BALITOPIK.COM, BADUNG – Setelah dua tahun tidak digelar, Festival Seni dan Budaya Kabupaten Badung kembali hadir. Festival yang memasuki penyelenggaraan ke-15 ini berlangsung selama 13 hari, mulai 4 hingga 16 November 2026 di Balai Budaya Giri Nata Mandala, Puspem Badung.
Kembalinya festival ini menjadi kesempatan bagi para seniman untuk kembali menunjukkan kreativitas sekaligus menjaga agar seni dan budaya daerah tetap hidup di tengah masyarakat.
Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung, I Gede Sukadana, mengatakan festival tahun ini sudah lama dinantikan para seniman. Sebab, selama dua tahun terakhir tidak ada kegiatan besar serupa yang menjadi ruang bagi mereka untuk tampil dan berkreasi.
“Ini merupakan kegiatan yang didasari rasa kangen dari seniman-seniman kita di Kabupaten Badung. Mengingat sudah dua tahun kita vakum tidak melaksanakan event besar dalam upaya menggali dan melestarikan seni budaya melalui festival,” ujar Sukadana, Rabu (4/11/2026).
Menariknya, festival kali ini tidak hanya melibatkan seniman dari Badung. Peserta dari luar daerah bahkan luar Bali juga ikut ambil bagian. Di antaranya berasal dari Bandung, Sumatera, hingga DKI Jakarta yang mengikuti sejumlah agenda, termasuk Lomba Bapang Barong kategori umum.
Menurut Sukadana, keterlibatan peserta dari berbagai daerah diharapkan membuka ruang pertemuan antarseniman sekaligus memperkaya ragam pertunjukan yang ditampilkan selama festival.
Sejumlah kesenian tradisional turut mengisi agenda selama 13 hari tersebut. Mulai dari Lomba Tari Telek Bebadungan, Parade Gong Kebyar Anak-anak, Gong Kebyar Dewasa, Gong Kebyar Wanita, hingga Lomba Bapang Barong.
Lomba Baleganjur juga menjadi salah satu agenda yang menarik perhatian. Perlombaan ini dibagi dalam tiga kategori, yakni anak-anak, remaja, dan umum.
Dinas Kebudayaan Badung memperkirakan sekitar 1.925 seniman akan terlibat dalam seluruh rangkaian kegiatan. Jumlah tersebut masih berpeluang bertambah.
Sukadana juga menyampaikan terima kasih atas dukungan Bupati Badung, Wakil Bupati, Sekretaris Daerah, serta DPRD Badung sehingga festival kembali dapat diselenggarakan.
Ia menegaskan, kegiatan ini bukan sekadar panggung pertunjukan atau perlombaan. Lebih dari itu, festival menjadi salah satu cara untuk menjaga warisan budaya leluhur agar tetap dikenal dan diteruskan kepada generasi berikutnya.
“Ini juga menjadi bentuk tanggung jawab kita kepada generasi penerus agar budaya yang kita miliki saat ini dapat diwariskan kepada generasi mendatang,” pungkasnya. (*)









