• Latest
  • Trending
  • All
  • Pariwisata
  • Uncategorized
  • Nasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Bali
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Travel
  • Hukum
  • Olahraga
  • Peristiwa
  • Kesehatan
  • Edukasi
Kristiana Aurel Alua

Luka Diam Perempuan Timur

1 tahun ago
Bappeda Badung Gelar Rakor Percepatan Penanganan Stunting Tahun 2026, Perkuat Intervensi dari Hulu

Angka Stunting Badung Naik, Pemkab Perkuat Deteksi dari Hulu

4 jam ago
I Made Ariel Suardana (tengah) dan tim hukum I Made Daging lainnya di Propam Polda Bali. -BALITOPIK.COM

Ariel Suardana Minta Propam Usut Dugaan Penghalangan Laporan Made Daging

8 jam ago
Herman Umbu Billy. -BALITOPIK.COM

Umbu Billy Putera Sumba Dipercaya Jadi Dewan Pakar Gekrafs Bali

9 jam ago
Gubernur Bali dan jajajaran saat menerima dialog perwakilan mahasiswa dan buruh terkait kenaikan upah 2027. -BALITOPIK.COM

Koster Ungkap Proyeksi Upah 2027: Badung Tembus Rp4 Jutaan

13 jam ago
Gubernur Bali Wayan Koster saat menemui massa aksi di Lapangan Renon, Denpasar. -BALITOPIK.COM

Temui Buruh Tuntut UMP Bali Rp5,2 Juta, Koster Janji Akan Lakukan yang Terbaik

1 hari ago
Kepala Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker) Badung, Drs. Anak Agung Ngurah Rai Yuda Darma. -IST

Pengangguran di Badung Turun Jadi 1,57 Persen, 601 Tenaga Kerja Terserap ke Luar Negeri

1 hari ago
Kelian Subak Puluai,Desa Peninjoan, Kecamatan Tembuku, Bangli Ketut Sirka dan pegiat antikorupsi Gede Angastia saat meninjau lokasi subak. -IST

Petani Ungkap Kejanggalan Proyek Irigasi Rp137 Miliar di Bangli

1 hari ago
Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat KMHDI, I Nengah Candra Irawana

KMHDI ingatkan lahan bekas karhutla jangan jadi perkebunan sawit oligarki

2 hari ago
  • Home
  • Bali
    • Peristiwa
    • Travel
  • Nasional
    • Politik
    • Pendidikan
    • Hukum
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Opini
  • Teknologi
  • Lifestyle
    • Entertainment
  • World
No Result
View All Result
  • Login
Login Sign Up
No Result
View All Result
No Result
View All Result

Luka Diam Perempuan Timur

Kuat Tapi Tak Punya Ruang Untuk Diri Sendiri

Reporter balitopik.com
4 Juli 2025 - 8:57 am
Kristiana Aurel Alua

Kristiana Aurel Alua

Penulis: Kristiana Aurel Alua

Balitopik.com – Ada luka yang tidak tertulis di kartu keluarga, luka yang juga tidak dikenali oleh hukum, tak tampak oleh kamera, tapi menempel kuat dalam napas dan tubuh manusia. Bukan luka fisik yang bisa dijahit oleh dokter, tapi luka yang menjalar lewat bisikan antar generasi.

Luka itu diwariskan bukan lewat DNA, tapi lewat pola diam, pola tunduk, dan pola menahan. Luka yang hadir lewat cara mencintai searah yang tak pernah bertanya balik, “Bagaimana dengan aku?” Luka yang kemudian hadir dalam cara hidup yang terus melayani, bahkan saat tubuh memohon istirahat.

Luka itu diam, tapi terus hidup. Ia menetap dari Rahim ke rahim, di tulang belakang, di dada yang sesak tapi tetap tegak. Ia bergerak dari leluhur ke garis perempuan dalam keluarga, bukan sebagai pilihan, tapi sebagai warisan budaya yang tak pernah ditanya setuju atau tidak untuk memiliki nya.

Di tanah Manggarai, Papua, dan berbagai wilayah Indonesia Timur, perempuan dikenal kuat. Tapi kekuatan mereka bukan hasil pelatihan atau pilihan bebas. Itu adalah bentuk bertahan hidup dalam sistem yang tak memberi ruang untuk rapuh, modernnya perempuan timur sering kali hidup dalam survival mode kondisi dimana perempuan sulit diberikan ruang untuk rilex dan menikmati hidup.

Para perempuan itu menyusui dengan airmata yang disembunyikan, memasak dengan tubuh lelah yang terus dipaksa tegak, dan terus melayani meski hatinya sendiri kosong.

Mereka tentunya tidak diajari berkata “tidak,” juga tidak diajari memilih dirinya sendiri.

Mereka tak pernah diberi izin untuk merasa cukup hanya dengan menjadi manusia.

Kristiana Aurel Alua
Kristiana Aurel Alua

Dalam tradisi yang mengagungkan pengabdian perempuan tanpa syarat, kata “Aku lelah” dianggap kelemahan. “Tidak bisa” dianggap pembangkangan. “Boleh aku sendiri dulu?” dianggap keterlaluan.

Kemudian, tradisi juga menganggap bahwa perempuan yang bicara terlalu banyak disebut keras kepala. Perempuan yang menangis disebut manja. Dan perempuan yang memilih dirinyas sendiri disebut egois.Namun, Perempuan yang diam… itulah yang paling diterima. Dan dalam diam itu, luka tinggal.

Tubuh mulai bicara saat jiwa dibungkam terlalu lama. Nyeri tanpa sebab medis, lelah yang tak bisa diobati dengan tidur, gangguan hormon, autoimun, miom, tumor, hingga kanker, semuanya kadang punya akar yang jauh lebih dalam dari sekadar biologi. Mereka adalah suara tubuh yang menjerit karena terlalu lama tidak didengar.

Karena tubuh menyimpan ketakutan yang tidak boleh diucap – kemarahan yang ditekan demi sopan santun – kesedihan yang dikubur agar tidak dianggap lemah.

Semua itu menjadi luka diam yang berakar dalam. Dan akar itu tumbuh, melingkari kehidupan generasi berikutnya. Perempuan menjadi saksi dan pewaris luka yang bukan miliknya.

Tapi zaman bergeser, dan kesadaran mulai tumbuh dari tubuh-tubuh yang kelelahan. Disitulah hadir perempuan-perempuan yang bangun, yang mulai bertanya “Kenapa aku harus terus diam?”, “Mengapa aku harus mengulang luka yang bukan milikku?” dan “Apakah benar menjadi perempuan berarti harus kehilangan diri sendiri?”

Mereka bukan pemberontak. Mereka adalah penjaga gerbang penyembuhan. Perempuan yang mulai memberi ruang bagi air mata, bagi rasa marah, dan bagi istirahat.

Yang mulai memeluk dirinya dengan hangat yang dulu tidak pernah diberikan oleh ibunya, neneknya, atau garis keturunan dan leluhur perempuannya.

Mereka yang berkata, “Aku juga penting. Aku juga pantas dimengerti.”

Cinta, mereka pelajari ulang.

Bahwa cinta bukan hanya memberi, tapi juga menjaga batas.

Bahwa merawat diri sendiri bukan dosa, tapi tanggung jawab.

Bahwa menjadi perempuan bukan berarti menghilangkan identitas dan keinginan.

Dan mungkin, hanya mungkin, di tangan-tangan perempuan yang sadar ini, luka yang diwariskan turun-temurun bisa berhenti.

Bukan karena mereka lebih kuat, tapi karena mereka lebih sadar.

Kesadaran itulah awal penyembuhan.

Kesadaran untuk berkata:

“Cukup.”

“Aku layak dicintai.”

“Aku layak dihargai tanpa harus kehilangan diriku sendiri.”

Mereka adalah titik balik. Mereka adalah mata rantai yang berkata:

“Sampai sini saja. Luka ini tidak akan kuteruskan.”

Dan dengan keberanian itu, garis keturunan perempuan bisa bernapas lega untuk pertama kalinya. (*)

Tags: Kristiana Aurel AluaLukaPerempuanPerempuan TimurTradisi Timur
SendShareShareSend

Media Social

Facebook Instagram TikTok YouTube Chat WhatsApp

TOPIK MEDIA GROUP

  • Blog
  • Box Redaksi
  • Elementor #10692
  • Home
  • kebijakan privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Syarat dan ketentuan

Recent Posts

  • Angka Stunting Badung Naik, Pemkab Perkuat Deteksi dari Hulu
  • Ariel Suardana Minta Propam Usut Dugaan Penghalangan Laporan Made Daging
  • Umbu Billy Putera Sumba Dipercaya Jadi Dewan Pakar Gekrafs Bali
No Result
View All Result
  • Home
  • Politik
  • Hukum
  • Bali
  • Opini
  • Lifestyle
  • Nasional
  • Internasional

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist