Oleh: Dr. Efatha Filomeno Borromeu Duarte, (Dosen Ilmu Politik Universitas Udayana)
Saya membayangkan Ibu Menteri Pariwisata tempo hari. Saat di Ubud. Saya yakin beliau sempat duduk sejenak. Atau setidaknya, menarik napas panjang.
Melihat macetnya jalanan di depan Puri yang ampun-ampunan.
Tapi saya bertaruh satu hal: beliau pasti tersenyum.
Logikanya sederhana: macet berarti ramai. Ramai berarti laku. Itu narasi yang paling enak dibawa pulang ke Jakarta. Laporan ke Presiden jadi indah.
Data Angkasa Pura memang bikin silau. Tujuh koma satu juta wisman! Rekor. Belum pernah sejarahnya Bali setinggi ini.
Tapi saya punya kebiasaan buruk. Setiap mendengar angka besar, saya selalu memeriksanya dua kali. Kadang tiga kali. Saya curiga. Karena angka yang terlalu besar biasanya menyembunyikan cerita kecil yang lebih penting.
Cerita kecil itu ada di sini: wisatawan domestik (wisnus) turun 700 ribu orang.
Bagi orang awam, mungkin itu sepele. “Ah, kan wisman naik!” begitu pikir mereka. Tapi bagi yang paham anatomi ekonomi, turunnya wisnus adalah lampu kuning. Bahkan hampir jingga.
Wisnus itu buffer. Dia penyeimbang. Stabilisator. Merekalah yang membuat napas Bali tetap panjang saat dunia sedang “flu” atau dilanda krisis global. Kalau penurunannya sedalam ini, artinya satu: kantong kelas menengah kita sedang bolong. Dan Bali adalah sensor pertama yang merasakannya.
Lalu, muncul kalimat menarik dari ibu Menteri: “Isu pariwisata Bali sedang dikaji Bank Dunia.”
Saya termenung. Bank Dunia? Untuk apa?
Bank Dunia itu institusi serius. Mereka tidak peduli pada curhatan influencer soal Bali yang sepi. Mereka juga tidak mau mengurusi tarif parkir yang naik seribu perak. Mereka bekerja pada wilayah yang tidak masuk dalam feed Instagram: struktur, tata kelola, dan risiko jangka panjang.
Kalau Bank Dunia sudah turun tangan, artinya ada sesuatu yang tidak beres. Sesuatu yang belum meledak, tapi sumbunya sudah pendek. Mereka sedang melihat pola. Sebelum pola itu berubah menjadi bencana.
Bali memang ramai. Tapi ramai bukan berarti sehat. Ramai bisa berarti konsumsi yang berlebihan atas kapasitas yang cekak.
Phuket pernah begitu. Barcelona setali tiga uang. Santorini apalagi. Semuanya gegap gempita, sebelum akhirnya tercekik oleh keramaiannya sendiri.
Saya maklum kalau Gubernur Bali bangga dengan rekor itu. Harus bangga. Memang tugasnya begitu. Yang saya khawatirkan adalah kalau kita semua ikut mabuk euforia.
Dalam ilmu kebijakan, rekor itu seperti puncak gunung. Indah, tapi licin sekali. Salah injak sedikit, gulingnya bisa jauh ke bawah.
Dan Bali hari ini sedang berdiri tepat di puncak yang licin itu.
Jika tidak hati-hati, Bali bisa mati karena keberhasilannya sendiri. Air yang makin sulit dicari. Tanah yang makin sempit diserobot beton. Sampah yang tak tahu mau dibuang ke mana. Hingga budaya yang pelan-pelan hanya jadi dekorasi pajangan. Bukan lagi ruh.
Dulu, Bali menyelamatkan Indonesia lewat devisa. Sekarang, gantian: Indonesia yang harus menyelamatkan Bali. Caranya? Tata kelola yang tegas. Bukan sekadar imbauan.
Ada tokoh Puri yang berharap Bali bisa bertahan 100 tahun lagi sebagai destinasi budaya. Harapan yang mulia. Tapi kita tahu: 100 tahun ke depan tidak bisa dikelola dengan cara 10 tahun ke belakang.
Harus berani membatasi. Batasi investasi yang rakus lahan. Batasi destinasi yang tumbuh seperti jamur tanpa rambu. Batasi pesta ekonomi yang menggerus budaya lebih cepat daripada yang kita bayangkan.
Itulah yang dipelototi Bank Dunia. Mereka tidak bicara soal tahun depan. Mereka bicara Bali tahun 2040. Tahun 2070.
Mungkin, tanpa suara, mereka ingin berbisik: “Bali ini terlalu berharga untuk dibiarkan tumbuh liar.”
Saya mengibaratkan Bali seperti rumah tua yang sangat cantik. Tamu datang silih berganti. Semua memuji. Tapi tiang-tiangnya mulai keropos. Lantainya mulai berderit. Atapnya bocor di sana-sini.
Tamu tidak akan sadar itu. Mereka sibuk selfie. Yang mendengar suara derit lantai itu hanya pemilik rumah. Dan para analis yang tidak silau oleh kamera.
Bali sekarang berada di antara dua hal: pujian dan peringatan.
Pujian datang dari rekor kunjungan.
Peringatan datang dari kajian Bank Dunia.
Mana yang mau kita dengar?
Untuk jangka pendek, pujian memang enak di telinga. Tapi untuk jangka panjang, peringatanlah yang menyelamatkan nyawa.
Bali tidak sedang sekarat. Tapi Bali sedang diuji.
Rekor 7,1 juta itu bukan hadiah. Itu adalah pengumuman bahwa ujian berikutnya akan jauh lebih berat. Jika lulus, Bali abadi 100 tahun lagi. Jika gagal, angka itu hanya akan dikenang sebagai titik tertinggi sebelum terjun bebas.
Masa depan Bali tidak ditentukan oleh seberapa ramai Bandara Ngurah Rai hari ini. Tapi oleh keberanian kita untuk menjaga kecantikannya saat dunia berubah terlalu cepat. Itu saja.

















