BALITOPIK.COM, DENPASAR — Belakangan ini, media sosial ramai membicarakan sebuah sekolah di Yogyakarta yang membolehkan siswanya tampil dengan rambut gondrong. Di tengah budaya sekolah yang umumnya identik dengan aturan ketat soal penampilan, kebijakan tersebut tentu mengundang rasa penasaran.
Sekolah yang menjadi sorotan itu adalah SMA Kolese De Britto Yogyakarta.
Bagi sebagian orang, rambut gondrong mungkin hanya persoalan penampilan. Namun, di De Britto, kebebasan dalam penampilan memiliki konteks yang jauh lebih panjang. Sekolah tersebut dikenal dengan konsep pendidikan yang menempatkan kebebasan berdampingan dengan tanggung jawab.
Menariknya, di balik pembicaraan mengenai sekolah yang memberikan ruang kebebasan kepada siswanya itu, terdapat sosok yang mungkin sudah tidak asing bagi masyarakat Bali. Ia adalah Servasius Bambang Pranoto, atau yang akrab disapa Babe Bambang Pranoto, pendiri sekaligus sosok di balik merek minyak balur Sanga Sanga.
Puluhan tahun telah berlalu sejak ia meninggalkan bangku sekolah. Namun, ada satu prinsip pendidikan De Britto yang ternyata tidak ikut ditinggalkan di Yogyakarta.
Babe Bambang Pranoto tercatat sebagai alumni SMA Kolese De Britto tahun 1973. Di sekolah yang dikenal dengan filosofi “bebas tetapi bertanggung jawab” itulah ia mendapatkan salah satu prinsip yang kemudian terus ia bawa dalam perjalanan hidupnya.
“Sampai sekarang konsep bebas tapi bertanggung jawab inilah yang menjadi pegangan hidup saya,” kata Babe Pranoto kepada Bali Topik, Selasa (11/8/2026).
Kalimat tersebut terdengar sederhana. Namun, bagi lulusan De Britto, kebebasan bukan berarti melakukan segala sesuatu sesuka hati. Justru sebaliknya.
Kebebasan di De Britto sejak awal ditempatkan berdampingan dengan kesadaran untuk bertanggung jawab atas pilihan yang dibuat.
Konsep tersebut menjadi salah satu ciri khas pendidikan SMA Kolese De Britto. Sekolah yang berada di Yogyakarta ini dikenal sebagai sekolah khusus putra dengan napas pendidikan Katolik dan dikelola dalam tradisi pendidikan Jesuit. Pendidikan De Britto berlandaskan semangat Ad Maiorem Dei Gloriam, yang berarti demi kemuliaan Tuhan yang lebih besar.
Namun, yang membuat De Britto begitu khas adalah cara sekolah tersebut menerjemahkan kebebasan dalam kehidupan sehari-hari.
Siswa diberikan ruang untuk menjadi dirinya sendiri. Rambut panjang, misalnya, bukan sesuatu yang otomatis dianggap sebagai pelanggaran. Penampilan bukan menjadi ukuran utama dalam membentuk pribadi seorang siswa.
Tetapi kebebasan itu tetap memiliki batas yang jelas: tanggung jawab.
Prinsip bebas bertanggung jawab bukan berarti siswa bebas tanpa aturan. Nilai-nilai dan disiplin tetap menjadi bagian penting dari pendidikan. Yang ditekankan adalah kemampuan berpikir sebelum bertindak serta kesadaran terhadap konsekuensi dari setiap pilihan.
Konsep semacam itu tentu bukan sekadar aturan tentang boleh atau tidaknya seorang siswa berambut panjang.
Lebih jauh, ia merupakan cara mendidik seseorang agar berani menentukan pilihan sekaligus berani mempertanggungjawabkan pilihan tersebut.
Dan bagi Babe Bambang Pranoto, nilai itu rupanya tidak berhenti ketika ia meninggalkan bangku sekolah.
Puluhan tahun setelah menjadi siswa De Britto, prinsip tersebut masih ia sebut sebagai salah satu pegangan hidup.
Dari lingkungan pendidikan itulah ia belajar bahwa kebebasan harus berjalan bersama keberanian mengambil keputusan, kemandirian berpikir, dan tanggung jawab.
Nilai tersebut menjadi menarik ketika ditempatkan dalam perjalanan Bambang membangun usaha.
Sanga Sanga sendiri merupakan perkembangan dari produk herbal yang sebelumnya dikenal luas melalui nama Kutus Kutus. PT Kutus Kutus Herbal kemudian memperkenalkan Sanga Sanga sebagai identitas merek baru, sementara Bambang Pranoto tetap menjadi sosok yang berada di balik racikan dan pengembangan produk tersebut.
Perubahan nama dan perjalanan bisnis itu menunjukkan bahwa dunia usaha juga membutuhkan keberanian untuk mengambil keputusan.
Ada masa ketika seseorang harus mempertahankan apa yang diyakini, tetapi ada pula saat ketika perubahan menjadi pilihan yang harus ditempuh.
Di titik inilah filosofi yang dibawa dari bangku sekolah menjadi relevan.
Bebas memilih arah, tetapi bertanggung jawab terhadap pilihan.
Bagi Babe Bambang, De Britto bukan hanya tempat ia menghabiskan masa remaja. Sekolah itu meninggalkan sebuah cara pandang yang kemudian melekat jauh lebih lama daripada masa pendidikan formalnya.
De Britto sendiri memang sejak lama dikenal sebagai sekolah yang memberikan ruang besar bagi kebebasan siswa. Sejarah pendidikan sekolah tersebut mencatat bahwa sejak 1973 pendidikan bebas mulai dicanangkan dengan penekanan bahwa kebebasan harus selalu disertai kesadaran akan tanggung jawab.
Itulah sebabnya istilah “bebas bertanggung jawab” menjadi begitu kuat ketika membicarakan De Britto.
Kebebasan adalah sarana untuk membentuk manusia yang mampu berpikir sendiri, menentukan sikap, sekaligus siap menerima konsekuensi atas keputusan yang dibuat.
Bagi sebagian orang, masa SMA mungkin hanya menjadi bagian kecil dari perjalanan hidup.
Namun bagi Babe Bambang Pranoto, pengalaman sebagai siswa De Britto justru meninggalkan satu prinsip yang bertahan hingga puluhan tahun kemudian.
Prinsip itu sederhana: bebas menentukan pilihan, tetapi jangan pernah lari dari tanggung jawab.
Kini, ketika nama De Britto kembali menjadi perbincangan di media sosial karena persoalan rambut gondrong, kisah Bambang memberikan perspektif lain.
Ada alumnus yang puluhan tahun kemudian masih mengingat dengan jelas satu prinsip dari sekolahnya. Bebas, tetapi bertanggung jawab.
Sebuah prinsip yang sederhana ketika diucapkan, tetapi membutuhkan keberanian dan kedewasaan untuk dijalankan.
Dan bagi Babe Bambang Pranoto, prinsip itu bukan sekadar kenangan masa SMA. Ia justru menjadi cara untuk menjalani hidup. (*)









