Oleh: R.Bg. Angelo Basario Marhaenis Manurung, S.Psi., alias Elo
Balitopik.com – Momen emosional Indonesia vs Bahrain (25 Maret 2025) di Stadion Gelora Bung Karno (GBK) berubah menjadi kontroversi di tribun. Hal itu ketika jersey yang dilempar Marselino Ferdinan yang ditujukan kepada seorang bocah yang dengan tulus dan penuh rencana membawa kardus dengan tulisan “Marselino Ferdinan May I Have Your Jersey” justru direbut penonton lain.
Marselino melihat itu, lantas membuka jersey yang dipakai dan melemparkan ke arah si bocah. Namun sayang seribu sayang jersey itu ditangkap oleh seorang penonton pria paruh baya dan membawa kabur. Sang bocah kecewa, tertunduk lesu. Jersey yang seharusnya menjadi hadiah untuk harapan kecil itu lenyap disaksikan banyak orang.
Namun terlintas dalam benak mengapa penonton lainnya tidak ada yang memberhentikan, menghalangi dan mendesak agar jersey itu diberikan kepada si bocah, mereka hanya menyoraki tanpa aksi.
Aksi yang awalnya simbol kasih sayang, spontanitas support dan sportivitas tersebut menimbulkan pertanyaan tajam di benak publik: Apakah ini sekadar insiden acak, tidak disengaja atau refleksi mentalitas penonton dan cerminan sebagian masyarakat kita?
Perilaku mengambil atau merebut sesuatu yang bukan haknya bukan hanya sekadar tindakan egois, tapi juga bentuk unconscious bias terhadap kelompok yang rentan, seperti anak-anak. Ada perasaan superior karena yang satu kecil, lemah dan bisa diabaikan. Ini adalah titik awal dari selfishness dan ketimpangan sosial yang semakin sistemik. Revolusi mental sejak 1956 digaungkan bukanlah sekadar kata-kata kosong yang diucapkan tanpa makna.
Revolusi mental harus dibumikan dengan nyata. Semoga tidak terus menerus menjadi pepesan kosong belaka. Jadikanlah sebuah gerakan kolektif ekspresif yang perlu ditanamkan sedari ini TK, sekolah dasar – menengah hingga perguruan tinggi, yang akan menjadi penerus bangsa.
Bisa anda bayangkan ketidakadilan itu terjadi tampak nyata, disaksikan banyak orang tapi tak satupun menghentikan ketidakadilan itu. Apakah kita sudah tidak punya nyali untuk menghentikan ketidakadilan?
Fenomena ini mengingatkan kita pada bagaimana kekerasan terhadap kelompok luar (out group) seringkali muncul dari kebutuhan untuk diterima dalam kelompok sendiri (in group). Individu dengan kebutuhan tinggi untuk “belonging” dan kepekaan terhadap penolakan, lebih cenderung melakukan tindakan agresif atau tidak adil terhadap orang luar bahkan anak kecil. Tindakan merebut jersey itu bisa jadi lebih dari sekadar impuls; ia adalah simbolik dari dominasi sosial yang kita pilih untuk diabaikan.
Mentalitas Koruptor di Tribun?
Peristiwa ini seakan miniatur praktik korupsi. Yap betul itu potret nyata korupsi dalam bentuk paling telanjang, tanpa dasi, tanpa kursi empuk, tapi dengan semangat yang sama yakni merebut yang bukan haknya. Mematikan kreativitas dan harapan anak yang datang dengan niat, harapan dan tulisan penuh cinta.
Sedari dini disingkirkan oleh ego dewasa mengambil kesempatan dalam kesempitan, dengan dalih “siapa cepat dia dapat”. Berlaku tidak adil kepada yang lemah karena tahu tak ada yang berani memberhentikan, menghalangi tuk menegur dan sebatas menyoraki atau bisa jadi terlambat mengetahui kejadian. Bisa saja dalam opini ini disebut cermin mentalitas koruptif dalam skala mikro.
Apa Kata Ilmu Saraf? Otak Fanatik Bekerja Berbeda
Penelitian Bilgiç et al. (2020), menunjukkan bahwa fanatik sepak bola memiliki pola aktivasi otak yang berbeda dibanding penonton biasa, terutama di area dorsal anterior cingulate cortex (dACC), yang terlibat dalam pemrosesan emosi, motivasi, dan pengambilan keputusan. Saat menyaksikan momen emosional, seperti gol tim favorit atau rival, fanatik menunjukkan aktivasi yang lebih tinggi di wilayah otak ini.
Aktivasi ini sejalan dengan keterlibatan dACC dalam bentuk cinta non-romantis seperti tribal love. Temuan ini mengindikasikan bahwa keterikatan emosional tinggi terhadap tim dapat memicu reaksi yang kuat dan terkadang sulit dikendalikan, yang mungkin menjelaskan perilaku fanatik yang ekstrem di lapangan
Stadion sebagai Miniatur Masyarakat
Dalam konteks global, studi Cleland et al. (2024) menunjukkan bahwa perilaku rasis di stadion tidak bisa dilepaskan dari sistem nilai yang tertanam sejak kecil. Menggunakan konsep habitus dari Pierre Bourdieu, studi ini menjelaskan bahwa sebagian penonton membawa nilai-nilai sosial dari masyarakatnya seperti perebutan jersey dari pemain menuju tribun penonton, dan mengaktualisasikannya lewat bahasa, sikap, dan tindakan diskriminatif terhadap kelompok/orang lain.
Refleksi: Siapa Kita Saat Mendukung? Dukungan atau Dominasi?
Apakah kita hadir di stadion untuk menyemai semangat atau menyulut keserakahan? Apakah tribun kita pancarkan cinta pada permainan atau justru jadi panggung ego yang bertepuk sebelah tangan?
Mari bertanya pada Diri
Apakah kita ingin anak-anak kita tumbuh percaya bahwa niat tulus akan sampai atau belajar bahwa suara kecil selalu dikalahkan oleh tangan yang lebih cepat dan tanpa malu? Apakah kita ingin membentuk generasi yang percaya bahwa keadilan bisa diraih atau justru menanamkan pelajaran pahit bahwa kebaikan bisa dikalahkan oleh kelicikan? Ketika satu tindakan mencuri harapan kecil, satu generasi belajar bahwa yang licik bisa menang di atas yang jujur.
Dalam olahraga peristiwa perebutan jersey setelah pertandingan selesai bukanlah kejadian satu-dua kali. Konteks ini jauh melampaui itu, ketika niat dan rencana harapan dilakukan sebelum permainan dimulai. Jika dibiarkan praktik ini perlahan akan dianggap wajar bahkan dibenarkan oleh masyarakat. Stadion adalah ruang publik, bukan ruang tanpa etika. Ia bisa menjadi cermin bangsa tempat nilai, moral, dan watak masyarakat terpancar nyata.
Jersey yang direbut itu mungkin hanya jahit kain. Anak itu mungkin juga hanya sekedar subjek. Namun bagi sebagian orang mungkin saja, Ia adalah lambang harapan, simbol perjuangan kaum marhaen, cerminan keadilan yang seharusnya ditegakkan, dan pancaran masa depan yang layak diraih. Anak itu bukan sekadar penonton.
Ia mewakili generasi yang percaya bahwa sportivitas dan ketulusan masih memiliki tempat di negeri dengan 1.340 suku bangsa, yang menjadi cermin kekayaan, keberagaman, sekaligus harapan terbesar dunia. Maka saat harapannya direnggut, yang tercabik bukan hanya mimpi melainkan juga nurani ibu pertiwi!
Jika keadilan tak mampu ditegakkan di stadion, bagaimana mungkin kita berharap keadilan tumbuh di negeri ini? Kita selalu punya pilihan—menjadi penonton yang menjunjung nurani, atau sekadar massa yang kehilangan kendali. Hari ini yang direbut adalah jersey. Besok bisa jadi hati nurani. Bisa juga akal budi. Atau malah keduanya?