• Latest
  • Trending
  • All
  • Pariwisata
  • Uncategorized
  • Nasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Bali
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Travel
  • Hukum
  • Olahraga
  • Peristiwa
  • Kesehatan
  • Edukasi
Pengamat Politik Universitas Udayana, Efatha Filomeno Borromeu Duarte. -BALITOPIK.COM

Tulisan Dr. Efatha soal AS – Israel Manfaatkan AI Dalam Memburu Petinggi Iran

5 bulan ago
Warga Negara Australia (WNA) berinisial BA diamankan petugas Imigrasi Ngurah Rai saat hendak meninggalkan Bali usai video asusilanya viral. -IST

Diduga Berbuat Asusila Depan Rumah Warga, WNA Australia Ditangkap Imigrasi saat Hendak Tinggalkan Bali

14 menit ago
Gubernur Bali Wayan Koster dan PT. PLN Tandatangani Kesepakatan Bersama Percepatan Pengembangan Infrastruktur Ketenagalistrikan Berbasis Energi Terbarukan di Provinsi Bali. -IST

Energi Bali Beralih dari BBM, Koster: Menjaga Citra Pariwisata Bali

1 jam ago
Presiden Prabowo Subianto saat meluncurkan Program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 gigawatt peak (GWp) di Jembrana. -IST

PLTS 100 GWp Gilimanuk Diluncurkan, Apa Dampak Ekonominya untuk Bali?

1 jam ago
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dan Wayan Koster mendampingi Presiden Prabowo Subianto saat peluncuran program PLTS 100 GWp di Kabupaten Jembrana. -IST

Bahlil Puji Koster soal PLTS 100 GWp: “Paten Betul Gubernur Bali Ini”

16 jam ago
Anggota DPR RI Komisi III, Nyoman Parta. -Dokumen Pribadi

72 Tersangka Karhutla, Nyoman Parta Dorong Polri Buru Aktor Intelektual

16 jam ago
Dua orang pelaku penyeroyokan di Manggis saat ditetapkan jadi tersangka. -BALITOPIK.COM

Tiga Diamankan, Dua Jadi Tersangka Kasus Pengeroyokan di Manggis

21 jam ago
Trofi Soekarno Cup 2026 (Foto: Dok. Istimewa)

Drama Penalti, Banteng Jabar Juara Soekarno Cup 2026 Usai Kalahkan Bali

21 jam ago
Ilustrasi

Kenapa CDC AS Soroti Bali soal Zika? Ini Penjelasannya

22 jam ago
  • Home
  • Bali
    • Peristiwa
    • Travel
  • Nasional
    • Politik
    • Pendidikan
    • Hukum
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Opini
  • Teknologi
  • Lifestyle
    • Entertainment
  • World
No Result
View All Result
  • Login
Login Sign Up
No Result
View All Result
No Result
View All Result

Tulisan Dr. Efatha soal AS – Israel Manfaatkan AI Dalam Memburu Petinggi Iran

Reporter balitopik.com
20 Maret 2026 - 3:57 am
Pengamat Politik Universitas Udayana, Efatha Filomeno Borromeu Duarte. -BALITOPIK.COM

Pengamat Politik Universitas Udayana, Efatha Filomeno Borromeu Duarte. -BALITOPIK.COM

Oleh: Dr. Efatha Filomeno Borromeu Duarte – Dosen Ilmu Politik Universitas Udayana

​Malam itu langit Denpasar memerah. Gamelan baleganjur bertalu kencang. Menggetarkan dada.

​Saya berdiri di pinggir Lapangan Puputan. Ditemani istri saya. Kami menonton raksasa ogoh-ogoh diarak keliling lapangan. Taringnya panjang. Wajahnya menyeramkan. Matanya merah melotot. Simbol angkara murka yang harus disoraki dan akhirnya dibakar habis sebelum pulau Bali masuk ke dalam keheningan total bernama Nyepi.

​Di tengah keramaian itu pikiran saya justru melayang ke monster jenis lain.

​Monster yang tidak terbuat dari rangka bambu dan kertas semen. Melainkan monster yang dirajut dari silikon, fiber optik, dan baris-baris kode algoritma.

​Itulah monster yang membuat saya sering pusing memikirkan disertasi doktoral saya di Ilmu Hukum di Universitas Udayana. Judulnya terdengar sangat akademis yaitu Hakekat Pengaturan Robot dan Kecerdasan Buatan di Indonesia.

​Sebuah kegelisahan yang memburu. Bagaimana jadinya kalau mesin mulai mengambil alih keputusan hidup dan mati manusia? Hukum positif kita yang diwarisi dari zaman Romawi hanya didesain untuk menghukum manusia yang punya niat jahat.

​Hukum kita sejak zaman Belanda hanya mengenal subjek hukum berwujud manusia atau badan hukum. Lahir batinnya jelas. Lalu bagaimana cara polisi dan hakim membuktikan niat jahat dari sebuah algoritma yang bertindak otonom?

​Apakah kita harus menghukum ahli kodenya yang sedang asyik minum kopi di Silicon Valley? Atau kita harus menyita komputer servernya lalu meletakkannya di balik jeruji besi? Konyol sekali.

​Nyepi pun tiba. Bali hening selama 24 jam. Jalanan kosong. Internet dimatikan.

​Begitu Nyepi usai, sinyal ponsel kembali masuk. Layar menyala. Berita internasional membanjiri lini masa. Seketika dunia membuktikan bahwa ketakutan dalam disertasi saya itu bukan sekadar teori di atas kertas kampus.

​Di Timur Tengah monster digital itu sedang bekerja. Fokusnya bukan sekadar mengalahkan musuh. Mesin itu sedang menghapus pimpinan negara berdaulat dari muka bumi.

​Bulan Maret 2026 ini benar-benar berdarah.

​Tiga petinggi elit Iran tewas beruntun. Ali Larijani. Gholamreza Soleimani. Esmaeil Khatib. Semuanya gugur secara presisi dalam hitungan 48 jam.

​Apakah Israel mengirim agen rahasia menyusup ke Teheran? Pasti. Agen Mossad jelas bertebaran di lapangan.

​Apakah mereka bekerja heroik sendirian seperti James Bond? Tidak sama sekali.

​Peran mata-mata manusia kini sudah turun kasta. Mereka bukan lagi otak operasi. Mereka sekadar pelayan lapangan. Tukang konfirmasi visual. Tukang tanam sensor fisik.

​Otak pencabut nyawa sesungguhnya adalah kecerdasan buatan. Sebuah ekosistem AI milik Israel bernama Lavender dan The Gospel.

​Ini bukan lagi operasi intelijen tradisional. Ini adalah pabrik. Sebuah lini perakitan yang produk akhirnya cuma satu yaitu daftar target kematian.

​Sistem AI ini mengerikan karena ia tidak butuh tidur. Tidak butuh minum obat. Tidak punya rasa takut atau ragu. Tugasnya hanya menelan miliaran titik data setiap detik.

​Dari mana datanya? Di sinilah ironi terbesar abad ini terjadi. Senjata makan tuan yang paripurna.

​Rezim Iran selama bertahun-tahun memasang ribuan kamera pengawas di jalanan Teheran. Niat awalnya untuk mengawasi rakyatnya sendiri. Intelijen Israel rupanya berhasil meretas jaringan itu.

​Kamera itu dikawinkan dengan citra satelit. Digabung dengan sinyal telepon seluler yang disadap. Ditambah dengan analisis pola kebiasaan hidup harian. Mesin ini membedah jaringan sosial mereka. Siapa bertemu siapa. Siapa menelepon siapa di jam berapa. Ke mana rute konvoi mobil pengawal bergerak.

​Lalu layar monitor di markas militer menyala. Menyodorkan nama target dengan akurasi 90 persen.

​Berapa lama perwira manusia memeriksa data dari AI tersebut sebelum menekan tombol tembak?

​Dua puluh detik.

​Ya, hanya 20 detik. Hanya sekadar untuk melihat apakah target yang ditunjuk mesin itu laki-laki atau bukan. Setelah itu amunisi presisi meluncur. Target lenyap menjadi debu.

​Lebih gila lagi sistem AI ini melakukan pengepungan digital. Sesaat sebelum rudal menghantam, AI memutus seluruh koneksi menara seluler di radius lokasi target. Sang pejabat tidak bisa menelepon. Pengawal tidak bisa meminta evakuasi menit terakhir. Mereka dieksekusi dalam kesunyian komunikasi yang sangat klinis.

​Mari kita letakkan kacamata hukum sebentar dan memakai pisau bedah geopolitik yang lebih dingin. Ala lembaga pemikir strategis.

​Perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran ini sejatinya bukan murni unjuk gigi teknologi pembunuh. Bukan pula semata-mata soal mencegah nuklir Iran.

​Ini adalah urusan perut. Urusan dominasi. Urusan siapa yang memegang leher ekonomi dunia.

​Siapa yang mengontrol Selat Hormuz, dialah yang mengendalikan 20 persen suplai energi global.

​Washington memiliki agenda terselubung bernama dominasi energi Amerika. Ketika Iran terjepit dan akhirnya menutup Selat Hormuz secara efektif, lalu lintas tanker minyak global anjlok. Eropa panik bukan main. Lalu siapa penyelamatnya? Gas alam cair buatan Amerika Serikat.

​Eropa kini terpaksa membeli gas Amerika dengan harga selangit. Setiap harga minyak mentah global naik satu dolar, perusahaan energi di Texas untung ratusan juta dolar per hari. Perang ini adalah durian runtuh bernilai triliunan dolar bagi Amerika.

​Bahkan Amerika Serikat sengaja menjaga agar kilang minyak Kharg Island milik Iran tidak hancur lebur dibom. Kenapa? Karena infrastruktur itu dijaga tetap utuh untuk diwariskan kelak kepada rezim pemerintahan baru Iran yang pro Barat.

​Di balik kemesraan militer itu ada retakan yang sangat dalam antara Amerika Serikat dan Israel. Retakan yang sangat berbahaya.

​Seorang pejabat Gedung Putih sampai blak-blakan ke media bahwa Israel tidak benci kekacauan, justru Amerika yang benci dan menginginkan stabilitas.

​Perdana Menteri Netanyahu sedang memainkan gim tingkat tinggi. Ia pada dasarnya memanipulasi Presiden Trump. Setiap kali Amerika hampir mencapai kesepakatan damai dengan Iran, Israel langsung menyabotase dengan membunuh tokoh kuncinya.

​Ali Larijani adalah sosok pejabat Iran yang paling rasional dan bisa diajak berunding oleh komunitas internasional. Israel dengan sengaja menjadikannya target AI dan membunuhnya. Meja perundingan pun hancur berantakan. Hebatnya Trump justru dibujuk agar ikut puas dengan pembunuhan itu. Netanyahu berhasil menyeret Amerika ke dalam perang habis-habisan yang dibayar menggunakan uang pajak dan aset militer Amerika.

​Sementara itu China yang mengandalkan sepertiga minyaknya dari Selat Hormuz sedang dijebak. Trump menantang Beijing untuk mengirim kapal perang ke Hormuz guna ikut menjaga keamanan.

​Ini adalah taktik simalakama yang brilian. Jika China menurut dan mengirim kapal, berarti Beijing secara tidak langsung tunduk pada hegemoni Washington di Teluk. Jika China menolak, Washington akan menuding Beijing sebagai parasit yang enggan bertanggung jawab atas krisis dunia.

​Di saat para pemimpin negara adidaya asyik bermain catur geopolitik ini, mesin pembunuh AI itu terus menyala. Mencari anomali. Merangkai data. Menyiapkan target berikutnya.

​Lalu lihatlah bagaimana China dan Rusia pasti bereaksi. Beijing dan Moskow pasti sedang keringat dingin. Para jenderalnya tentu memutar otak. Mereka sadar bahwa teknologi yang dibangun untuk melindungi penguasa ternyata bisa berbalik memakan tuannya.

​Melihat semua kegilaan ini ingatan saya kembali ke ogoh-ogoh di Lapangan Puputan.

​Ogoh-ogoh itu dibakar agar kejahatan dan kekacauan musnah. Agar besoknya manusia bisa memulai hidup dari titik nol dengan hati yang lebih bersih.

​Sayangnya sistem kecerdasan buatan di langit Timur Tengah sana tidak bisa dibakar dengan obor bambu. Server-server itu ditanam di dalam bunker yang kebal rudal. Algoritma itu terus belajar. Terus berevolusi. Terus menyempurnakan seni mencabut nyawa. (*)

Tags: AI militeralgoritmaAmerika Serikatdisertasi hukumenergi globalgeopolitikhukum AIIsrael IranKecerdasan Buatankonflik globalLavender AIMossadpengawasan digitalperang modernperang teknologiSelat Hormuzteknologi militerThe GospelTimur TengahUniversitas Udayana
SendShareShareSend

Media Social

Facebook Instagram TikTok YouTube Chat WhatsApp

TOPIK MEDIA GROUP

  • Blog
  • Box Redaksi
  • Elementor #10692
  • Home
  • kebijakan privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Syarat dan ketentuan

Recent Posts

  • Diduga Berbuat Asusila Depan Rumah Warga, WNA Australia Ditangkap Imigrasi saat Hendak Tinggalkan Bali
  • Energi Bali Beralih dari BBM, Koster: Menjaga Citra Pariwisata Bali
  • PLTS 100 GWp Gilimanuk Diluncurkan, Apa Dampak Ekonominya untuk Bali?
No Result
View All Result
  • Home
  • Politik
  • Hukum
  • Bali
  • Opini
  • Lifestyle
  • Nasional
  • Internasional

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?