BALITOPIK.COM, BALI – Hari Raya Galungan yang jatuh pada Rabu Kliwon Wuku Dungulan, 17 Juni 2026, tidak hanya dimaknai sebagai kemenangan Dharma melawan Adharma. Lebih dari itu, Galungan dinilai perlu menjadi momentum membangkitkan kesadaran kolektif untuk menjaga lingkungan, memperkuat kedaulatan pangan lokal, serta mengembalikan makna Galungan sebagai Otonan Gumi atau Pawedalan Jagat, hari lahirnya alam semesta.
Pandangan tersebut disampaikan Ketua Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Pimpinan Pusat Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (PP KMHDI), I Dewa Gede Darma Permana, S.Pd., M.Pd., dalam refleksi Hari Raya Galungan Tahun 2026.
Menurutnya, perayaan Galungan saat ini perlu dimaknai lebih luas di tengah tantangan krisis lingkungan, alih fungsi lahan, polusi, hingga meningkatnya ketergantungan terhadap produk impor yang mengancam keberlangsungan petani lokal.
“Galungan adalah kemenangan Dharma. Namun saat yang sama kita perlu bertanya, apakah kita sudah benar-benar memenangkan Dharma ketika bumi sedang berjuang menghadapi berbagai persoalan lingkungan yang kita ciptakan sendiri?” ujarnya di Denpasar, Selasa (16/6/2026).
Darma Permana menjelaskan, dalam tradisi Hindu, Galungan dikenal sebagai Otonan Gumi atau hari kelahiran bumi. Karena itu, perayaan Galungan sejatinya tidak hanya berpusat pada ritual keagamaan, tetapi juga menjadi momentum penyucian dan pemulihan hubungan manusia dengan alam.
Ia menilai kondisi lingkungan saat ini membutuhkan perhatian serius. Polusi udara, berkurangnya ruang hijau, eksploitasi sumber daya alam, hingga persoalan sampah plastik merupakan bentuk nyata tantangan yang harus dijawab bersama.
“Penjor bukan sekadar hiasan. Penjor adalah simbol keseimbangan ekosistem dan kesejahteraan yang lahir dari alam. Akan menjadi paradoks jika penjor berdiri megah, tetapi lingkungan sekitar kita justru kehilangan pohon, tercemar sampah, dan mengalami kerusakan,” katanya.
Dosen Pendidikan Agama Hindu di STAH Dharma Nusantara Jakarta itu mengajak umat Hindu menjadikan Galungan sebagai momentum melakukan Nyupat Jagat, yaitu upaya nyata merawat dan memulihkan lingkungan sebagai bagian dari implementasi ajaran Dharma.
Selain isu lingkungan, Darma Permana juga menyoroti fenomena meningkatnya penggunaan buah dan hasil pertanian impor dalam berbagai kebutuhan upacara keagamaan. Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena berdampak langsung terhadap kesejahteraan petani lokal.
Ia menilai terdapat ironi ketika perayaan Galungan yang sarat simbol hasil bumi justru semakin bergantung pada produk yang didatangkan dari luar negeri, sementara hasil panen petani lokal kerap kesulitan terserap pasar.
“Sungguh ironis jika banten Galungan lebih banyak dihiasi buah impor, sementara petani kita sendiri kesulitan menjual hasil kebunnya. Galungan harus menjadi momentum untuk memperkuat kedaulatan pangan dan menyejahterakan petani lokal,” tegasnya.
Karena itu, ia mengajak masyarakat memprioritaskan penggunaan hasil pertanian lokal dalam setiap pelaksanaan yadnya. Selain memiliki nilai spiritual, langkah tersebut juga menjadi bentuk dukungan nyata terhadap ekonomi kerakyatan dan keberlanjutan sektor pertanian.
Menurutnya, kemenangan Dharma pada era modern tidak lagi semata-mata dimaknai sebagai kemenangan simbolis, melainkan juga perjuangan melawan ketidakpedulian terhadap lingkungan dan masa depan generasi mendatang.
Mengutip Lontar Sundarigama, Darma Permana menjelaskan bahwa hakikat Galungan adalah menyatukan kekuatan spiritual untuk memperoleh kejernihan pikiran dan menegakkan Dharma demi kesejahteraan bersama.
Karena itu, ia mendorong generasi muda Hindu untuk mengambil peran lebih besar dalam gerakan pelestarian lingkungan melalui pendidikan, aksi nyata, dan perubahan perilaku sehari-hari.
“Kemenangan Dharma yang sesungguhnya terletak pada tumbuhnya kesadaran manusia untuk menjaga alam. Menanam pohon, mengelola sampah, mengurangi konsumsi yang merusak lingkungan, hingga mengedukasi masyarakat merupakan bentuk Dharma Yudha yang relevan di era sekarang,” ujarnya.
Ia berharap perayaan Galungan tahun ini tidak berhenti pada seremoni semata, melainkan menjadi titik balik lahirnya kesadaran baru untuk menjaga bumi, memperkuat ekonomi lokal, dan membangun masa depan yang lebih berkelanjutan.
“Galungan adalah momentum kemenangan Dharma. Semoga kemenangan itu tidak hanya hadir dalam simbol dan ritual, tetapi juga tercermin dalam tindakan nyata menjaga alam, memberdayakan petani lokal, dan mewariskan bumi yang lebih baik kepada generasi berikutnya,” pungkasnya. (*)









