita jadikan untuk introspeksi diri, masyarakat introspeksi, kita sebagai sebuah bangsa harus bersatu,” ujarnya.
AWK juga mengingatkan bahwa Bali masih menjadi salah satu destinasi utama dunia. Ia merujuk pada Tripadvisor Travelers’ Choice Awards 2026 yang menempatkan Bali di posisi pertama kategori destinasi terbaik dunia.
“Sekali lagi saya ajak ayo jaga Bali, semua sayang sama Bali dengan caranya masing-masing. Mari kita ke depan lebih baik lagi karena Bali adalah penyumbang devisa pariwisata terbesar di Indonesia,” katanya.
Menurut AWK, pariwisata Bali juga memberikan dampak lebih luas terhadap perekonomian Indonesia.
“Yang datang ke Bali membantu Indonesia. Jadi kalau Bali bermasalah, pemasukan untuk Indonesia untuk membangun daerah lain juga akan terganggu,” ujarnya.
Polemik “Boikot Bali” pun kini tidak hanya berbicara soal pengalaman satu atau dua wisatawan. Persoalan tersebut berkembang menjadi pembicaraan mengenai bagaimana Bali memperlakukan wisatawan, bagaimana wisatawan menghormati Bali, serta seperti apa arah pariwisata Bali ke depan.
AWK memilih melihat polemik tersebut sebagai momentum untuk sama-sama melakukan introspeksi, tanpa harus menjadikan seruan boikot sebagai alasan untuk saling mempertentangkan Bali dengan daerah tujuan wisata lainnya.









