BALITOPIK.COM, BADUNG — Ada yang menarik dalam peluncuran Immigration Lounge Discovery Mall Bali, Kamis (27/8/2026). Bukan hanya soal hadirnya fasilitas pelayanan keimigrasian baru, tetapi juga sebuah momen kebersamaan sejumlah tokoh Bali yang selama ini tidak selalu berada dalam pandangan yang sama.
Dalam sesi foto bersama, Direktur Jenderal Imigrasi Hendarsam Marantoko tampak merangkul Ni Luh Djelantik dan Arya Wedakarna (AWK). Keduanya berdiri di sisi Hendarsam dalam satu barisan.
Di sisi lain, Gubernur Bali Wayan Koster dan De Gadjah juga terlihat saling merangkul. Sejumlah unsur lainnya, mulai dari kejaksaan, TNI/Polri hingga perwakilan DPRD Bali, turut mengambil pose serupa.
Momen tersebut sekilas memang hanya sebuah sesi foto. Namun, jika melihat dinamika para tokoh yang hadir, pemandangan itu memiliki pesan yang lebih luas tentang bagaimana perbedaan dapat diletakkan ketika berhadapan dengan kepentingan yang lebih substantif.
Baik Ni Luh Djelantik maupun Arya Wedakarna merupakan figur publik Bali yang dalam sejumlah momentum kerap menyampaikan pandangan berbeda. Perbedaan pendapat juga menjadi bagian dari dinamika sejumlah tokoh politik Bali dalam merespons berbagai persoalan daerah.
Begitupun De Gadjah, dia adalah lawan politik Koster pada saat pemilihan Gubernur tahun 2024 lalu. Namun setelahnya mereka selalu bersatu untuk membangun Bali yang lebih baik.
Memang, perbedaan pandangan tidak selalu berarti harus terpecah ketika berhadapan dengan kepentingan yang lebih besar, kepentingan rakyat Bali.
Momentum di Discovery Mall Bali memperlihatkan bagaimana para tokoh dengan latar belakang dan posisi berbeda dapat berada dalam satu barisan. Pesan yang muncul adalah bahwa Bali boleh berbeda pandangan, tetapi tetap dapat bersatu ketika menyangkut kepentingan bersama.
Kehadiran berbagai unsur dalam peluncuran Immigration Lounge juga menunjukkan bahwa persoalan keimigrasian di Bali memiliki cakupan yang lebih luas dibandingkan sekadar urusan administrasi warga negara asing.
Sebagai salah satu destinasi wisata internasional utama, Bali menghadapi mobilitas orang asing yang tinggi. Kondisi tersebut membuat pelayanan keimigrasian harus berjalan beriringan dengan pengawasan, keamanan dan koordinasi antarlembaga.
Imigrasi berada di garis depan dalam mengawasi keberadaan serta aktivitas orang asing di wilayah Bali. Di sisi lain, pemerintah daerah dan aparat penegak hukum juga memiliki peran masing-masing dalam menjaga ketertiban dan keamanan.
Karena itu, koordinasi menjadi kebutuhan yang semakin penting.
Persoalan seperti dugaan pelanggaran izin tinggal, aktivitas warga negara asing, keamanan kawasan pariwisata maupun potensi gangguan terhadap ketertiban tidak dapat diselesaikan oleh satu institusi saja.
Dibutuhkan komunikasi dan kerja bersama antara pemerintah daerah, Imigrasi, aparat keamanan, aparat penegak hukum serta masyarakat.
Di tengah perbedaan pandangan yang selama ini menjadi bagian dari dinamika politik dan ruang publik Bali, kebersamaan dalam momentum tersebut menjadi menarik.
Perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar dalam kehidupan demokrasi. Kritik dan perdebatan bahkan dibutuhkan untuk memastikan kebijakan publik tetap mendapat pengawasan.
Namun, terdapat persoalan tertentu yang membutuhkan sikap bersama.
Keamanan Bali, keberlanjutan pariwisata, pelayanan publik, perlindungan masyarakat hingga pengawasan terhadap aktivitas orang asing merupakan sejumlah isu yang memiliki dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat dan citra Bali di mata dunia.
Pada titik inilah perbedaan kepentingan politik seharusnya tidak menjadi penghalang untuk membangun kerja sama.
Momen Hendarsam Marantoko merangkul Ni Luh Djelantik dan Arya Wedakarna, serta gestur kebersamaan Wayan Koster, De Gadjah dan sejumlah tokoh lainnya, setidaknya memberikan gambaran visual mengenai pesan tersebut.
Bali tidak harus selalu sepakat dalam segala hal. Namun, ketika menyangkut kepentingan yang lebih besar, para tokohnya tetap memiliki ruang untuk berdiri bersama.
Meski demikian, simbol kebersamaan tentu tidak cukup.
Pesan persatuan tersebut akan memiliki arti lebih besar apabila diterjemahkan ke dalam kerja nyata. Terutama dalam menghadapi berbagai persoalan yang muncul seiring tingginya aktivitas pariwisata dan mobilitas internasional di Bali.
Pelayanan kepada wisatawan dan warga negara asing harus semakin mudah dan profesional. Pada saat yang sama, pengawasan juga harus semakin kuat agar potensi pelanggaran dapat dideteksi sejak dini.
Kolaborasi lintas lembaga menjadi penting agar informasi tidak berhenti di masing-masing institusi, tetapi dapat ditindaklanjuti secara cepat ketika ditemukan persoalan.
Peluncuran Immigration Lounge Discovery Mall Bali tidak hanya dapat dilihat sebagai penambahan fasilitas pelayanan keimigrasian.
Di balik satu sesi foto yang memperlihatkan sejumlah tokoh saling merangkul, terdapat pesan yang lebih besar, perbedaan pandangan tidak harus menghapus kepentingan bersama. Ketika menyangkut Bali, ruang untuk bersatu tetap ada.
Yang paling penting bukan siapa yang berdiri di tengah atau siapa yang saling merangkul dalam sebuah foto, tetapi seberapa jauh kebersamaan tersebut mampu menghasilkan pelayanan, pengawasan dan kebijakan yang benar-benar memberikan manfaat bagi Bali. (*)









