BALITOPIK.COM, DENPASAR – Penampilan Janger Tradisi Remaja Duta Kabupaten Badung pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 sukses memikat penonton yang memadati Kalangan Ayodya, Taman Budaya Provinsi Bali, Jumat (19/6/2026) malam.
Pementasan yang dibawakan Sanggar Seni Murti Kanti Swara, Banjar Tegeh, Kelurahan Kerobokan, Kecamatan Kuta Utara, itu menuai sambutan hangat dan tepuk tangan meriah dari para penonton.
Mengusung garapan bertajuk “Bima Swarga”, pertunjukan janger tersebut menghadirkan kisah spiritual tokoh Bima dalam upayanya membebaskan roh kedua orang tuanya, Sang Raja Pandu Dewata dan Dewi Madri, dari penderitaan di alam neraka.
Pelatih tari dan lakon, Ni Made Ayu Kesuma Dewi, menjelaskan bahwa kisah Bima Swarga diangkat dari epos pewayangan yang sarat nilai bakti, penghormatan kepada leluhur, dan pengorbanan keluarga.
“Cerita ini mengisahkan Bima yang awalnya tidak mau menyembah atma ibu dan bapaknya di swargan. Karena sikap itu, perjalanan roh kedua orang tuanya menjadi tertunda. Dari sanalah muncul siasat agar Bima mau memberikan penghormatan kepada leluhurnya,” ujarnya.
Kisah Bima Swarga diawali dari kegundahan Dewi Kunti yang dihantui mimpi melihat mendiang suaminya, Sang Pandu Dewata, bersama Dewi Madri menjalani siksa penebusan dosa di kawah Cambradimuka. Dalam kesedihan mendalam, Dewi Kunti menceritakan mimpi tersebut kepada putra-putranya.
Mendengar hal itu, Bima tergerak untuk membebaskan roh kedua orang tuanya dari penderitaan. Dengan kekuatan spiritual yang dimilikinya, Bima bersama ibunya dan saudara-saudaranya melakukan perjalanan menuju Nerakaloka.
Perjalanan itu tidak mudah. Dalam kisah yang dipentaskan, rombongan Bima sempat dihadang Sanghyang Catursanak yang tampil dalam wujud menyeramkan. Namun setelah dikenali, sosok tersebut justru memberikan petunjuk jalan menuju alam tujuan.
Setibanya di Nerakaloka, Bima menceburkan diri untuk mencari roh Sang Pandu Dewata dan Dewi Madri. Setelah melewati berbagai rintangan, kedua roh leluhur itu akhirnya ditemukan. Dewi Kunti bersama para putranya kemudian mempersembahkan sembah bhakti sebagai bentuk penghormatan dan kasih kepada leluhur mereka.
Namun, perjuangan belum selesai. Roh Sang Pandu Dewata dan Dewi Madri belum dapat mencapai Swargaloka karena diyakini belum seluruh keturunannya memberikan penghormatan. Di titik inilah konflik cerita mencapai puncaknya.
Bima, yang dikenal teguh pada keyakinannya, menolak menyembah dewa maupun leluhur selain kepada Sang Hyang Acintya. Sikap keras Bima kemudian memunculkan perdebatan hingga akhirnya ia mendapat sindiran dari kakaknya, Yudistira.
Tanpa disadari, dalam situasi tersebut Bima akhirnya mencakupkan kedua tangannya sebagai bentuk penghormatan kepada leluhurnya. Momen itu menjadi titik balik yang memungkinkan roh Sang Pandu Dewata dan Dewi Madri terangkat menuju alam Swargaloka.
Menurut Ayu Kesuma Dewi, kisah “Bima Swarga” dipilih bukan hanya karena kuat secara dramatik, tetapi juga menyimpan pesan moral yang relevan dengan kehidupan saat ini.
“Melalui kisah ini kami ingin menyampaikan pesan tentang bakti kepada orang tua, penghormatan terhadap leluhur, serta pentingnya menyeimbangkan keyakinan dengan kewajiban sebagai manusia,” katanya.
Untuk menghadirkan pertunjukan yang maksimal, Sanggar Seni Murti Kanti Swara menjalani proses latihan yang cukup panjang, yakni sekitar tiga bulan. Selama masa persiapan, para pemain menghadapi berbagai tantangan, mulai dari menyatukan jadwal latihan hingga membangun kekompakan antarpemain.
“Yang paling sulit adalah mengatur waktu latihan karena mereka sudah besar dan punya kesibukan masing-masing. Tantangan lainnya, mereka harus menari sambil membawakan vokal, sehingga perlu latihan yang lebih intens,” ungkap Ayu Kesuma Dewi.
Pementasan Janger Tradisi Remaja Duta Kabupaten Badung ini melibatkan 30 penari dan pelakon, serta didukung 23 penabuh. Kolaborasi tersebut berhasil menghadirkan sajian seni tradisi yang tidak hanya menghibur, tetapi juga sarat makna spiritual dan nilai budaya.
Melalui garapan “Bima Swarga”, Duta Kabupaten Badung kembali menunjukkan bahwa seni tradisi Bali tidak sekadar menjadi tontonan, melainkan juga media pewarisan nilai, etika, dan spiritualitas kepada generasi muda.
Penampilan ini sekaligus menegaskan bahwa PKB 2026 tetap menjadi panggung penting bagi tumbuhnya kreativitas seni tradisi Bali yang berakar kuat pada warisan leluhur. (*)









