BALITOPIK.COM, LONDON – Apa yang membuat Gubernur Bali Wayan Koster menjadi satu-satunya gubernur dari Asia yang diundang menghadiri London Climate Action Week 2026? Jawabannya terletak pada konsistensi Bali menjalankan berbagai kebijakan pembangunan hijau yang dinilai menjadi salah satu contoh aksi nyata penanganan perubahan iklim di tingkat daerah.
Forum iklim bergengsi yang mempertemukan lebih dari 200 pemimpin dunia, kepala daerah, pembuat kebijakan, lembaga internasional, pelaku usaha, hingga komunitas lingkungan tersebut memilih Bali sebagai representasi pemerintah daerah di Asia karena dinilai memiliki arah kebijakan yang jelas dalam pembangunan rendah karbon dan transisi menuju energi bersih.
Dalam forum internasional itu, Koster memaparkan berbagai program strategis Pemerintah Provinsi Bali yang telah dijalankan melalui visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali dalam Pola Pembangunan Semesta Berencana Bali Era Baru.
Sejumlah kebijakan yang dipresentasikan meliputi Program Bali Mandiri Energi Bersih, percepatan penggunaan kendaraan listrik berbasis baterai, pembatasan plastik sekali pakai, pengembangan pertanian organik, hingga perlindungan kawasan danau, mata air, sungai, serta laut sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan lingkungan.
Menurut Koster, seluruh kebijakan tersebut bukan sekadar program lingkungan, melainkan fondasi besar pembangunan hijau Bali yang diarahkan untuk mencapai Net Zero Emission pada 2045, atau 15 tahun lebih cepat dibanding target nasional Indonesia pada 2060.
“Seluruh kebijakan ini merupakan komitmen Bali dalam membangun ekonomi yang tetap tumbuh tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan,” ujar Koster saat dikonfirmasi.
Keberhasilan Bali menghadirkan konsep pembangunan berbasis budaya, lingkungan, dan keberlanjutan inilah yang menjadi salah satu alasan Pulau Dewata mendapat perhatian komunitas internasional.
London Climate Action Week merupakan salah satu forum perubahan iklim terbesar di dunia yang mempertemukan pemerintah pusat, pemerintah daerah, investor, akademisi, lembaga filantropi, hingga organisasi internasional untuk mempercepat aksi nyata menghadapi krisis iklim.
Acara utama dibuka oleh Pendiri Bloomberg Philanthropies Michael Bloomberg dan menghadirkan pidato Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres.
Dalam pidatonya, Guterres menegaskan dunia saat ini menghadapi dua tantangan besar, yakni krisis energi dan perubahan iklim akibat ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.
Ia mendorong seluruh negara mempercepat pemanfaatan energi terbarukan yang dinilai tidak hanya menjadi solusi lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi dan memperkuat ketahanan energi global.
Selain itu, Guterres menekankan pentingnya menekan emisi gas metana, memastikan pusat data (data center) menggunakan energi bersih paling lambat tahun 2030, serta mempercepat transformasi digital yang sejalan dengan pembangunan rendah karbon.
Menurutnya, keberhasilan aksi iklim tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah. Bahwa saat ini membutuhkan kolaborasi pemerintah, sektor swasta, investor, akademisi, lembaga filantropi, hingga masyarakat sipil agar solusi perubahan iklim dapat berjalan lebih cepat.
Keikutsertaan Koster dalam forum tersebut juga mendapat perhatian para pemimpin dunia. Di sela-sela kegiatan, Gubernur Bali memperoleh kesempatan berdialog langsung dengan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dan Pendiri Bloomberg Philanthropies Michael Bloomberg.
Kehadiran Bali sebagai satu-satunya provinsi dari Asia yang diwakili gubernur dalam forum tersebut dinilai memperkuat posisi Pulau Dewata sebagai daerah yang aktif menjalankan diplomasi lingkungan di tingkat global.
Selain mengikuti agenda utama London Climate Action Week, Koster juga menghadiri Local Climate Action Summit yang membahas praktik terbaik pemerintah daerah dalam pengembangan energi bersih, peningkatan kesehatan masyarakat, hingga pembangunan infrastruktur yang tangguh terhadap dampak perubahan iklim.
Agenda di London kemudian dilanjutkan dengan menghadiri Dialog Negara Bagian dan Wilayah Under2 Coalition, yang mempertemukan gubernur, menteri, dan pemimpin regional dari berbagai negara untuk membahas strategi memperkuat ketahanan energi dan pengembangan sistem energi bersih yang terjangkau.
Partisipasi tersebut semakin menegaskan posisi Bali sebagai salah satu daerah di Indonesia yang mendapat pengakuan internasional atas komitmennya menjalankan pembangunan hijau berbasis budaya, lingkungan, dan keberlanjutan. (*)









