BALITOPIK.COM, DENPASAR — Rencana dialog Diaspora NTT melalui Diaspora NTT Academy (DNA) mendapat konteks baru setelah gempa bumi kuat mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (15/8/2026). Agenda yang semula dirancang untuk membahas regenerasi dan peran diaspora kini juga akan menyinggung kesiapsiagaan, solidaritas, serta koordinasi jejaring masyarakat menghadapi situasi bencana.
DNA akan menggelar DNA Dialog: Dari Spirit Rengasdengklok Menuju Ekosistem Regenerasi, Minggu (16/8/2026), di salah satu kedai di kawasan Gunung Sanghyang, Padangsambian, Denpasar.
Dialog tersebut menjadi aktivitas awal untuk memperkenalkan tiga gerak DNA, yakni Akademi, Aliansi, dan Aksi. Bali dipilih sebagai salah satu simpul koordinasi karena menjadi tempat bertemunya pengalaman dan jejaring para inisiator DNA, dengan ruang gerak yang diarahkan tidak hanya untuk lingkup lokal, tetapi juga nasional hingga global.
Inisiator DNA, Valerian Libert Wangge, menegaskan bahwa DNA belum ingin disebut sebagai sebuah organisasi.
“Masih terlalu dini disebut organisasi. DNA adalah aliansi antarmanusia diaspora NTT dari berbagai profesi, generasi, pengalaman, dan wilayah yang ingin saling terhubung, berkembang, dan memberi manfaat,” ujar Valerian.
Namun, gempa yang mengguncang Flores sehari sebelum dialog membuat agenda tersebut memiliki dimensi tambahan.
Valerian mengatakan situasi gempa akan menjadi bagian dari pembahasan, terutama menyangkut bagaimana jaringan diaspora dapat berperan dalam penyebaran informasi, kesiapsiagaan, solidaritas, hingga koordinasi apabila dibutuhkan.
“Situasi gempa akan menjadi bagian dialog, terutama terkait informasi, kesiapsiagaan, solidaritas, dan koordinasi jejaring diaspora. Kita harus adaptif tanpa kehilangan fokus,” katanya.
Ia mengingatkan agar informasi mengenai kondisi di wilayah terdampak tidak disimpulkan secara terburu-buru. Menurutnya, informasi mengenai dampak gempa masih berkembang sehingga masyarakat perlu mengutamakan sumber resmi.
“Beritanya masih terus berkembang. Kita perlu merujuk pada otoritas terpercaya seperti BMKG, sementara informasi dari jejaring masyarakat tetap bisa menjadi bahan awal untuk dikonfirmasi,” ujarnya.
BMKG Catat Gempa M7,7 di Flores
Berdasarkan informasi resmi BMKG, gempa bumi tektonik terjadi pada Sabtu (15/8/2026) pukul 04.58 WIB. Hasil pemutakhiran BMKG mencatat magnitudo 7,7, dengan kedalaman 15 kilometer dan episenter berada di laut sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Nagekeo, NTT.
Gempa tersebut sempat memicu peringatan dini tsunami. BMKG mencatat sejumlah wilayah di NTT, Sulawesi Selatan, dan NTB masuk dalam status peringatan berdasarkan pemodelan tsunami. Dalam pemutakhiran berikutnya, BMKG juga mencatat adanya kenaikan muka air laut di sejumlah lokasi, termasuk Maurole, Ende, dengan ketinggian maksimum yang terdeteksi 0,94 meter.
BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang, tidak mempercayai informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, menjauhi bangunan yang rusak, serta mengikuti arahan evakuasi sesuai status peringatan di wilayah masing-masing.
Dalam konteks tersebut, Valerian mengajak masyarakat di wilayah terdampak untuk tetap tenang dan waspada serta tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
“Kita tak pernah ingin ada bencana. Dalam situasi ini, utamakan keselamatan, jauhi bangunan rusak, waspadai kawasan pesisir, dan bantu mereka yang membutuhkan dengan cara masing-masing,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya disiplin dalam menerima dan menyebarkan informasi ketika terjadi bencana.
“Terima informasi, periksa, konfirmasi, baru bagikan. Jangan panik dan jangan sebarkan informasi yang belum terverifikasi,” ujarnya.
Menurut Valerian, situasi bencana juga menjadi bagian dari semangat solidaritas yang ingin dibangun melalui DNA. Aliansi tidak hanya dimaknai sebagai jaringan pertemanan atau profesional, tetapi juga sebagai kemampuan untuk menghubungkan informasi, gagasan, sumber daya, dan dukungan ketika masyarakat membutuhkan.
Menghubungkan Spirit Rengasdengklok dengan Regenerasi
Di luar konteks gempa, DNA Dialog dirancang sebagai ruang untuk membicarakan regenerasi dan masa depan diaspora NTT.
Kegiatan tersebut digelar dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Tema Rengasdengklok dipilih sebagai pintu masuk untuk membicarakan bagaimana generasi muda membaca situasi, mengambil sikap, serta berani mendorong perubahan.
Bagi DNA, semangat tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam kebutuhan membangun ekosistem regenerasi. Diaspora tidak hanya dilihat sebagai orang-orang yang meninggalkan daerah asal, tetapi sebagai jejaring manusia yang tetap memiliki pengetahuan, pengalaman, kompetensi, dan hubungan dengan daerah asalnya.
Menurut Valerian, kekuatan terbesar diaspora NTT bukan semata-mata sumber daya alam atau aset material, melainkan manusia yang tersebar di berbagai daerah dan bidang profesi.
“Ada banyak aset, tapi aset utama tetap manusia. Di sana ada karakter, pengalaman, kompetensi, dan jejaring. Tantangannya adalah bagaimana aset itu bertemu dengan akses, lalu bergerak menjadi aksi nyata,” katanya.
Karena itu, DNA menempatkan pengembangan manusia, jejaring, dan regenerasi sebagai fokus utama dengan horizon waktu satu dekade hingga 2036.
Gagasan tersebut menjadi semakin relevan ketika dihadapkan pada situasi seperti bencana. Jejaring yang sebelumnya tersebar di berbagai daerah dapat menjadi kekuatan ketika mampu bertukar informasi, melakukan verifikasi, menghubungkan kebutuhan dengan sumber daya, serta memberikan dukungan secara tepat.
Karena itu, DNA Dialog tidak hanya berbicara mengenai masa depan diaspora NTT, tetapi juga tentang bagaimana sebuah jejaring manusia dapat tetap hadir ketika daerah asal menghadapi persoalan.
Dari spirit Rengasdengklok hingga respons terhadap gempa Flores, pesan yang hendak dibangun DNA relatif sederhana: regenerasi membutuhkan manusia yang terhubung, sementara solidaritas membutuhkan jejaring yang siap bergerak. (*)









