BALITOPIK.COM, BALI – Pemandangan tak biasa terlihat di kawasan hutan mangrove, Jalan Bypass Ngurah Rai, Benoa, Denpasar Selatan, Rabu (11/3/2026). Sejumlah spanduk misterius terpasang di pagar pembatas jalan, tepat di titik di mana ratusan pohon mangrove mati mengering secara mendadak.
Spanduk-spanduk itu berisi tulisan tangan memuat pesan bernada sindiran dan tuntutan keadilan bagi lingkungan. Keberadaannya pun menarik perhatian para pengguna jalan yang melintas di area tersebut. Tidak diketahui siapa yang memasang spanduk tersebut.

Salah satu spanduk besar bertuliskan pesan sarkasme mengenai gangguan kenyamanan akibat rusaknya ekosistem: “MOHON MAAF PERJALANAN TERGANGGU, ADA MANGROVE MATI”.
Sementara itu, spanduk lainnya secara terang-terangan menuntut pertanggungjawaban dari pihak-pihak yang diduga menyebabkan rusaknya paru-paru kota tersebut: “DITUNGGU TANGGUNG JAWABNYA!!! #SAVEMANGROVE”.

Pemasangan spanduk ini diduga merupakan bentuk aksi protes warga atau aktivis lingkungan yang merasa geram dengan lambatnya penanganan dan tidak adanya kejelasan mengenai penyebab kematian massal pohon pelindung pesisir tersebut.
Kasus kematian ratusan mangrove di kawasan Benoa ini memang tengah menjadi sorotan publik. Kematian mangrove dalam skala besar ini dinilai sangat merugikan, mengingat fungsinya yang vital sebagai penahan abrasi dan habitat berbagai biota laut.
Munculnya spanduk-spanduk ini perlu dianggap sebagai pengingat keras bagi pemerintah dan instansi terkait agar tidak tutup mata. Pesan yang disampaikan sudah cukup jelas: publik sedang mengawasi dan menanti jawaban atas rusaknya ekosistem di Benoa. (*)









