Balitopik.com – Organisasi Pemuda Duta Damai Bali merasa prihatin terhadap banyaknya kasus bunuh diri atau dalam bahasa Bali ulah pati yang terjadi belakangan ini.
Ketua Duta Damai Bali, I Dewa Gede Darma Permana mengatakan kasus bunuh di Bali mesti mendapat perhatian semua pihak. Mengingat ulah pati dapat diidentifikasi akibat tekanan psikologis dan traumatik mental yang disebabkan permasalahan ekonomi dan sosial.
Misalnya kasus-kasus ulah pati yang terjadi di Jembatan Tukad Bangkung, Badung menyadarkan kita bahwa begitu banyak warga mengalami tekanan psikologis yang disebabkan berbagai faktor.
Kini banyak pihak mendesak agar jembatan angker tersebut dipasang CCTV dan pos penjagaan untuk mencegah bunuh diri. Hal itu telah disikapi Pemkab Badung dengan menyiapkan anggaran puluhan miliar untuk memasang CCTV sebagai upaya pengamanan di wilayah Badung termasuk di Jembatan Tukad Bangkung.
Dewa memandang langkah itu baik adanya, namun tidak menyentuh akar permasalahan. Pemasangan CCTV di Jembatan Tukad Bangkung hanya mencegah di hilir, bukan mengobati dari hulu. Pihaknya menyarankan agar adanya konseling ekstra di berbagai cakupan ranah dan dilakukan secara intensif.
“Selama ini, konseling selalu identik dengan pendampingan Guru BK yang hanya ada di lingkup sekolah atau formal. Kita harus adopsi sistem tersebut, konseling ekstra adalah wadah bimbingan dan pendampingan dengan cakupan lebih luas seperti di keluarga dan masyarakat,” kata Dewa kepada Bali Topik, Sabtu (5/4/2025).
Ketua Pimpinan Cabang Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma (PC KMHDI) Kota Denpasar ini menjelaskan ruang konseling ekstra tersebut bisa dibuka dan dilakukan secara rutin setiap minggu di setiap ranah kehidupan. Tidak hanya mencakup lingkungan formal, namun juga mengarah kepada wilayah informal dan nonformal.
Dewa menyadari solusinya ini perlu mendapat dorongan dan dukungan dari berbagai pihak. Mulai dari pemerintah, pemuda, mahasiswa, psikolog, guru, keluarga hingga masyarakat. Pihak-pihak ini perlu bergandengan untuk memahami dan menerapkan self love atau konsep mencintai diri sendiri dalam kehidupan bermasyarakat.
“Kami di Duta Damai Bali sesungguhnya cukup intens membuka ruang curhat baik lewat grup atau personal untuk sesama anggota yang menghadapi permasalahan. Namun untuk menjalankan konseling ekstra ini secara lebih holistik, tentu perlu dukungan dari berbagai stakeholder, baik itu pemerintah, pemuda, mahasiswa di bidang psikologi, pendidikan, psikolog, guru, serta keluarga dan masyarakat,” ucap Dewa.
“Dengan demikian, keluh kesah cerita dan tekanan yang dirasakan oleh setiap pihak, mulai dari anak-anak, remaja, hingga dewasa bisa tercurahkan secara lebih rutin, luas, dan intensif,” tandasnya. (*)