• Latest
  • Trending
  • All
  • Pariwisata
  • Uncategorized
  • Nasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Bali
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Travel
  • Hukum
  • Olahraga
  • Peristiwa
  • Kesehatan
  • Edukasi
Nenengisme. -IST

Lagi Ramai! Apa itu Nenengisme?

11 months ago
Nyoman Parta saat menunjuk tumpahan solar di kawasan mangrove yang sudah mati. -Balitopik.com

Lagi Ada Tumpahan Solar di Kawasan Mangrove, Nyoman Parta: BUMN Jangan Cuma Ambil Untung di Bali, Tapi Kalau Ada Masalah Saling Lempar Tanggung Jawab dan Ngeles

25 minutes ago
Foto: Lapangan olahraga jungel padel di Mengwi, Badung. -Balitopik.com

Pansus TRAP Belum Tahu Jungle Padel Sudah Beroperasi Lagi, Sejauh Mana Proses Izinnya?

4 hours ago
Wakil Bupati Bagus Alit Sucipta bersama Ketua DPRD Badung I Gusti Anom Gumanti saat membuka Porsenijar Badung tahun 2026. -IST/Balitopik.com

Pembukaan Porsenijar Badung 2026 Ditandai Pelepasan Panah

22 hours ago
Tim Kuasa Hukum I Made Tarip Widarta dari H2B Law Office saat melaporkan para terlapor ke ke Reskrimum Polda Bali pada 2 Maret 2026. -IST/Balitopik.com

GPS cs Dilaporkan ke Polda Bali atas Dugaan Pemalsuan Yurisprudensi dan Teori Hukum di PN Denpasar

22 hours ago

Imigrasi Ngurah Rai Gagalkan Warga Irak Masuk Bali Pakai Paspor Palsu

23 hours ago
Kepala Kantor Imigrasi Ngurah Rai, Bugie Kurniawan. -Balitopik.com

Imigrasi Bali Terapkan Overstay Nol Rupiah bagi WNA Terdampak Perang Timur Tengah

1 day ago
Gubernur Bali Wayan Koster saat rapat konsolidasi dengan seluruh stakeholder pariwisata. -Balitopik.com

Perda Bali Nomor 3 Tahun 2026: Pelindungan Pantai dan Sempadan Pantai

2 days ago
  • Home
  • Bali Topik
  • Opini
  • Lifestyle
  • Nasional
  • Entertainment
  • Hukum
Wednesday, March 4, 2026
Memberi Makna pada Setiap Peristiwa.
TIKTOK
Email
INSTAGRAM
No Result
View All Result
No Result
View All Result
No Result
View All Result

Home » Lagi Ramai! Apa itu Nenengisme?

Lagi Ramai! Apa itu Nenengisme?

Reporter balitopik.com Reporter balitopik.com
25 March 2025 - 12:00 pm
in Edukasi
0 0
0
0
SHARES
526
VIEWS
Share on FacebookShare on WhatsappShare on Twitter

“Makin panjang teori, makin jauh dari kenyataan.” — Neneng Rosdiyana

Balitopik.com – Awalnya, ini mungkin hanya sebuah kesalahpahaman. Ketika Facebook fanpage Marxisme Indonesia tiba-tiba berubah nama menjadi Neneng Rosdiyana, netizen geger. Ada yang bingung, ada yang tertawa, termasuk saya. Ada juga yang serius mempertanyakan maksud perubahan itu.

Tapi bagi Neneng sendiri, ini awal mula sebuah perjalanan dari ketidaktahuan menjadi kesadaran. Ia mengira Marxisme adalah nama band, bukan paham ideologi. Namun dari kekeliruan itu, Neneng menciptakan jalan pikirannya sendiri.

Bukan Marxisme, netizen menyebutnya Nenengisme. Sebuah cara hidup yang membumi, memihak rakyat kecil, dan terutama, memberdayakan perempuan akar rumput. Sebuah feminisme berbasis ladang, warung, dan komunitas. Neneng bukan aktivis berjas formal, bukan juga akademisi yang menulis jurnal ilmiah. Ia seorang perempuan petani, anggota Komunitas Wanita Tani (KWT) Mentari di Rawa Buntu, Banten. Di sinilah Nenengisme lahir. Sebuah sikap hidup yang kritis, namun tidak rumit.

Ia lebih suka berbicara tentang bayam di ladang, harga cabe di pasar, atau pentingnya beli di warung tetangga. Hal-hal yang mungkin tampak sepele, tetapi justru menyentuh akar ketidakadilan struktural: kapitalisme yang menindas dan patriarki yang membungkam.

Secara teoritis, Nenengisme bisa kita baca sebagai kritik feminis terhadap kapitalisme global. Feminisme, khususnya feminisme Marxis dan Sosialis, telah lama mengkaji bagaimana perempuan kelas bawah tereksploitasi dalam sistem produksi kapitalis. Perempuan di pedesaan sering kali mengalami triple burden: beban kerja produksi (bertani), reproduksi (mengurus rumah tangga), dan sosial (komunitas).

Neneng menghidupi teori itu, bahkan tanpa menyebut istilahnya. Ia sadar bahwa sistem ekonomi hari ini melanggengkan ketergantungan petani kecil pada tengkulak dan pasar yang dimonopoli korporasi. Tapi lebih dari itu, ia juga menunjukkan bagaimana perempuan bisa menjadi subjek perubahan, bukan hanya objek penderitaan.

Feminisme Neneng bukan yang sibuk berdebat soal glass ceiling di ruang korporasi, tapi tentang bagaimana perempuan bisa berdiri di ladangnya sendiri, menanam benih, memanen hasil, dan berbagi dengan komunitasnya. Ia melawan patriarki yang mengurung perempuan hanya di ranah domestik. Ia menunjukkan bahwa perempuan bisa menjadi pemimpin kolektif di ladang, di pasar, dan bahkan di ruang maya.

Nenengisme dan Politik Konsumsi: Kritik Terhadap Kapitalisme Sehari-hari

Kalau feminisme Barat sering bicara soal body positivity atau equal pay, Neneng lebih suka bicara tentang loyalitas konsumen kelas pekerja terhadap minimarket waralaba daripada warung tetangga.

“Anti-kapitalis di sosmed, tapi loyalis minimarket waralaba. Katanya lawan konglomerat, tapi tiap hari setor duit ke mereka. Warung tetangga cuma didatangi pas butuh hutang! Mungkin kapitalisme gak perlu dibela, cukup diam aja sambil nunggu ‘musuhnya’ setor duit sendiri.” — Neneng Rosdiyana

Kalimat ini secara gamblang menyingkap kemunafikan konsumsi masyarakat kelas menengah, termasuk feminis yang katanya pro rakyat. Nenengisme mengajarkan bahwa pilihan konsumsi adalah tindakan politik. Ini sejalan dengan gagasan feminisme radikal yang menuntut perubahan bukan hanya dalam hukum atau budaya, tapi juga dalam praktik ekonomi sehari-hari.

Solidaritas Perempuan

Di KWT Mentari, Neneng dan teman-temannya berbagi pengetahuan soal pertanian, ekonomi rumah tangga, dan pemasaran hasil panen. Ini adalah praktik sisterhood atau solidaritas perempuan, konsep inti dalam feminisme. Mereka menciptakan ruang aman untuk belajar, berbagi, dan berjuang, tanpa perlu bergantung pada lembaga negara atau NGO besar.

Di sini, Nenengisme berbicara tentang empowerment yang benar-benar membumi. Bukan pemberdayaan ala CSR perusahaan, tapi kemandirian yang tercapai lewat kerja kolektif. Dalam feminisme, ini kita kenal sebagai feminisme komunitarian, yang percaya bahwa kekuatan perempuan ada dalam jejaring sosial di akar rumput.

Neneng Rosdiyana bukan sosok akademis, tapi gagasannya menohok logika feminisme kontemporer. Ia menunjukkan bahwa teori tanpa praktik hanyalah jargon kosong. Nenengisme adalah feminisme yang tidak sekadar mendobrak patriarki, tapi juga membangun kembali kemandirian komunitas lewat kerja kolektif perempuan akar rumput.

“Semakin panjang teori, semakin jauh dari kenyataan. Sementara kalian sibuk debat soal penindasan kapitalis di coffee shop mana, kami para petani memastikan kalian tetap punya makanan di meja, meski kami sendiri nggak tahu besok bisa makan apa.” — Neneng Rosdiyana.

Bahkan Neneng menerapkan pemikirannya itu dalam kehidupanya sehari-hari sebagai seorang muslim. Dalam sebuah acara buka puasa bersama, Neneng menulis,

Dalam buka puasa bersama, keadilan bukan sekadar teori. Yang bawa banyak berbagi, yang tak punya tetap kebagian. Mungkin Karl Marx mencantumkan ini di Das Kapital.”

 

Sumber dilangsir Mubadalah.id

 

Tags: FeminismeMarxismeNeneng RosdiyanaNenengisme

Categories

TOPIK MEDIA GROUP

  • Blog
  • Box Redaksi
  • Home
  • Pedoman Media Siber

Recent Posts

  • Lagi Ada Tumpahan Solar di Kawasan Mangrove, Nyoman Parta: BUMN Jangan Cuma Ambil Untung di Bali, Tapi Kalau Ada Masalah Saling Lempar Tanggung Jawab dan Ngeles
  • Pansus TRAP Belum Tahu Jungle Padel Sudah Beroperasi Lagi, Sejauh Mana Proses Izinnya?
  • Pembukaan Porsenijar Badung 2026 Ditandai Pelepasan Panah
No Result
View All Result
  • Blog
  • Box Redaksi
  • Home
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Undang-Undang Pers

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?