BALITOPIK.COM, DENPASAR – Gubernur Bali Wayan Koster menunjukkan sikap terbuka terhadap kritik dengan menerima langsung aspirasi mahasiswa dalam dialog bersama Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Udayana, Rabu (22/4/2026).
Dialog yang digelar di Wantilan DPRD Bali itu dihadiri ratusan mahasiswa serta sejumlah pejabat daerah. Dalam forum tersebut, mahasiswa secara lugas menyoroti persoalan sampah di Bali yang dinilai belum tertangani secara optimal, mulai dari lemahnya sistem pengelolaan hingga minimnya fasilitas dan penegakan hukum.
Koster tidak menampik berbagai kritik tersebut. Ia bahkan mengakui bahwa persoalan sampah di Bali sudah berada pada titik serius.
“Adik-adik menuntut agar ini cepat selesai, saya juga ingin cepat selesai. Tidak ada yang mau membiarkan situasi ini,” tegasnya.
Menurutnya, persoalan sampah di Bali tidak bisa dilepaskan dari sistem yang selama ini masih bergantung pada pola kumpul-angkut-buang. Padahal, pendekatan yang ideal adalah pengelolaan berbasis sumber.
Sejak periode pertamanya, Koster telah mengeluarkan sejumlah regulasi penting, termasuk pembatasan plastik sekali pakai dan pengelolaan sampah berbasis sumber. Namun, implementasinya sempat terhambat pandemi COVID-19.
Saat ini, upaya kembali digencarkan. Pemerintah mendorong pemilahan sampah dari rumah tangga, desa, hingga sektor usaha. Hasilnya mulai terlihat, dengan sekitar 70 persen warga di Denpasar dan Badung sudah memilah sampah.
Meski begitu, beban terbesar masih ditanggung TPA Suwung. Setiap hari, Denpasar menghasilkan lebih dari 1.000 ton sampah, sementara Badung sekitar 800 ton. Sampah yang terus menumpuk sejak 1984 kini mencapai ketinggian 45 meter.
Kondisi tersebut memicu berbagai dampak lingkungan serius, mulai dari pencemaran air, gangguan kesehatan, hingga polusi laut.
“Saya paham semua yang disampaikan. Dampaknya nyata dan harus segera diselesaikan,” ujar Koster.
Sebagai solusi jangka panjang, pemerintah tengah menyiapkan proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL). Proyek ini ditargetkan mulai dibangun pada Juli 2026 dan beroperasi pada akhir 2027.
Selain itu, pemerintah daerah juga mengoptimalkan TPS3R dan TPST serta mendorong penggunaan komposter dan teba modern di tingkat masyarakat.
Koster juga memastikan bahwa lahan TPA Suwung ke depan tidak akan dikomersialkan.
“Tidak ada niat bangun mall atau fasilitas pariwisata. Ini akan jadi ruang terbuka hijau untuk masyarakat,” tegasnya.
Di akhir dialog, Koster bahkan menyampaikan permintaan maaf jika selama ini terjadi kekurangan komunikasi.
“Kalau ada yang dianggap sebagai kegagalan komunikasi, saya mohon maaf. Kritik ini penting untuk saya memperbaiki diri,” ucapnya.
Sementara itu, Ketua BEM Unud, I Gusti Agung Ngurah Oka Paramahamsa, mengapresiasi sikap terbuka gubernur dan menegaskan bahwa penyelesaian masalah sampah harus dilakukan bersama. (*)









