• Latest
  • Trending
  • All
  • Pariwisata
  • Uncategorized
  • Nasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Bali
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Travel
  • Hukum
  • Olahraga
  • Peristiwa
  • Kesehatan
  • Edukasi
Alexandro Rolandi. -BALITOPIK.COM

Ini Sosok Alexandro Rolandi, Anak Transmigran Buruh Sawit yang Kini Maju Rebut Ketua PP PMKRI

3 bulan ago
Siti Sapurah alias Ipung saat mendampingi KC dan Ibunya. -IST

Dokter Muda di Bali jadi Tersangka, Dituduh Gelapkan Asal Usul Anak Kandung Sendiri

3 jam ago
Prof. I Dewa Made Cipta Santosa, S.T., M.Sc., Ph.D. -BALITOPIK.COM

Dewa Cipta Pimpin PNB 2026-2030, Fokus Perkuat Vokasi dan Riset Terapan

4 jam ago
Data kunjungan wisatawan ke Bali periode 2025-2026. -IST

Pariwisata Bali Diingatkan dari Sustainable Tourism Menuju Regenerative Tourism

10 jam ago
Gubernur Bali Wayan Koster (kiri) dan Ketua DPRD bali Dewa Made Mahayadnya alias Dewa Jack. -BALITOPIK.COM

Dewa Jack Apresiasi Koster Genjot PAD, Di Sisi Lain APBD Bali Defisit Rp842 Miliar

11 jam ago
Gubernur Bali Wayan Koster. -BALITOPIK.COM

Upah Pariwisata Bali 2027 Dikaji, UMKM Jadi Perhatian

11 jam ago
Ketua Fraksi Golkar DPRD Bali sekaligus Wakil Ketua Pansus Tata Ruang, Aset dan Perizinan (TRAP), Anak Agung Bagus Tri Candra Arka alias Gung Cok. -IST

Putusan PTUN Kelingking Disorot DPRD Bali, Pertanyakan Keseriusan Pemerintah

23 jam ago
Kondisi pohon mangrove yang mati karena paparan minyak di Pedungan. -IST

Usai Minta Maaf, Pertamina Diminta Pulihkan Mangrove Pedungan

1 hari ago
Ketua DPRD Bali Dewa Made Mahayadnya alias Dewa Jack. -BALITOPIK.COM

DPRD Bali Dorong Banding, Polemik Lift Kaca Kelingking Berlanjut

1 hari ago
  • Home
  • Bali
    • Peristiwa
    • Travel
  • Nasional
    • Politik
    • Pendidikan
    • Hukum
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Opini
  • Teknologi
  • Lifestyle
    • Entertainment
  • World
No Result
View All Result
  • Login
Login Sign Up
No Result
View All Result
No Result
View All Result

Ini Sosok Alexandro Rolandi, Anak Transmigran Buruh Sawit yang Kini Maju Rebut Ketua PP PMKRI

Reporter balitopik.com
9 Juni 2026 - 5:10 am
Alexandro Rolandi. -BALITOPIK.COM

Alexandro Rolandi. -BALITOPIK.COM

BALITOPIK.COM, BALI – Nama Alexandro Rolandi atau yang akrab disapa Roland belakangan mulai ramai diperbincangkan di kalangan kader Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI). Pria muda asal Flores yang tumbuh besar di Papua itu disebut-sebut sebagai salah satu kandidat kuat yang akan bertarung memperebutkan kursi Ketua Pengurus Pusat PMKRI pada forum nasional mendatang.

Di balik kiprahnya sebagai aktivis organisasi, Roland menyimpan kisah panjang tentang perjuangan hidup seorang anak transmigran yang ditempa oleh kerasnya kehidupan sejak usia dini.

Roland lahir di Maumere, Kabupaten Sikka, Flores, pada 8 November 1998. Ia merupakan anak sulung dari lima bersaudara, putra pasangan Fransiskus Weli Tanus dan Maria Krisnia Wati Tey.

Masa kecil Roland tidak jauh berbeda dengan kebanyakan anak dari keluarga sederhana di wilayah timur Indonesia. Namun, tak lama setelah kelahirannya, kondisi ekonomi keluarga memaksa sang ayah merantau ke Papua melalui program transmigrasi.

Kala itu, ayah Roland bekerja sebagai buruh perkebunan kelapa sawit di kawasan Manokwari untuk mencari penghidupan yang lebih baik bagi keluarga.

“Sejak kelahiran saya dan karena tuntutan ekonomi, akhirnya Bapa memutuskan merantau ke Papua pada tahun 1999. Beliau bekerja sebagai buruh kelapa sawit di daerah transmigrasi Manokwari,” kenang Roland.

Saat usianya menginjak tiga tahun, Roland bersama sang ibu akhirnya menyusul ayahnya ke Papua. Perjalanan yang ditempuh bukan perkara mudah. Mereka harus menumpang kapal laut selama lebih dari sepekan dengan rute panjang dari Maumere menuju Kupang, Makassar, Baubau, Ambon, Sorong, hingga akhirnya tiba di Manokwari.

Bagi Roland, perjalanan tersebut menjadi bagian dari cerita keluarga yang tak pernah terlupakan.

Sebelum berkumpul kembali, komunikasi antara kedua orang tuanya hanya mengandalkan telepon milik tetangga. Saat itu, telepon masih menjadi barang mewah bagi sebagian besar masyarakat.

“Kalau Bapa menelepon dari Papua, biasanya tetangga akan memanggil Mama. Kadang pesan itu diteruskan dari rumah ke rumah sampai akhirnya sampai ke Mama,” tuturnya.

Setelah beberapa tahun tinggal di Papua, Roland sempat kembali ke Maumere bersama ibu dan adiknya karena alasan ekonomi. Namun perjalanan hidup membawanya kembali ke Tanah Papua pada tahun 2009, tepat ketika dirinya duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar.

Kali ini tujuan mereka adalah Teminabuan, Kabupaten Sorong Selatan, tempat sang ayah mulai merintis usaha yang perlahan berkembang.

“Dari tahun 2009 sampai sekarang, keluarga kami masih menetap di Teminabuan, Sorong Selatan,” ujarnya.

Tumbuh di lingkungan yang berbeda membuat Roland harus belajar beradaptasi. Salah satu tantangan yang paling ia ingat adalah ketika logat khas Maumere yang dibawanya sering menjadi bahan ejekan teman-teman sekolah.

Alih-alih menyerah, Roland justru belajar memahami dan menggunakan dialek Papua agar dapat membaur dengan lingkungan sekitarnya.

“Waktu SD saya sering diejek karena logat Maumere. Ejekan itu yang membuat saya sering berkelahi. Akhirnya saya belajar menggunakan dialek Papua supaya bisa beradaptasi,” katanya sambil tertawa.

Perlahan, Roland mampu membangun persahabatan dengan anak-anak asli Papua. Masa kecilnya diisi dengan berbagai kenangan sederhana, mulai dari bermain bersama hingga mandi di sungai sepulang sekolah.

Namun di balik cerita masa kecil yang penuh warna, Roland mengaku pelajaran hidup paling berharga justru datang dari orang tuanya.

Sebagai keluarga perantau yang hidup dalam keterbatasan, ia dibesarkan dengan nilai-nilai kesederhanaan, kerja keras, dan kepedulian terhadap sesama.

Pesan sang ayah yang paling membekas hingga kini adalah tentang pentingnya menghargai manusia dibandingkan harta benda.

“Bapa selalu bilang, lebih baik kita kaya akan manusia daripada kaya akan harta benda. Kita harus membantu orang lain bukan karena kita kaya, tetapi karena kita pernah merasakan susah. Jangan pernah lupa bagaimana rasanya membutuhkan pertolongan,” ungkap Roland.

Nilai-nilai itulah yang menurut Roland membentuk cara pandangnya dalam berorganisasi dan melayani sesama. Dari seorang anak transmigran yang tumbuh di pelosok Papua, kini ia bersiap melangkah ke panggung nasional, membawa mimpi dan pengalaman hidup yang ditempa oleh perjuangan panjang keluarganya.

Perjalanan Roland menjadi bukti bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk bermimpi besar. Justru dari pengalaman hidup yang sederhana itulah lahir tekad untuk mengabdi dan memberi makna bagi banyak orang. (*)

Tags: Aktivis MahasiswaAlexandro RolandiFloresKetua PP PMKRIMaumereorganisasi mahasiswaPapuaPMKRIPMKRI NasionalRolan PMKRIRolandSorong Selatantokoh muda Indonesia
SendShareShareSend

Media Social

Facebook Instagram TikTok YouTube Chat WhatsApp

TOPIK MEDIA GROUP

  • Blog
  • Box Redaksi
  • Elementor #10692
  • Home
  • kebijakan privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Syarat dan ketentuan

Recent Posts

  • Dokter Muda di Bali jadi Tersangka, Dituduh Gelapkan Asal Usul Anak Kandung Sendiri
  • Dewa Cipta Pimpin PNB 2026-2030, Fokus Perkuat Vokasi dan Riset Terapan
  • Pariwisata Bali Diingatkan dari Sustainable Tourism Menuju Regenerative Tourism
No Result
View All Result
  • Home
  • Politik
  • Hukum
  • Bali
  • Opini
  • Lifestyle
  • Nasional
  • Internasional

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?